Bab 4
HARI YANG BARU, RENCANA YANG
BARU.
Aku sudah
mulai mendapat satu titik terang dari semua misteri ini. Memang masih ada satu
keping puzzle yang hilang, tapi lambat laun aku pasti bisa menemukannya. Aku
bisa membayangkan diriku sebagai seorang detektif misteri, memecahkan segala
macam misteri yang menyangkut tentang hantu atau apapun itu jenisnya.
Semenit di
sekolah sama dengan satu jam bagiku. Hari ini semua pelajarannya membosankan!
Tiara nggak masuk sekolah karena harus pergi check up ke dokter. Entah apa
penyakitnya, aku pun nggak tahu dan aku juga nggak mau tahu. Trio Truk Gandeng
nggak mengangguku untuk kali ini karena mereka sibuk mempersiapkan acara mereka
sendiri untuk ulang tahun sekolah nanti. Anak kelas enam juga sudah mulai
mengikuti bimbingan belajar yang diadakan di sekolah jadi otomatis Trio Truk
Gandeng nggak bisa banyak-banyak bersantai.
Hantu Clara
rasa-rasanya sudah menjadi bagian dari kelas kami saja, walau cuma aku yang
menyadari dia berada di sekitar kami. Dia ikut belajar dan mendengarkan guru
menerangkan dan ikut-ikut tertawa kalau ada murid yang dimarahi guru karena
nggak bisa mengerjakan soal. Semenjak dia berada di kelas kami, banyak murid
yang terjatuh dengan sendirinya, entah karena bangkunya ditarik Clara atau dia
sengaja mendorongnya atau dengan cara lainnya. Banyak anak yang mengeluh dan
mengatakan kepada wali kelas kami bahwa mungkin kelas kami berhantu dan wali
kelas kami hanya bisa menjawab bahwa nggak ada hantu di kelas dan mungkin juga
menertawakan kami dalam hati.
Pulang
sekolah, hal yang sangat kutunggu-tunggu sedari tadi. Seperti biasa, Ibuku
menjemputku dan kami memulai percakapan mengenai hal-hal apa saja yang terjadi
sehari itu. Ibuku mengajakku ke mall, tapi aku menolak dengan alasan aku banyak
PR yang harus diselesaikan. Sebenarnya alasanku menolak ajakan itu karena aku
akan menyusuri gudang dengan Clara untuk menemukan petunjuk sekecil apapun
tentang keberadaan hantu Claudia.
Sesampainya di
rumah aku langsung berlari ke kamar. Di kamar, aku segera berganti baju dan
nggak sabar lagi untuk segera membongkar gudang. Clara kayaknya juga senang,
tapi sepertinya ada sesuatu yang disembunyikannya. Aku mendengar suara Paman
Bibir Tebal yang datang untuk memberitahu Ibu bahwa akan ada acara syukuran di
rumah Pak Samsudin nanti malam.
“Sudah siap
nggak? Kelihatannya kau bersemangat sekali.” Clara mengulurkan tangannya.
Aku
mengangguk. “Tentu dong! Ayo kita pergi!” aku menerima uluran tangan Clara dan
seperti biasa hanya dalam waktu beberapa detik saja kami sudah sampai di tempat
tujuan.
Aku langsung
batuk-batuk. “Debunya lebih tebal dari terakhir aku ke sini!” ujarku di
sela-sela batuk. “Dan udaranya juga jauh lebih pengap.”
“Namanya juga
gudang yang jarang dibersihkan,” ucap Clara santai. Dia mulai melayang-layang
di udara. “Sebaiknya kau segera memeriksa semuanya sebelum Ibumu memeriksa
kamarmu.”
“Tanpa disuruh
pun aku juga sudah tahu.” Aku segera menyingkirkan kain-kain putih yang
menutupi semua benda yang ada di gudang. Pertama, aku menemukan cermin tua
dengan kaca yang sudah retak-retak. Kemudian aku menemukan sebuah meja belajar.
Kuobrak-abrik laci-laci yang ada di meja tersebut dan hanya menemukan buku-buku
tulis dan cetak milik Claudia. Nggak ada sesuatu yang berarti. Aku periksa lagi
benda-benda yang lain, meja rias, lemari piring, lemari baju, meja kerja (yang
kosong sama sekali), dan terakhir sebuah peti yang kayak peti harta karun. Aku
berusaha membukanya, namun peti itu terkunci. “Clara!” panggilku sambil melihat
sekeliling. “Bisa nggak bantu aku membuka peti terkunci ini?”
Clara yang
masih melayang-layang di udara bagai asap mendatangiku dan hanya dengan
selayang pandang ke peti itu, peti itu terbuka dengan sendirinya. Aku
mengucapkan banyak terima kasih padanya kemudian dia melayang lagi. Kubuka
lebih lebar tutup peti dan langsung terbatuk-batuk lagi. Debu bertebangan di
mukaku! Aku rasa peti ini sudah puluhan tahun ada di sini dan nggak pernah
dibuka-buka. Dengan rasa kesal kuamati apa saja isi dari peti tersebut. Sebuah
belati dengan bulu-bulu berwarna hitam, seperti bulu burung gagak. Lalu ada bungkusan
plastik hitam dan ketika kuangkat bungkusan itu cukup berat dan berbau busuk.
Kubuka ikatannya dan aku langsung menjauh sambil menutup mukaku karena isi dari
bungkusan itu adalah daging busuk dengan banyak belatung. Clara yang sedari
tadi melayang di udara memperhatikanku dan akhirnya menjejak tanah dan
ikut-ikutan melongok ke dalam bungkusan itu. Dia hanya nyengir saja melihatnya.
“Daging burung
heh? Sepertinya burung gagak,” katanya santai. Dia malah melemparkan bungkusan
itu ke arahku dan aku langsung menghindar.
“Darimana kau
tahu itu daging burung gagak?” tanyaku dengan suara parau.
“Karena peti
ini berisi banyak bulu burung gagak, coba kau lihat kemari.” Clara mengeluarkan
dua bungkusan lain dan isinya adalah bulu burung gagak. “Lagian seperti yang
ada di gambar yang terdapat di buku catatan Claudia, dia menggambar burung
gagak yang digantung kan?”
Aku
membetulkan dalam hati. Memang di buku itu ada gambar seperti itu, tapi aku
nggak tahu apa hubungan burung gagak itu. “Apa itu salah satu syarat ritual?”
“Ya, kalau kau
baca dan ingat isi buku tersebut. Tentu gagak adalah salah satu syarat ritual
kuno tersebut. Gagak yang masih hidup, dibunuh, darahnya kemudian diminum dan
dagingnya mereka bakar lalu dimakan. Tulang-tulang gagak tersebut mereka jadikan
koleksi atau disulap menjadi semacam perhiasan seperti kalung atau gelang, dan
bangkai gagak mereka kubur di depan rumah,” jelas Clara panjang lebar. Melihat
dari cara dia menjelaskan, aku jadi berpikir bahwa dia tahu lebih banyak
tentang ritual ini, atau mungkin dia tahu sebenarnya apa yang terjadi di rumah
ini pada masa lampau.
“Kenapa kau
bisa tahu begitu banyak? Kau menghapal isi buku itu ya?” tanyaku penasaran. Aku
jadi mulai curiga bahwa Clara menyembunyikan sesuatu dariku.
“Nggak kok.
Begini, Bianca, kami para hantu selalu ada hubungannya dengan ritual.
Kebanyakan ritual dikhususkan untuk pemujaan dewa, setan, atau hantu dan arwah.
Tentu saja kami tahu banyak mengenai ritual apa saja yang pernah dilakukan
manusia di muka bumi ini. Ritual sudah jadi semacam pelajaran bagi kami para
hantu. Sama sepertimu di sekolah, punya pelajaran sejarah, nah kami juga punya
pelajaran seperti itu, bedanya kami membahas semua hal yang dilakukan manusia
dalam pemujaan kepada sesuatu yang bukan Tuhan, termasuk ritual-ritual.” Dia
mengeluarkan lagi isi dari peti dan menemukan setumpuk berkas yang diikat jadi
satu. “Lihat, apa yang kutemukan.” Dia
membuka tali yang mengikat berkas itu dan meniup debu yang menebal di berkas
tersebut. Sekali tiup, debu itu langsung hilang berterbangan.
Sebenarnya aku
mau menanyakan banyak hal ke Clara, tapi berkas-berkas itu menarik perhatianku.
Aku mendekati Clara dan ikut-ikutan melihat berkas-berkas tersebut. Isi dari
semua berkas itu membuat mataku perih! Semuanya ditulis dalam Bahasa Inggris
dan Latin. Ya ampun, ada apa dengan orang-orang ini? Apa mereka nggak cinta
akan Bahasa Indonesia? Atau pembuatnya adalah orang asing dari luar negeri?
“Apa maksudnya semua ini?”
Clara
menggeleng. “Kayaknya masih lembaran sakramen juga. Tulisannya sama dengan
lembaran sakramen yang kau temukan di kardus.”
Ngomong-ngomong
soal kardus, aku nggak melihatnya sedari tadi. “Oh ya, kardus itu seharusnya
kan ada di pojok gudang. Kenapa sekarang nggak ada?”
“Jelas nggak
ada.” Clara kembali memasukkan semua barang ke dalam peti, “kardus itu telah
dicuri.”
Aku
membelalakkan mata mendengar ucapan Clara. “A, apa maksudmu, su-sudah dicuri?”
tanyaku agak gagap saking terkejutnya.
“Ya dicuri.
Tanpa kita sadari si pencuri ini beraksi lagi dan entah bagaimana dia punya
kunci duplikat gudang.”
Akhirnya kami
nggak menemukan sesuatu yang berarti. Semangatku turun dengan drastis. Nggak
menggebu-gebu lagi seperti sebelumnya. Kardus itu sudah dicuri orang dan aku
sama sekali nggak punya petunjuk mengenai pencurinya. Jadi aku menanyakan
kepada Clara kapan tepatnya kardus itu dicuri.
“Aku nggak
terlalu yakin,” jawabnya dengan murung. Baru kali ini dia nggak yakin dengan
perkataannya sendiri. “Mungkin tiga atau empat hari lalu.”
“Dan kau nggak
berusaha untuk menangkapnya?” tanyaku lagi.
“Untuk apa?
Aku juga nggak tahu kapan persisnya kejadian itu terjadi.” Alangkah pahitnya
bagi Clara untuk mengatakan hal tersebut. Baginya nggak mengetahui apa yang
terjadi di rumah ini dengan tepat adalah suatu hal yang sangat menyakitkan.
“Berarti
pencuri ini hebat juga bisa lolos dari pandanganmu,” sindirku, tapi dalam hati
aku berharap bahwa Clara nggak menangkap kata-kata sindiran itu.
“Tapi aku
benar kan bahwa kardus itu dicuri?”
“Ya sih, tapi
bagaimana kalau kardus itu dibuang oleh Paman Bibir Tebal atau Ibu? Kemungkinan
itu bisa saja kan?”
Clara tampak
berpikir walau aku nggak tahu apa otaknya masih berfungsi. “Ada banyak kardus
dan kotak-kotak nggak berguna di gudang, kenapa paman ini atau Ibumu hanya
membuang kardus itu saja? Lagi pula katamu semua barang yang nggak berguna
hanya akan ditaruh di gudang dan nggak
akan dibuang.”
Rasa-rasanya
aku nggak pernah ngomong kayak gitu pada Clara. Sepertinya aku nggak pernah
bilang bahwa semua barang yang disimpan di gudang nggak akan dibuang. Tapi
ucapan Clara ada benarnya juga. Lagian Ibuku sendiri yang mengunci pintu
gudang. “Aku benar-benar nggak mengerti kenapa kardus itu begitu penting.”
“Bukan
kardusnya, tapi barang-barang yang ada di dalamnya. Kau kan belum melihat semua
isi dalam kardus itu.”
Aku hanya
mengiyakan dan akhirnya beranjak ke kamar mandi.
Malam harinya
Ibu memberitahu bahwa dia akan pergi syukuran ke rumah Pak Samsudin yang
jaraknya cukup dekat dengan rumah kami. Jalan kaki mungkin hanya butuh waktu
lima belas menit, tapi Ibu ke sana dengan mengendarai mobil. Ibu juga
mengajakku ke sana, tapi aku menolak, lagian itu kan juga acara orang tua.
Anak-anak hanya akan jadi penganggu saja. Jadi Ibu meninggalkanku denga
nasihatnya yang sudah sangat basi.
Aku dan Clara
nonton TV di ruang tengah. Ada acara musik di televisi, acara kesukaan Clara.
Karena dia mati tahun 1988, dia sangat buta tentang lagu-lagu zaman sekarang
dan hanya menyenandungkan ‘nananana’ saja sedari tadi. Bagi ukuran hantu, suara
Clara lumayan bagus tapi masih terasa unsur menyeramkannya ketika dia
bernyanyi. Seperti suara nyanyian dari alam kubur.
Ada yang
mengetuk pintu rumah. Aku pergi ke ruang tamu untuk membukanya dan terlihat dua
orang laki-laki berpakaian hitam-hitam. Yang satu mungkin berumur sekitar 45
tahunan dan yang satunya lagi mungkin sekitar 30-an. Entah siapa mereka, yang
jelas mereka aneh. Lelaki yang lebih tua berkata dengan sikap sopan yang
dibuat-buat, “Hallo anak manis. Perkenalkan nama saya Supradi, pengusir hantu
paling top se-Jakarta. Dan ini asisten saya namanya Jalil.” Dia mengeluarkan
sebuah kartu nama dari sakunya dan memberikannya kepadaku.
“Tidak ada
yang memanggil pengusir hantu ke sini,” ujarku ketus kepada mereka. Nggak
mungkin Ibu yang memanggil mereka, karena dia nggak percaya dengan hal-hal
begituan.
Si lelaki tua
bernama Supradi tersenyum dengan sangat terpaksa. “Memang tidak ada yang
memanggil kami ke sini, Cuma saya bisa merasakan adanya arwah-arwah yang masih
bergentayangan di sini. Baunya begitu kuat dan saya juga merasakan adanya
sesuatu dari masa lalu yang masih membekas di sini.” Dia masuk ke rumah tanpa
izin dan asistennya dengan setia mengikutinya. Aku membiarkan mereka dan
membuang kartu nama si Supradi kemudian mengikuti mereka ke dalam.
Clara yang
masih menonton televisi hanya memandang datar saja dengan kehadiran pengusir
hantu yang memandang ke sekeliling ruangan dan kemudian matanya tertuju kepada
Clara yang terlihat santai di sofa. Aku langsung mengigit bibir. “Aku memang
benar. Ada hantu di sini,” kata Supradi dan dia menunjuk Clara dengan sikap menantang,
“hantu anak-anak yang sangat jelek, Jalil! Wahai kau hantu ,apa yang sebenarnya
kau inginkan dengan menghantui rumah ini?”
Clara hanya
nyengir. Dia memutar kepalanya sampai 360 derajat. “Memangnya kau pikir kau
siapa bisa mengusirku?” tantang Clara tak mau kalah.
“Aku adalah
pengusir hantu yang akan mengirimmu ke alam baka! Kau akan bernasib sama dengan
hantu seusiamu yang menunggu sebuah kamar di penginapan. Sekarang dia sudah
terbang ke alam baka!” Supradi tertawa keras-keras, merasa bangga akan dirinya
sendiri. Sementara itu Jalil hanya tersenyum kecil saja.
Tunggu dulu!
Hantu seusia Clara yang menunggu kamar di sebuah penginapan? Apa mungkin itu
Lanina, sahabat teman hantuku yang pernah dia ceritakan? Kalau nggak salah dia
pernah bilang bahwa ada pengusir hantu yang berhasil membuat Lanina pergi ke
alam baka. Atau mungkin si Supradi ini berbicara tentang hantu anak-anak yang
lain?
“Coba saja
kalau berani!” Clara sama sekali nggak
takut dengan ancaman pengusir hantu itu. Tiba-tiba kegelapan melingkupi
seluruh ruangan. Hal sama yang pernah terjadi ketika Clara pertama kali
menampakkan wujudnya di depanku. Dia bisa menciptakan kegelapan yang sangat
pekat.
Aku sama
sekali nggak bisa melihat apapun namun secercah cahaya kecil di depanku
membuatku mendekat ke sana. Kemudian terdengar suara Supradi, “Untung kita
sudah bawa persediaan lilin. Aku yakin bahwa hantu anak ini bukan hantu biasa.”
Ternyata cahaya itu berasal dari lilin yang dipegang oleh Jalil.
“Tapi Sup…,
maksudku paman! Saya rasa Anda nggak perlu melawan hantu itu! Sepertinya dia
baik!” ujarku kepada pengusir hantu itu walaupun aku yakin nggak bakalan ada
gunanya.
“Hantu seperti
anak itu mana ada yang baik? Kau nggak lihat wajahnya yang menyeramkan? Bola
matanya hanya satu dan semua tubuhnya dipenuhi luka. Kita harus…” ucapannya
terhenti karena lilin yang dipegang Jalil terlempar dan menyebabkan apinya
padam. Suasana kembali gelap lagi. “Sial! Aku nggak bisa membaca buku
pengusiran hantuku dalam keadaan gelap begini. Jalil, hidupkan lilin yang lain!”
perintah si Supradi. Aku hanya diam saja walaupun kami semua tahu pelaku
pelemparan lilin tadi adalah Clara.
“Wah Bos,
semua persediaan lilin kita sudah nggak ada lagi,” ujar Jalil untuk pertama
kalinya. Bisa kurasakan bahwa suaranya gemetaran. Entah takut akan kena marah
atau takut dengan kegelapan ini.
“Pasti si anak
hantu itu yang mengambilnya dan eh…,” ucapan si Supradi terpotong lagi karena
Clara mengambil paksa buku pengusiran hantu dari dekapannya. “Kembali kan
bukuku!” teriaknya sia-sia di kegelapan pekat ini.
Kami bisa
mendengar suara kertas yang disobek-sobek sebelum kegelapan sirna dan
potongan-potongan kertas jatuh menimpa tubuh dua lelaki pengusir hantu itu.
Potongan-potongan kertas dari buku pengusir hantu si Supradi. Di saat kami
masih tertegun dengan apa yang terjadi (atau lebih tepatnya mereka berdua yang
tertegun), Ibu masuk ke ruang tengah sembari ngomong, “Bianca kenapa pintu
depan nggak ditutup?” dia terkejut melihat dua orang asing berada di dalam
rumahnya. “Kalian membuat sampah!” maki Ibuku yang ternyata memperhatikan hal
yang nggak penting itu.
Si Supradi
yang tadi terbengong segera sadar. Dengan susah payah dia menjelaskan ke Ibu,
“Sebentar Bu, semua ini bisa saya jelaskan.”
Ibuku nggak
mau mendengar alasan apa pun saat ini. “Kalian membuat sampah! Pergi dari sini
dan pungut semua sampah itu sebelum saya telpon polisi!” ancam Ibuku sembari
mengeluarkan HP dari dalam tas tangannya.
“Baiklah,
baiklah!” si Supradi dan asistennya menurut dan dengan perasaan enggan mereka
memunguti sobekan buku pengusir hantu mereka sendiri. Setelah selesai, mereka
pun pamit pulang.
Ibuku segera
mengistirahatkan tubuhnya di sofa yang sebenarnya sedang diduduki Clara. Karena
Clara hantu, tubuh Ibu menembus tubuhnya. Namun Clara nggak memprotes atau
marah atau melakukan tindakan gila kepadanya. Aku bertanya kepada Ibu kenapa
dia pulang begitu cepat dan dia menjawab bahwa dia lupa membawa kunci kamarnya
dan bermaksud untuk mengambilnya. Namun, ketika sampai di rumah, dia menemukan
pintu terbuka dan dia segera masuk ke dalam. Di dalam, dia lebih terkejut lagi
melihat dua orang asing. Tapi yang benar-benar membuat shock dirinya adalah dua
orang asing itu sudah membuang sampah di dalam rumah. Bagi Ibu, kebersihan
rumah adalah hal yang paling utama sehingga nggak heran kenapa dia berbuat
begitu kepada dua pengusir hantu itu.
“Mereka itu
sebenarnya pengusir hantu.” Aku terangkan kenapa mereka bisa ada di dalam
rumah. Tentu saja aku nggak menyebut-nyebut soal Clara dan berbohong bahwa
kedua orang itulah yang dengan sengaja menyobek-nyobek kertas di dalam rumah
bukan Clara. Mendengar ceritaku Ibu hanya mendengus kesal.
“Dasar orang
gila!” umpat Ibuku kesal. “Uh, kalau sudah begini Ibu jadi nggak punya
keinginan untuk pergi lagi ke rumah Pak Samsudin.” Ibu beranjak dari sofa dan
berjalan menuju dapur. “Coba kita lihat apakah kita masih punya persediaan
mie.”
Latihan drama
kedua kami berjalan hampir sama dengan latihan drama yang pertama. Ulang tahun
sekolah tinggal dua minggu lagi dan kami semakin giat berlatih. Aku dan lima
belas orang lainnya ditambah Clara yang nyumpel di kelompok penyanyi berlatih
untuk terus menyamakan suara vokal kami dan menghapal lagu-lagu dan
gerakan-gerakan untuk drama musikal ini. Dan Clara benar-benar bersemangat
untuk latihan. Seandainya saja dia masih hidup sekarang, mungkin dia bakal jadi
murid kesayangannya Pak Rony.
Georgia masih
susah menghapal beberapa dialog panjang karena bahasa Indonesianya masih belum
terlalu bagus. Tiara masih mempertahankan akting bagusnya sebagai Ibu tiri
Putri Salju sampai jadi nenek-nenek yang memberikan apel kepada Putri Salju.
Tujuh anak laki-laki yang jadi kurcaci harus belajar bagaimana berjalan dengan
lutut mereka supaya menampilkan kesan kurcaci yang identik dengan orang kerdil.
Sewaktu
istirahat Tiara menghampiriku. Aku agak kaget ketika dia mengulurkan tangannya
kepadaku mengajak bersalaman. “Buat apa?” tanyaku sangsi kepada Tiara.
“Buat apa?”
Tiara memutar bola matanya, “ya salamanlah! Sebagai tanda perdamaian!” dia
mengambil secara paksa tanganku untuk bersalaman dengan tangannya.
Aku masih
terbengong mendengar ucapannya ketika dia mulai bersuara lagi, “Eh,
ngomong-ngomong aku sering melihatmu duduk-duduk di bangku taman sendirian.
Namun rasanya ada yang aneh. Kau seperti berbicara dengan seseorang, tapi
seseorang itu nggak ada di sana. Kau seperti berbicara sendiri.”
Perkataan
Tiara yang kedua ini hanya membuat aku tambah terbengong. Jadi selama ini Tiara
memperhatikanku dari kejauhan? Dia melihatku seperti berbicara sendiri? Dia
nggak bisa melihat Clara tentu saja. Aku benar-benar bakalan di cap orang gila.
“Dan kejadian
aneh di kelas kita dimana anak-anak sering terjatuh dengan sendirinya, di
antara kami semua, hanya kau yang nggak pernah mengalaminya. Hanya kau yang
nggak kehilangan barang-barang di kelas. Pasti ada sesuatu.” Dia menatapku
dengan pandangan menyelidik. “Bianca, jangan-jangan kau bisa melihat dan
berkomunikasi dengan hantu? Atau kau malah berteman dengan hantu?”
Tepat sasaran!
Perkataannya tepat sasaran! Lalu apa yang harus kukatakan? Aku bisa melihat
dari sudut mataku tampang nggak peduli Clara. Aku hanya bisa memaki dalam hati.
“Nggak, nggak mungkinlah.” Aku berusaha tertawa, tapi suara tawaku terdengar
aneh. Anak umur dua tahun pun juga bakal tahu bahwa aku sedang gugup.
Tiara memasang
tampang menyelidik lagi. “Kalau kau nggak mau ngomong, juga nggak apa-apa.
Lagian aku hanya ingin tahu.” Setelah mengatakan itu, dia pergi ke tempat
teman-temannya.
“Kenapa kau
nggak bilang saja kepadanya?” tanya Clara yang berada di sampingku. “Kalau kau
bilang, maka dia dan semua anak bakalan takut kepadamu dan mungkin kau bisa
merekomendasikanku kepada guru kesenianmu itu untuk bisa menjadi salah satu
anggota paduan suara kalian.” Dia mengakhiri kalimatnya dengan tawa kecil.
Aku nggak
menanggapi perkataan Clara. Kalau aku bilang yang sejujurnya, mereka mungkin
memang akan takut kepadaku, tapi itu juga otomatis membuatku nggak punya teman
lagi karena mereka berpikir mungkin akan berbahaya apabila berteman denganku.
Dan lagian untuk apa Clara ingin direkomendasikan untuk menjadi anggota
kelompok menyanyi kami? Dia hantu, semua orang nggak bakalan ada yang mau
menyaksikan seorang hantu dengan tampang menyeramkan menyanyi.
Keesokan
paginya, ada kejadian yang sangat mengejutkan! Lembaran sakramen yang aku
simpan di laci meja belajar hilang! Aku sudah mencari lembaran itu kemana-mana
namun hasilnya nihil. Aku pun sudah bertanya kepada Ibu, mungkin dia
mengotak-atik kamarku dan menemukan lembaran itu lalu membuangnya. Tapi Ibuku
sama sekali nggak merasa bahwa dia pernah membuang benda itu. Dia malah
berpikir bahwa aku yang membuangnya.
“Hilang!
Kenapa lembaran itu bisa hilang?” tanyaku frustasi kepada Clara yang
merenggangkan tubuhnya di atas tempat tidur.
“Kalau begitu
lembaran itu bukan hilang, tapi dicuri,” jawab Clara tenang. “Kan aku sudah
pernah bilang padamu bahwa lembaran itu sangat penting.”
Setelah aku
merasa bisa berpikir jernih lagi aku baru teringat bahwa Clara memang pernah
mengatakan hal itu. Tapi aku tak pernah berpikir bahwa dia akan mendatangi
kamarku! Darimana dia masuk? Apa dari jendela? Dia pasti masuk ketika rumah
dalam keadaan sepi! Tapi jendela itu terkunci dan nggak ada tanda-tanda bahwa
jendela itu dibobol orang dari luar. Atau…, uh, aku paling benci mengatakan
kemungkinan ini, tapi mungkin saja ini memang terjadi. Orang ini punya
kelebihan yang sama sepertiku dan dia menyuruh hantu untuk mengambil lembaran
sakramen itu. Ketika aku menyampaikan pendapatku ini kepada Clara, dia langsung
mengiyakan.
“Aku bisa
merasakan, masih tertinggal bau hantu di sekitar kamar ini. Seorang hantu
tingkat rendah yang lemah sehingga mudah untuk diperintah. Pencuri itu pasti
menyuruh hantu untuk mengambil sakramen itu,” kata Clara. Dia kelihatan marah
sekarang. Baginya sesosok hantu yang mau-maunya diperintah oleh manusia adalah
hantu yang sangat lemah dan bodoh dan pengecut.
“Jadi apa kau
punya rencana?” tanyaku lesu. Rumah kami sudah kemalingan dua kali dan maling
itu mengambil benda yang bakalan susah untuk dijelaskan kepada Ibu atau bahkan
pihak berwajib. Mereka pasti akan mengangkat sebelah alis mereka dan
mengatakan, “Apa?” dengan intonasi seolah-olah ingin mengatakan aku gila.
“Aku bukan
penyusun rencana yang baik.” Dia mengaku untuk pertama kalinya tanpa nada
jengkel dalam suaranya. “Kalau menurutku sih nggak ada gunanya kita menjebak
maling itu. Lagian aku nggak yakin kalau dia bakalan kembali lagi ke sini. Aku
rasa dia sudah mendapatkan apa yang dia cari.”
Aku
menggeleng. “Tapi menurutku dia akan datang lagi. Dia pasti masih mencari
sesuatu yang berhubungan dengan ritual itu. Aku yakin.”
Clara
mendengus. Asap hitam keluar dari lubang hidungnya seperti seekor naga. “Ya,
dia akan datang lagi untuk mencari korban ritual. Dan seperti yang pernah aku
katakan bahwa korbannya bisa kau dan Ibumu.”
“Kenapa sih
kau tampaknya berharap itu bakalan terjadi?” tanyaku dan ikut-ikutan mendengus
walau aku nggak akan pernah bisa mengeluarkan asap hitam dari hidung. “Kayaknya
kau berharap perkataanmu itu jadi kenyataan.”
“Bukan berarti
aku bakalan senang kalau kalian menjadi tumbal, tapi aku hanya sekedar
mengingatkan sebelum hal yang buruk terjadi.”
Ya, sebelum
hal yang buruk terjadi dan aku masih belum dapat petunjuk apa-apa mengenai
misteri ini. Nggak ada satupun yang bisa memberikan informasi yang berguna. Ibu
Angela nggak kelihatan lagi ataupun suaminya, Alfred. Mungkin mereka takut
dengan Clara karena dia selalu mengikutiku kemana-mana. Apa Ibu Angela tahu
bahwa sakramen itu dicuri? Apa mungkin dia tahu siapa pencurinya? Bagaimana
pertanyaan itu terjawab kalau aku sendiri nggak melihatnya lagi. Mungkin dia
ada di sekitar sini, tapi nggak mau menunjukkan wujudnya kepadaku. “Hei,
bagaimana pendapatmu tentang Ibu Angela? Apa menurutmu dia tahu kalau lembaran
sakramen itu dicuri?”
Clara
kelihatan nggak senang ketika nama Ibu Angela disebut-sebut. Dia memang selalu
nggak senang kalau sudah menyangkut apapun yang berhubungan dengan Ibu Angela.
“Entahlah. Mungkin dia tahu atau mungkin nggak. Aku nggak melihat-lihat mereka
lagi. Mereka itu hantu yang nomaden, berpindah-pindah. Biasanya apabila ada
hantu yang tingkatannya lebih tinggi di satu rumah atau tempat maka hantu-hantu
yang tingkatannya lebih rendah nggak suka terus menerus menghuni tempat tidur
mereka. Mereka akan pergi ke tempat-tempat lain. Yang jelas bagi kami para
hantu, tingkatan itu menunjukkan kekuatan. Siapa yang kuat, dia yang menang.”
“Kalian para
hantu seperti binatang saja,” sindirku.
“Kalian
manusia juga sama kan? Kalian memang punya hukum yang diatur, tapi masih ada
golongan-golongan yang memegang teguh hukum rimba,” balas Clara nggak mau
kalah.
“Jadi
menurutmu Ibu Angela dan suaminya nggak lagi di sini karena ada kau?” tanyaku
kembali ke pokok awal. Sudah cukup berdebat tentang masalah hukum. “Tapi kan
kalian sudah lama menghuni rumah ini bersama-sama.”
“Aku punya
tempatku sendiri dan mereka punya tempat mereka sendiri. Kami nggak pernah
saling mengusik satu sama lain. Tapi semenjak aku mendapat tingkat lebih tinggi
dari mereka, mereka jadi segan denganku dan akhirnya jadi jarang menetap di
rumah ini,” jelas Clara, kemudian dia menambahkan, “tapi tempat mereka di sini,
di rumah ini atau lebih tepatnya di tempat tidur Ibumu. Kemana pun mereka
pergi, mereka akan terus kembali lagi ke sini.”
“Bagaimana
caranya kalian para hantu bisa naik tingkat? Kalau ditilik dari umur jelas kau
lebih pantas jadi anak mereka, tapi kenapa tingkatmu lebih tinggi dari mereka?”
tanyaku ingin tahu. Selama ini aku memang selalu bingung mengenai masalah
tingkatan hantu ini semenjak teman hantuku memberitahukan bahwa hantu pun punya
tingkatan.
“Kami para
hantu nggak peduli berapa umurmu atau siapa yang lebih dulu meninggal. Untuk
naik tingkat kami harus punya niat karena semakin tinggi tingkatan sesosok
hantu maka semakin tinggi pula resiko dia akan musnah.” Clara terlihat bergidik
ketika mengatakan kalimat terakhir.
“Musnah?” aku
mengernyit heran. Aku masih belum dapat menangkap perkataan Clara.
Clara
menggosok-gosok telapak tangannya. “Ya musnah. Memangnya kau pikir setiap kami
mempelajari sebuah ilmu baru untuk naik tingkat itu nggak ada resikonya? Ilmu
baru yang kami dapat misalnya mengubah wujud menjadi manusia itu selalu
mendatangkan resiko saat pertama kali mencoba. Ada banyak yang mengalami
kegagalan sehingga akhirnya musnah. Maka daripada itu banyak hantu yang
membutuhkan waktu yang lama untuk naik tingkat walau dia sudah mati selama
seratus tahun pun. Dibutuhkan kemampuan dan kosentrasi tinggi untuk bisa naik
tingkat.”
Setelah
mendengar penjelasan Clara tentang tingkat-tingkat hantu, aku jadi berpikir
kalau seandainya aku jadi hantu nanti apa aku bisa mencapai tingkat yang
tinggi? Clara tingkat tujuh, tiga tingkat di bawah sepuluh dan sejauh yang bisa
kuingat dia adalah hantu pertama yang kukenal yang mencapai tingkat setinggi
itu. Oh, nggak, masih ada satu lagi, nenekku. Kalau Clara bicara yang
sebenarnya bahwa nenekku adalah hantu tingkat sepuluh, hantu dengan tingkat
paling tinggi, maka mungkin saja semua hal yang pernah diramalkan bakalan
terjadi. Dan selama ini memang ramalannya selalu terjadi. Ibu akan mati
mengenaskan dan aku akan menyelamatkan seseorang. Dua ramalan ini belum terjadi
walau dalam hati entah kenapa aku yakin bahwa itu akan terjadi. Jadi aku
menceritakan ramalan itu kepada Clara.
“Itu akan
terjadi,” ujarnya yang membuat aku takut.
“Tapi kenapa
Ibuku bisa mati mengenaskan dan siapa yang akan kuselamatkan?” tanyaku dengan
perasaan campur aduk.
“Entahlah
karena aku bukan peramal tapi aku bisa memberikan spekulasi dan untungnya
spekulasiku selama ini sering tepat sasaran.” Dia berhenti sebentar hanya untuk
menyeringai dan melanjutkan, “Ibumu adalah korban ritual kuno itu dan orang
yang akan kau selamatkan adalah Ibumu. Tapi kalau dalam ramalan itu Ibumu
diramalkan mati berarti kau gagal menyelamatkannya.”
Perkataan
Clara sungguh membuatku takut. Tapi kalau aku gagal menyelamatkan Ibu, berarti
ramalan itu salah? Kan ramalan itu berbunyi bahwa aku akan menyelamatkan
seseorang. Apa mungkin bahwa orang itu bukan Ibu?
“Berarti kau
menyelamatkan orang lain, entah siapa. Yang jelas dia masih ada hubungannya
denganmu.” Perkataan Clara membenarkan apa yang tadi kupikirkan.
Siapa? Siapa
yang akan kuselamatkan? Kenapa teka-teki ini menjadi bertambah rumit? Kenapa
sekarang aku jadi nggak yakin bakalan dapat memecahkan misteri ini? Kenapa aku
merasa bahwa ada bahaya yang mendekat? Semua ini hanya membuatku bertambah
pusing.
“Nggak usah
terlalu dipikirkan. Bagaimana pun juga kau masih kecil. Bukan tugasmu untuk
menyelesaikan semua misteri ini,” ujar Clara berusaha menenangkan tetapi nggak
berhasil.
“Tapi kalau
ini menyangkut keselamatan aku dan Ibuku, nggak mungkin aku hanya diam saja!”
ujarku sengit. Aku memang masih kecil, tapi aku yakin aku bisa. Yang hanya
perlu kulakukan adalah mencari petunjuk. Dan permainan teka-teki seperti ini
juga bagus untuk mengasah kecerdasan otak. Aku pernah mendengar bahwa teka-teki
atau puzzle atau permainan edukatif lainnya bisa merangsang kecerdasan seorang
anak.
“Kau kan bisa
pindah rumah,” usul Clara yang entah kenapa kedengaran seperti mengusir.
Ibuku sudah sangat menyukai rumah ini dan dia
nggak bakalan menerima alasan yang nggak logis menurutnya itu sebagai alasan
untuk angkat kaki dari sini. Oke, jadi apa yang harus kulakukan?TBC...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar