Sabtu, 08 September 2012

Cerbung : Don't Sleep on the Bed Bab 4


Bab 4

HARI YANG BARU, RENCANA YANG BARU.
Aku sudah mulai mendapat satu titik terang dari semua misteri ini. Memang masih ada satu keping puzzle yang hilang, tapi lambat laun aku pasti bisa menemukannya. Aku bisa membayangkan diriku sebagai seorang detektif misteri, memecahkan segala macam misteri yang menyangkut tentang hantu atau apapun itu jenisnya.
Semenit di sekolah sama dengan satu jam bagiku. Hari ini semua pelajarannya membosankan! Tiara nggak masuk sekolah karena harus pergi check up ke dokter. Entah apa penyakitnya, aku pun nggak tahu dan aku juga nggak mau tahu. Trio Truk Gandeng nggak mengangguku untuk kali ini karena mereka sibuk mempersiapkan acara mereka sendiri untuk ulang tahun sekolah nanti. Anak kelas enam juga sudah mulai mengikuti bimbingan belajar yang diadakan di sekolah jadi otomatis Trio Truk Gandeng nggak bisa banyak-banyak bersantai.
Hantu Clara rasa-rasanya sudah menjadi bagian dari kelas kami saja, walau cuma aku yang menyadari dia berada di sekitar kami. Dia ikut belajar dan mendengarkan guru menerangkan dan ikut-ikut tertawa kalau ada murid yang dimarahi guru karena nggak bisa mengerjakan soal. Semenjak dia berada di kelas kami, banyak murid yang terjatuh dengan sendirinya, entah karena bangkunya ditarik Clara atau dia sengaja mendorongnya atau dengan cara lainnya. Banyak anak yang mengeluh dan mengatakan kepada wali kelas kami bahwa mungkin kelas kami berhantu dan wali kelas kami hanya bisa menjawab bahwa nggak ada hantu di kelas dan mungkin juga menertawakan kami dalam hati.
Pulang sekolah, hal yang sangat kutunggu-tunggu sedari tadi. Seperti biasa, Ibuku menjemputku dan kami memulai percakapan mengenai hal-hal apa saja yang terjadi sehari itu. Ibuku mengajakku ke mall, tapi aku menolak dengan alasan aku banyak PR yang harus diselesaikan. Sebenarnya alasanku menolak ajakan itu karena aku akan menyusuri gudang dengan Clara untuk menemukan petunjuk sekecil apapun tentang keberadaan hantu Claudia.
Sesampainya di rumah aku langsung berlari ke kamar. Di kamar, aku segera berganti baju dan nggak sabar lagi untuk segera membongkar gudang. Clara kayaknya juga senang, tapi sepertinya ada sesuatu yang disembunyikannya. Aku mendengar suara Paman Bibir Tebal yang datang untuk memberitahu Ibu bahwa akan ada acara syukuran di rumah Pak Samsudin nanti malam.
“Sudah siap nggak? Kelihatannya kau bersemangat sekali.” Clara mengulurkan tangannya.
Aku mengangguk. “Tentu dong! Ayo kita pergi!” aku menerima uluran tangan Clara dan seperti biasa hanya dalam waktu beberapa detik saja kami sudah sampai di tempat tujuan.
Aku langsung batuk-batuk. “Debunya lebih tebal dari terakhir aku ke sini!” ujarku di sela-sela batuk. “Dan udaranya juga jauh lebih pengap.”
“Namanya juga gudang yang jarang dibersihkan,” ucap Clara santai. Dia mulai melayang-layang di udara. “Sebaiknya kau segera memeriksa semuanya sebelum Ibumu memeriksa kamarmu.”
“Tanpa disuruh pun aku juga sudah tahu.” Aku segera menyingkirkan kain-kain putih yang menutupi semua benda yang ada di gudang. Pertama, aku menemukan cermin tua dengan kaca yang sudah retak-retak. Kemudian aku menemukan sebuah meja belajar. Kuobrak-abrik laci-laci yang ada di meja tersebut dan hanya menemukan buku-buku tulis dan cetak milik Claudia. Nggak ada sesuatu yang berarti. Aku periksa lagi benda-benda yang lain, meja rias, lemari piring, lemari baju, meja kerja (yang kosong sama sekali), dan terakhir sebuah peti yang kayak peti harta karun. Aku berusaha membukanya, namun peti itu terkunci. “Clara!” panggilku sambil melihat sekeliling. “Bisa nggak bantu aku membuka peti terkunci ini?”
Clara yang masih melayang-layang di udara bagai asap mendatangiku dan hanya dengan selayang pandang ke peti itu, peti itu terbuka dengan sendirinya. Aku mengucapkan banyak terima kasih padanya kemudian dia melayang lagi. Kubuka lebih lebar tutup peti dan langsung terbatuk-batuk lagi. Debu bertebangan di mukaku! Aku rasa peti ini sudah puluhan tahun ada di sini dan nggak pernah dibuka-buka. Dengan rasa kesal kuamati apa saja isi dari peti tersebut. Sebuah belati dengan bulu-bulu berwarna hitam, seperti bulu burung gagak. Lalu ada bungkusan plastik hitam dan ketika kuangkat bungkusan itu cukup berat dan berbau busuk. Kubuka ikatannya dan aku langsung menjauh sambil menutup mukaku karena isi dari bungkusan itu adalah daging busuk dengan banyak belatung. Clara yang sedari tadi melayang di udara memperhatikanku dan akhirnya menjejak tanah dan ikut-ikutan melongok ke dalam bungkusan itu. Dia hanya nyengir saja melihatnya.
“Daging burung heh? Sepertinya burung gagak,” katanya santai. Dia malah melemparkan bungkusan itu ke arahku dan aku langsung menghindar.
“Darimana kau tahu itu daging burung gagak?” tanyaku dengan suara parau.
“Karena peti ini berisi banyak bulu burung gagak, coba kau lihat kemari.” Clara mengeluarkan dua bungkusan lain dan isinya adalah bulu burung gagak. “Lagian seperti yang ada di gambar yang terdapat di buku catatan Claudia, dia menggambar burung gagak yang digantung kan?”
Aku membetulkan dalam hati. Memang di buku itu ada gambar seperti itu, tapi aku nggak tahu apa hubungan burung gagak itu. “Apa itu salah satu syarat ritual?”
“Ya, kalau kau baca dan ingat isi buku tersebut. Tentu gagak adalah salah satu syarat ritual kuno tersebut. Gagak yang masih hidup, dibunuh, darahnya kemudian diminum dan dagingnya mereka bakar lalu dimakan. Tulang-tulang gagak tersebut mereka jadikan koleksi atau disulap menjadi semacam perhiasan seperti kalung atau gelang, dan bangkai gagak mereka kubur di depan rumah,” jelas Clara panjang lebar. Melihat dari cara dia menjelaskan, aku jadi berpikir bahwa dia tahu lebih banyak tentang ritual ini, atau mungkin dia tahu sebenarnya apa yang terjadi di rumah ini pada masa lampau.
“Kenapa kau bisa tahu begitu banyak? Kau menghapal isi buku itu ya?” tanyaku penasaran. Aku jadi mulai curiga bahwa Clara menyembunyikan sesuatu dariku.
“Nggak kok. Begini, Bianca, kami para hantu selalu ada hubungannya dengan ritual. Kebanyakan ritual dikhususkan untuk pemujaan dewa, setan, atau hantu dan arwah. Tentu saja kami tahu banyak mengenai ritual apa saja yang pernah dilakukan manusia di muka bumi ini. Ritual sudah jadi semacam pelajaran bagi kami para hantu. Sama sepertimu di sekolah, punya pelajaran sejarah, nah kami juga punya pelajaran seperti itu, bedanya kami membahas semua hal yang dilakukan manusia dalam pemujaan kepada sesuatu yang bukan Tuhan, termasuk ritual-ritual.” Dia mengeluarkan lagi isi dari peti dan menemukan setumpuk berkas yang diikat jadi satu.  “Lihat, apa yang kutemukan.” Dia membuka tali yang mengikat berkas itu dan meniup debu yang menebal di berkas tersebut. Sekali tiup, debu itu langsung hilang berterbangan.
Sebenarnya aku mau menanyakan banyak hal ke Clara, tapi berkas-berkas itu menarik perhatianku. Aku mendekati Clara dan ikut-ikutan melihat berkas-berkas tersebut. Isi dari semua berkas itu membuat mataku perih! Semuanya ditulis dalam Bahasa Inggris dan Latin. Ya ampun, ada apa dengan orang-orang ini? Apa mereka nggak cinta akan Bahasa Indonesia? Atau pembuatnya adalah orang asing dari luar negeri? “Apa maksudnya semua ini?”
Clara menggeleng. “Kayaknya masih lembaran sakramen juga. Tulisannya sama dengan lembaran sakramen yang kau temukan di kardus.”
Ngomong-ngomong soal kardus, aku nggak melihatnya sedari tadi. “Oh ya, kardus itu seharusnya kan ada di pojok gudang. Kenapa sekarang nggak ada?”
“Jelas nggak ada.” Clara kembali memasukkan semua barang ke dalam peti, “kardus itu telah dicuri.”
Aku membelalakkan mata mendengar ucapan Clara. “A, apa maksudmu, su-sudah dicuri?” tanyaku agak gagap saking terkejutnya.
“Ya dicuri. Tanpa kita sadari si pencuri ini beraksi lagi dan entah bagaimana dia punya kunci duplikat gudang.”

Akhirnya kami nggak menemukan sesuatu yang berarti. Semangatku turun dengan drastis. Nggak menggebu-gebu lagi seperti sebelumnya. Kardus itu sudah dicuri orang dan aku sama sekali nggak punya petunjuk mengenai pencurinya. Jadi aku menanyakan kepada Clara kapan tepatnya kardus itu dicuri.
“Aku nggak terlalu yakin,” jawabnya dengan murung. Baru kali ini dia nggak yakin dengan perkataannya sendiri. “Mungkin tiga atau empat hari lalu.”
“Dan kau nggak berusaha untuk menangkapnya?” tanyaku lagi.
“Untuk apa? Aku juga nggak tahu kapan persisnya kejadian itu terjadi.” Alangkah pahitnya bagi Clara untuk mengatakan hal tersebut. Baginya nggak mengetahui apa yang terjadi di rumah ini dengan tepat adalah suatu hal yang sangat menyakitkan.
“Berarti pencuri ini hebat juga bisa lolos dari pandanganmu,” sindirku, tapi dalam hati aku berharap bahwa Clara nggak menangkap kata-kata sindiran itu.
“Tapi aku benar kan bahwa kardus itu dicuri?”
“Ya sih, tapi bagaimana kalau kardus itu dibuang oleh Paman Bibir Tebal atau Ibu? Kemungkinan itu bisa saja kan?”
Clara tampak berpikir walau aku nggak tahu apa otaknya masih berfungsi. “Ada banyak kardus dan kotak-kotak nggak berguna di gudang, kenapa paman ini atau Ibumu hanya membuang kardus itu saja? Lagi pula katamu semua barang yang nggak berguna hanya  akan ditaruh di gudang dan nggak akan dibuang.”
Rasa-rasanya aku nggak pernah ngomong kayak gitu pada Clara. Sepertinya aku nggak pernah bilang bahwa semua barang yang disimpan di gudang nggak akan dibuang. Tapi ucapan Clara ada benarnya juga. Lagian Ibuku sendiri yang mengunci pintu gudang. “Aku benar-benar nggak mengerti kenapa kardus itu begitu penting.”
“Bukan kardusnya, tapi barang-barang yang ada di dalamnya. Kau kan belum melihat semua isi dalam kardus itu.”
Aku hanya mengiyakan dan akhirnya beranjak ke kamar mandi.
Malam harinya Ibu memberitahu bahwa dia akan pergi syukuran ke rumah Pak Samsudin yang jaraknya cukup dekat dengan rumah kami. Jalan kaki mungkin hanya butuh waktu lima belas menit, tapi Ibu ke sana dengan mengendarai mobil. Ibu juga mengajakku ke sana, tapi aku menolak, lagian itu kan juga acara orang tua. Anak-anak hanya akan jadi penganggu saja. Jadi Ibu meninggalkanku denga nasihatnya yang sudah sangat basi.
Aku dan Clara nonton TV di ruang tengah. Ada acara musik di televisi, acara kesukaan Clara. Karena dia mati tahun 1988, dia sangat buta tentang lagu-lagu zaman sekarang dan hanya menyenandungkan ‘nananana’ saja sedari tadi. Bagi ukuran hantu, suara Clara lumayan bagus tapi masih terasa unsur menyeramkannya ketika dia bernyanyi. Seperti suara nyanyian dari alam kubur.
Ada yang mengetuk pintu rumah. Aku pergi ke ruang tamu untuk membukanya dan terlihat dua orang laki-laki berpakaian hitam-hitam. Yang satu mungkin berumur sekitar 45 tahunan dan yang satunya lagi mungkin sekitar 30-an. Entah siapa mereka, yang jelas mereka aneh. Lelaki yang lebih tua berkata dengan sikap sopan yang dibuat-buat, “Hallo anak manis. Perkenalkan nama saya Supradi, pengusir hantu paling top se-Jakarta. Dan ini asisten saya namanya Jalil.” Dia mengeluarkan sebuah kartu nama dari sakunya dan memberikannya kepadaku.
“Tidak ada yang memanggil pengusir hantu ke sini,” ujarku ketus kepada mereka. Nggak mungkin Ibu yang memanggil mereka, karena dia nggak percaya dengan hal-hal begituan.
Si lelaki tua bernama Supradi tersenyum dengan sangat terpaksa. “Memang tidak ada yang memanggil kami ke sini, Cuma saya bisa merasakan adanya arwah-arwah yang masih bergentayangan di sini. Baunya begitu kuat dan saya juga merasakan adanya sesuatu dari masa lalu yang masih membekas di sini.” Dia masuk ke rumah tanpa izin dan asistennya dengan setia mengikutinya. Aku membiarkan mereka dan membuang kartu nama si Supradi kemudian mengikuti mereka ke dalam.
Clara yang masih menonton televisi hanya memandang datar saja dengan kehadiran pengusir hantu yang memandang ke sekeliling ruangan dan kemudian matanya tertuju kepada Clara yang terlihat santai di sofa. Aku langsung mengigit bibir. “Aku memang benar. Ada hantu di sini,” kata Supradi dan dia menunjuk Clara dengan sikap menantang, “hantu anak-anak yang sangat jelek, Jalil! Wahai kau hantu ,apa yang sebenarnya kau inginkan dengan menghantui rumah ini?”
Clara hanya nyengir. Dia memutar kepalanya sampai 360 derajat. “Memangnya kau pikir kau siapa bisa mengusirku?” tantang Clara tak mau kalah.
“Aku adalah pengusir hantu yang akan mengirimmu ke alam baka! Kau akan bernasib sama dengan hantu seusiamu yang menunggu sebuah kamar di penginapan. Sekarang dia sudah terbang ke alam baka!” Supradi tertawa keras-keras, merasa bangga akan dirinya sendiri. Sementara itu Jalil hanya tersenyum kecil saja.
Tunggu dulu! Hantu seusia Clara yang menunggu kamar di sebuah penginapan? Apa mungkin itu Lanina, sahabat teman hantuku yang pernah dia ceritakan? Kalau nggak salah dia pernah bilang bahwa ada pengusir hantu yang berhasil membuat Lanina pergi ke alam baka. Atau mungkin si Supradi ini berbicara tentang hantu anak-anak yang lain?
“Coba saja kalau berani!” Clara sama sekali nggak  takut dengan ancaman pengusir hantu itu. Tiba-tiba kegelapan melingkupi seluruh ruangan. Hal sama yang pernah terjadi ketika Clara pertama kali menampakkan wujudnya di depanku. Dia bisa menciptakan kegelapan yang sangat pekat.
Aku sama sekali nggak bisa melihat apapun namun secercah cahaya kecil di depanku membuatku mendekat ke sana. Kemudian terdengar suara Supradi, “Untung kita sudah bawa persediaan lilin. Aku yakin bahwa hantu anak ini bukan hantu biasa.” Ternyata cahaya itu berasal dari lilin yang dipegang oleh Jalil.
“Tapi Sup…, maksudku paman! Saya rasa Anda nggak perlu melawan hantu itu! Sepertinya dia baik!” ujarku kepada pengusir hantu itu walaupun aku yakin nggak bakalan ada gunanya.
“Hantu seperti anak itu mana ada yang baik? Kau nggak lihat wajahnya yang menyeramkan? Bola matanya hanya satu dan semua tubuhnya dipenuhi luka. Kita harus…” ucapannya terhenti karena lilin yang dipegang Jalil terlempar dan menyebabkan apinya padam. Suasana kembali gelap lagi. “Sial! Aku nggak bisa membaca buku pengusiran hantuku dalam keadaan gelap begini. Jalil, hidupkan lilin yang lain!” perintah si Supradi. Aku hanya diam saja walaupun kami semua tahu pelaku pelemparan lilin tadi adalah Clara.
“Wah Bos, semua persediaan lilin kita sudah nggak ada lagi,” ujar Jalil untuk pertama kalinya. Bisa kurasakan bahwa suaranya gemetaran. Entah takut akan kena marah atau takut dengan kegelapan ini.
“Pasti si anak hantu itu yang mengambilnya dan eh…,” ucapan si Supradi terpotong lagi karena Clara mengambil paksa buku pengusiran hantu dari dekapannya. “Kembali kan bukuku!” teriaknya sia-sia di kegelapan pekat ini.
Kami bisa mendengar suara kertas yang disobek-sobek sebelum kegelapan sirna dan potongan-potongan kertas jatuh menimpa tubuh dua lelaki pengusir hantu itu. Potongan-potongan kertas dari buku pengusir hantu si Supradi. Di saat kami masih tertegun dengan apa yang terjadi (atau lebih tepatnya mereka berdua yang tertegun), Ibu masuk ke ruang tengah sembari ngomong, “Bianca kenapa pintu depan nggak ditutup?” dia terkejut melihat dua orang asing berada di dalam rumahnya. “Kalian membuat sampah!” maki Ibuku yang ternyata memperhatikan hal yang nggak penting itu.
Si Supradi yang tadi terbengong segera sadar. Dengan susah payah dia menjelaskan ke Ibu, “Sebentar Bu, semua ini bisa saya jelaskan.”
Ibuku nggak mau mendengar alasan apa pun saat ini. “Kalian membuat sampah! Pergi dari sini dan pungut semua sampah itu sebelum saya telpon polisi!” ancam Ibuku sembari mengeluarkan HP dari dalam tas tangannya.
“Baiklah, baiklah!” si Supradi dan asistennya menurut dan dengan perasaan enggan mereka memunguti sobekan buku pengusir hantu mereka sendiri. Setelah selesai, mereka pun pamit pulang.
Ibuku segera mengistirahatkan tubuhnya di sofa yang sebenarnya sedang diduduki Clara. Karena Clara hantu, tubuh Ibu menembus tubuhnya. Namun Clara nggak memprotes atau marah atau melakukan tindakan gila kepadanya. Aku bertanya kepada Ibu kenapa dia pulang begitu cepat dan dia menjawab bahwa dia lupa membawa kunci kamarnya dan bermaksud untuk mengambilnya. Namun, ketika sampai di rumah, dia menemukan pintu terbuka dan dia segera masuk ke dalam. Di dalam, dia lebih terkejut lagi melihat dua orang asing. Tapi yang benar-benar membuat shock dirinya adalah dua orang asing itu sudah membuang sampah di dalam rumah. Bagi Ibu, kebersihan rumah adalah hal yang paling utama sehingga nggak heran kenapa dia berbuat begitu kepada dua pengusir hantu itu.
“Mereka itu sebenarnya pengusir hantu.” Aku terangkan kenapa mereka bisa ada di dalam rumah. Tentu saja aku nggak menyebut-nyebut soal Clara dan berbohong bahwa kedua orang itulah yang dengan sengaja menyobek-nyobek kertas di dalam rumah bukan Clara. Mendengar ceritaku Ibu hanya mendengus kesal.
“Dasar orang gila!” umpat Ibuku kesal. “Uh, kalau sudah begini Ibu jadi nggak punya keinginan untuk pergi lagi ke rumah Pak Samsudin.” Ibu beranjak dari sofa dan berjalan menuju dapur. “Coba kita lihat apakah kita masih punya persediaan mie.”

Latihan drama kedua kami berjalan hampir sama dengan latihan drama yang pertama. Ulang tahun sekolah tinggal dua minggu lagi dan kami semakin giat berlatih. Aku dan lima belas orang lainnya ditambah Clara yang nyumpel di kelompok penyanyi berlatih untuk terus menyamakan suara vokal kami dan menghapal lagu-lagu dan gerakan-gerakan untuk drama musikal ini. Dan Clara benar-benar bersemangat untuk latihan. Seandainya saja dia masih hidup sekarang, mungkin dia bakal jadi murid kesayangannya Pak Rony.
Georgia masih susah menghapal beberapa dialog panjang karena bahasa Indonesianya masih belum terlalu bagus. Tiara masih mempertahankan akting bagusnya sebagai Ibu tiri Putri Salju sampai jadi nenek-nenek yang memberikan apel kepada Putri Salju. Tujuh anak laki-laki yang jadi kurcaci harus belajar bagaimana berjalan dengan lutut mereka supaya menampilkan kesan kurcaci yang identik dengan orang kerdil.
Sewaktu istirahat Tiara menghampiriku. Aku agak kaget ketika dia mengulurkan tangannya kepadaku mengajak bersalaman. “Buat apa?” tanyaku sangsi kepada Tiara.
“Buat apa?” Tiara memutar bola matanya, “ya salamanlah! Sebagai tanda perdamaian!” dia mengambil secara paksa tanganku untuk bersalaman dengan tangannya.
Aku masih terbengong mendengar ucapannya ketika dia mulai bersuara lagi, “Eh, ngomong-ngomong aku sering melihatmu duduk-duduk di bangku taman sendirian. Namun rasanya ada yang aneh. Kau seperti berbicara dengan seseorang, tapi seseorang itu nggak ada di sana. Kau seperti berbicara sendiri.”
Perkataan Tiara yang kedua ini hanya membuat aku tambah terbengong. Jadi selama ini Tiara memperhatikanku dari kejauhan? Dia melihatku seperti berbicara sendiri? Dia nggak bisa melihat Clara tentu saja. Aku benar-benar bakalan di cap orang gila.
“Dan kejadian aneh di kelas kita dimana anak-anak sering terjatuh dengan sendirinya, di antara kami semua, hanya kau yang nggak pernah mengalaminya. Hanya kau yang nggak kehilangan barang-barang di kelas. Pasti ada sesuatu.” Dia menatapku dengan pandangan menyelidik. “Bianca, jangan-jangan kau bisa melihat dan berkomunikasi dengan hantu? Atau kau malah berteman dengan hantu?”
Tepat sasaran! Perkataannya tepat sasaran! Lalu apa yang harus kukatakan? Aku bisa melihat dari sudut mataku tampang nggak peduli Clara. Aku hanya bisa memaki dalam hati. “Nggak, nggak mungkinlah.” Aku berusaha tertawa, tapi suara tawaku terdengar aneh. Anak umur dua tahun pun juga bakal tahu bahwa aku sedang gugup.
Tiara memasang tampang menyelidik lagi. “Kalau kau nggak mau ngomong, juga nggak apa-apa. Lagian aku hanya ingin tahu.” Setelah mengatakan itu, dia pergi ke tempat teman-temannya.
“Kenapa kau nggak bilang saja kepadanya?” tanya Clara yang berada di sampingku. “Kalau kau bilang, maka dia dan semua anak bakalan takut kepadamu dan mungkin kau bisa merekomendasikanku kepada guru kesenianmu itu untuk bisa menjadi salah satu anggota paduan suara kalian.” Dia mengakhiri kalimatnya dengan tawa kecil.
Aku nggak menanggapi perkataan Clara. Kalau aku bilang yang sejujurnya, mereka mungkin memang akan takut kepadaku, tapi itu juga otomatis membuatku nggak punya teman lagi karena mereka berpikir mungkin akan berbahaya apabila berteman denganku. Dan lagian untuk apa Clara ingin direkomendasikan untuk menjadi anggota kelompok menyanyi kami? Dia hantu, semua orang nggak bakalan ada yang mau menyaksikan seorang hantu dengan tampang menyeramkan menyanyi.

Keesokan paginya, ada kejadian yang sangat mengejutkan! Lembaran sakramen yang aku simpan di laci meja belajar hilang! Aku sudah mencari lembaran itu kemana-mana namun hasilnya nihil. Aku pun sudah bertanya kepada Ibu, mungkin dia mengotak-atik kamarku dan menemukan lembaran itu lalu membuangnya. Tapi Ibuku sama sekali nggak merasa bahwa dia pernah membuang benda itu. Dia malah berpikir bahwa aku yang membuangnya.
“Hilang! Kenapa lembaran itu bisa hilang?” tanyaku frustasi kepada Clara yang merenggangkan tubuhnya di atas tempat tidur.
“Kalau begitu lembaran itu bukan hilang, tapi dicuri,” jawab Clara tenang. “Kan aku sudah pernah bilang padamu bahwa lembaran itu sangat penting.”
Setelah aku merasa bisa berpikir jernih lagi aku baru teringat bahwa Clara memang pernah mengatakan hal itu. Tapi aku tak pernah berpikir bahwa dia akan mendatangi kamarku! Darimana dia masuk? Apa dari jendela? Dia pasti masuk ketika rumah dalam keadaan sepi! Tapi jendela itu terkunci dan nggak ada tanda-tanda bahwa jendela itu dibobol orang dari luar. Atau…, uh, aku paling benci mengatakan kemungkinan ini, tapi mungkin saja ini memang terjadi. Orang ini punya kelebihan yang sama sepertiku dan dia menyuruh hantu untuk mengambil lembaran sakramen itu. Ketika aku menyampaikan pendapatku ini kepada Clara, dia langsung mengiyakan.
“Aku bisa merasakan, masih tertinggal bau hantu di sekitar kamar ini. Seorang hantu tingkat rendah yang lemah sehingga mudah untuk diperintah. Pencuri itu pasti menyuruh hantu untuk mengambil sakramen itu,” kata Clara. Dia kelihatan marah sekarang. Baginya sesosok hantu yang mau-maunya diperintah oleh manusia adalah hantu yang sangat lemah dan bodoh dan pengecut.
“Jadi apa kau punya rencana?” tanyaku lesu. Rumah kami sudah kemalingan dua kali dan maling itu mengambil benda yang bakalan susah untuk dijelaskan kepada Ibu atau bahkan pihak berwajib. Mereka pasti akan mengangkat sebelah alis mereka dan mengatakan, “Apa?” dengan intonasi seolah-olah ingin mengatakan aku gila.
“Aku bukan penyusun rencana yang baik.” Dia mengaku untuk pertama kalinya tanpa nada jengkel dalam suaranya. “Kalau menurutku sih nggak ada gunanya kita menjebak maling itu. Lagian aku nggak yakin kalau dia bakalan kembali lagi ke sini. Aku rasa dia sudah mendapatkan apa yang dia cari.”
Aku menggeleng. “Tapi menurutku dia akan datang lagi. Dia pasti masih mencari sesuatu yang berhubungan dengan ritual itu. Aku yakin.”
Clara mendengus. Asap hitam keluar dari lubang hidungnya seperti seekor naga. “Ya, dia akan datang lagi untuk mencari korban ritual. Dan seperti yang pernah aku katakan bahwa korbannya bisa kau dan Ibumu.”
“Kenapa sih kau tampaknya berharap itu bakalan terjadi?” tanyaku dan ikut-ikutan mendengus walau aku nggak akan pernah bisa mengeluarkan asap hitam dari hidung. “Kayaknya kau berharap perkataanmu itu jadi kenyataan.”
“Bukan berarti aku bakalan senang kalau kalian menjadi tumbal, tapi aku hanya sekedar mengingatkan sebelum hal yang buruk terjadi.”
Ya, sebelum hal yang buruk terjadi dan aku masih belum dapat petunjuk apa-apa mengenai misteri ini. Nggak ada satupun yang bisa memberikan informasi yang berguna. Ibu Angela nggak kelihatan lagi ataupun suaminya, Alfred. Mungkin mereka takut dengan Clara karena dia selalu mengikutiku kemana-mana. Apa Ibu Angela tahu bahwa sakramen itu dicuri? Apa mungkin dia tahu siapa pencurinya? Bagaimana pertanyaan itu terjawab kalau aku sendiri nggak melihatnya lagi. Mungkin dia ada di sekitar sini, tapi nggak mau menunjukkan wujudnya kepadaku. “Hei, bagaimana pendapatmu tentang Ibu Angela? Apa menurutmu dia tahu kalau lembaran sakramen itu dicuri?”
Clara kelihatan nggak senang ketika nama Ibu Angela disebut-sebut. Dia memang selalu nggak senang kalau sudah menyangkut apapun yang berhubungan dengan Ibu Angela. “Entahlah. Mungkin dia tahu atau mungkin nggak. Aku nggak melihat-lihat mereka lagi. Mereka itu hantu yang nomaden, berpindah-pindah. Biasanya apabila ada hantu yang tingkatannya lebih tinggi di satu rumah atau tempat maka hantu-hantu yang tingkatannya lebih rendah nggak suka terus menerus menghuni tempat tidur mereka. Mereka akan pergi ke tempat-tempat lain. Yang jelas bagi kami para hantu, tingkatan itu menunjukkan kekuatan. Siapa yang kuat, dia yang menang.”
“Kalian para hantu seperti binatang saja,” sindirku.
“Kalian manusia juga sama kan? Kalian memang punya hukum yang diatur, tapi masih ada golongan-golongan yang memegang teguh hukum rimba,” balas Clara nggak mau kalah.
“Jadi menurutmu Ibu Angela dan suaminya nggak lagi di sini karena ada kau?” tanyaku kembali ke pokok awal. Sudah cukup berdebat tentang masalah hukum. “Tapi kan kalian sudah lama menghuni rumah ini bersama-sama.”
“Aku punya tempatku sendiri dan mereka punya tempat mereka sendiri. Kami nggak pernah saling mengusik satu sama lain. Tapi semenjak aku mendapat tingkat lebih tinggi dari mereka, mereka jadi segan denganku dan akhirnya jadi jarang menetap di rumah ini,” jelas Clara, kemudian dia menambahkan, “tapi tempat mereka di sini, di rumah ini atau lebih tepatnya di tempat tidur Ibumu. Kemana pun mereka pergi, mereka akan terus kembali lagi ke sini.”
“Bagaimana caranya kalian para hantu bisa naik tingkat? Kalau ditilik dari umur jelas kau lebih pantas jadi anak mereka, tapi kenapa tingkatmu lebih tinggi dari mereka?” tanyaku ingin tahu. Selama ini aku memang selalu bingung mengenai masalah tingkatan hantu ini semenjak teman hantuku memberitahukan bahwa hantu pun punya tingkatan.
“Kami para hantu nggak peduli berapa umurmu atau siapa yang lebih dulu meninggal. Untuk naik tingkat kami harus punya niat karena semakin tinggi tingkatan sesosok hantu maka semakin tinggi pula resiko dia akan musnah.” Clara terlihat bergidik ketika mengatakan kalimat terakhir.
“Musnah?” aku mengernyit heran. Aku masih belum dapat menangkap perkataan Clara.
Clara menggosok-gosok telapak tangannya. “Ya musnah. Memangnya kau pikir setiap kami mempelajari sebuah ilmu baru untuk naik tingkat itu nggak ada resikonya? Ilmu baru yang kami dapat misalnya mengubah wujud menjadi manusia itu selalu mendatangkan resiko saat pertama kali mencoba. Ada banyak yang mengalami kegagalan sehingga akhirnya musnah. Maka daripada itu banyak hantu yang membutuhkan waktu yang lama untuk naik tingkat walau dia sudah mati selama seratus tahun pun. Dibutuhkan kemampuan dan kosentrasi tinggi untuk bisa naik tingkat.”
Setelah mendengar penjelasan Clara tentang tingkat-tingkat hantu, aku jadi berpikir kalau seandainya aku jadi hantu nanti apa aku bisa mencapai tingkat yang tinggi? Clara tingkat tujuh, tiga tingkat di bawah sepuluh dan sejauh yang bisa kuingat dia adalah hantu pertama yang kukenal yang mencapai tingkat setinggi itu. Oh, nggak, masih ada satu lagi, nenekku. Kalau Clara bicara yang sebenarnya bahwa nenekku adalah hantu tingkat sepuluh, hantu dengan tingkat paling tinggi, maka mungkin saja semua hal yang pernah diramalkan bakalan terjadi. Dan selama ini memang ramalannya selalu terjadi. Ibu akan mati mengenaskan dan aku akan menyelamatkan seseorang. Dua ramalan ini belum terjadi walau dalam hati entah kenapa aku yakin bahwa itu akan terjadi. Jadi aku menceritakan ramalan itu kepada Clara.
“Itu akan terjadi,” ujarnya yang membuat aku takut.
“Tapi kenapa Ibuku bisa mati mengenaskan dan siapa yang akan kuselamatkan?” tanyaku dengan perasaan campur aduk.
“Entahlah karena aku bukan peramal tapi aku bisa memberikan spekulasi dan untungnya spekulasiku selama ini sering tepat sasaran.” Dia berhenti sebentar hanya untuk menyeringai dan melanjutkan, “Ibumu adalah korban ritual kuno itu dan orang yang akan kau selamatkan adalah Ibumu. Tapi kalau dalam ramalan itu Ibumu diramalkan mati berarti kau gagal menyelamatkannya.”
Perkataan Clara sungguh membuatku takut. Tapi kalau aku gagal menyelamatkan Ibu, berarti ramalan itu salah? Kan ramalan itu berbunyi bahwa aku akan menyelamatkan seseorang. Apa mungkin bahwa orang itu bukan Ibu?
“Berarti kau menyelamatkan orang lain, entah siapa. Yang jelas dia masih ada hubungannya denganmu.” Perkataan Clara membenarkan apa yang tadi kupikirkan.
Siapa? Siapa yang akan kuselamatkan? Kenapa teka-teki ini menjadi bertambah rumit? Kenapa sekarang aku jadi nggak yakin bakalan dapat memecahkan misteri ini? Kenapa aku merasa bahwa ada bahaya yang mendekat? Semua ini hanya membuatku bertambah pusing.
“Nggak usah terlalu dipikirkan. Bagaimana pun juga kau masih kecil. Bukan tugasmu untuk menyelesaikan semua misteri ini,” ujar Clara berusaha menenangkan tetapi nggak berhasil.
“Tapi kalau ini menyangkut keselamatan aku dan Ibuku, nggak mungkin aku hanya diam saja!” ujarku sengit. Aku memang masih kecil, tapi aku yakin aku bisa. Yang hanya perlu kulakukan adalah mencari petunjuk. Dan permainan teka-teki seperti ini juga bagus untuk mengasah kecerdasan otak. Aku pernah mendengar bahwa teka-teki atau puzzle atau permainan edukatif lainnya bisa merangsang kecerdasan seorang anak.
“Kau kan bisa pindah rumah,” usul Clara yang entah kenapa kedengaran seperti mengusir.
Ibuku sudah sangat menyukai rumah ini dan dia nggak bakalan menerima alasan yang nggak logis menurutnya itu sebagai alasan untuk angkat kaki dari sini. Oke, jadi apa yang harus kulakukan?
TBC...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar