Rabu, 24 Februari 2016

Don't Bury Me In My Own Grave Bab 2

Fourteen Years Later...
Kecelakaan itu membuatku amnesia. Aku tidak ingat satu pun, aku lupa namaku, aku lupa dengan nama teman-temanku, aku benar-benar merasa kosong. Setelah hampir sebulan menginap di rumah sakit, aku akhirnya dapat pulang ke rumah. Hanya saja sekarang banyak yang berbeda. Lily, yang mengaku sebagai teman akrabku di kantor, bilang bahwa rumah sederhana berperabotan banyak ini adalah rumahku. Tetapi entah kenapa yang ada di dalam ingatanku adalah sebuah rumah besar di sebuah komplek perumahan yang jauh dari keramaian kota, bukan di sebuah apartemen sempit seperti ini. Kujelaskan pada Lily bahwa dia telah salah mengantarku pulang, tapi dia hanya tersenyum tipis dan menepuk bahuku pelan.
“Kau baru pulang dari rumah sakit sayangku. Otakmu masih kacau. Nah, sekarang istirahatlah di kamarmu.” Lily menuntunku menuju kamarku yang kecil. Tidak ada yang berarti di situ, semuanya terlihat sangat membosankan.
“Aku rasa dulu aku punya semacam papan pengingat di kamar ini. Aku akan mencatat segala kegiatanku dengan spidol warna-warni dan menempelnya di papan itu. Aku juga merias lemariku dengan potongan-potongan gambar yang kubuat sendiri. Dan seingatku ada gambar-gambar karakter Disney yang menghiasi dinding kamarku. Kenapa sekarang begitu berbeda?” tanyaku kepada Lily yang mengerutkan kening disebelahku.
Dia pasti berpikir bahwa aku bicara melantur, bisa dilihat dari ekspresi mukanya yang memandangku aneh. Namun dia berusaha menutupinya dengan senyuman. “Well, Charlotte, ini adalah kamarmu yang sekarang. Mungkin kau membicarakan kamarmu ketika kau masih kecil. Nah, sekarang istirahatlah. Sudah kubilang otakmu masih kacau.”
Aku memandangi lagi setiap jengkal kamarku sebelum mengangguk kepada Lily. “Mungkin kau benar. Entah kenapa semenjak keluar dari rumah sakit aku terus-menerus mendapat bayang-bayang masa kecil berkelebat di otakku. Ini aneh sekali.” Aku membaringkan diriku dan menarik selimut, lalu tersenyum pada Lily. “Kau baik sekali. Menyesal bahwa  aku sama sekali tidak ingat apa-apa.”
“Tidak apa-apa Charlotte. Nanti kau juga akan ingat, istirahatlah. “Lily memperingatkan untuk ketiga kalinya. Dengan satu anggukan kepala, aku mencoba tidur dan terbawa hanyut ke alam mimpi.
Malam harinya, aku mendapati sebuah buku cukup tebal setelah mengobrak-abrik lemari. Entah kenapa buku yang bersampul warna-warni ini begitu familiar di ingatanku. Aku pernah merasa memiliki buku ini entah pada waktu yang mana. Yang jelas, aku tidak begitu ingat. Apa ini buku harianku? Karena penasaran kubuka satu persatu halaman dari buku tersebut. Di halaman pertama kudapatkan :
16 Oktober 1994
Erick menyuruhku untuk mencatat apa saja yang kujalani setiap harinya dalam sebuah buku. Menurutnya kebiasaan menulis apa saja yang kita jalani itu adalah sebuah hal yang bagus, selain itu bisa dijadikan sebuah dokumentasi untuk anak dan cucu kita nanti. Saudaraku itu memang selalu berpikiran jauh ke depan!
Tapi menurutku, aku tidak bisa melihat apa bagusnya menulis di buku harian. Hidupku membosankan, hanya Ericklah yang bisa membuatnya lebih berwarna. Aku benci anggota keluargaku yang lain, mereka tidak pernah memperhatikanku dan Erick.
Kuharap Erick benar. Dengan mencatat semua kegiatan dalam sebuah buku bisa membuatku tidak lagi mengeluh dan melihat hidup ini dengan banyak sisi positifnya.
Aku mengedipkan mataku beberapa kali, tidak menyangka dengan apa yang tertulis di sini. Ini benar-benar buku harianku. Buku harian masa kecilku. Erick, rasanya aku memang mengenal nama itu. Walau pun aku menderita lupa ingatan karena kecelakaan itu, tetapi aku ingat ada satu nama yang terus terngiang-ngiang di mana pun aku berada, bahkan ketika berada di rumah sakit dalam keadaan tidak sadar. Dan nama itu tidak salah lagi, nama itu Erick. Erick! Aku ingat sekarang! Dia saudara kembarku!
Kubalik buku itu dan kubaca halaman terakhir. Tertera di sana tanggal 21 November 1995. Tanggal ini, aku mulai ingat. Sekelebat bayangan melintas di benakku. Waktu itu, begitu menyedihkan. Bayangan pohon maple di belakang rumahku dulu masih tidak jelas, kabur dan bergoyang-goyang. Ada dua orang anak berdiri di beranda, muka mereka berdua sama tidak jelasnya dengan keadaan sekitar situ. Aku sama sekali tidak dapat menangkap apa yang mereka bicarakan. Bayangan dua orang anak itu mengabur dan bisa kudengar bunyi tinggi yang memekakkan telinga, dan kemudian semuanya benar-benar hilang. Hal terakhir yang kulihat sebelum semuanya hilang, adalah salah satu dari anak tersebut pergi meninggalkan anak yang satu lagi. Sendirian.
Bunyi bedebum benda jatuh menyadarkanku. Kepalaku langsung sakit entah karena apa. Kupungut buku harianku yang terjatuh dan sambil memengangi kepalaku, kupaksakan diri untuk berjalan menuju kamar. Mataku berkunang-kunang karena sakit kepala yang tiba-tiba ini. Namun ketika aku membaringkan diri ke tempat tidur, rasa sakit kepala yang menghantam langsung hilang dengan tiba-tiba juga. Aku langsung terduduk di tepi tempat tidur, merasa aneh dengan semua hal yang terjadi hari ini. Kuambil lagi buku harian masa kecilku dan kubolak-balik terus halaman-halamannya sampai suatu kertas terlipat terjatuh di pangkuanku. Kuambil kertas itu dan dengan penasaran kubuka lipatannya.
Isi yang tertulis di sana awalnya membuatku bingung. Kubaca lagi dengan seksama tulisan tersebut, dan sebuah ketidakmengertian masih menghantam pikiranku. Ini adalah sebuah karangan yang aneh sekali. Tetapi aku merasa sangat familiar. Aku merasa sangat familiar dengan semua yang sudah terjadi hari ini. Aku harus mencari tahu apa yang terjadi dengan Erick. Aku akan berusaha mencari tahu di mana keberadaan Erick lagi. Dan aku memang harus kembali ke awal ini semua bermula.

Pagi itu Lily meneleponku ketika aku sedang membaca buku harian masa kecilku. Kuangkat gagang telepon dan telingaku langsung disambut oleh sapaan Lily yang lembut dan ceria. “Bagaimana kabarmu hari ini? Apakah otakmu sudah tidak kacau lagi setelah istirahat yang cukup?” tanyanya langsung masih dengan suara lembutnya.
“Ya, kupikir aku merasa lebih segar pagi ini,” jawabku agak sedikit berbohong. Aku tidak tidur semalaman. Aku sudah membuat keputusan dan aku akan melakukannya. “Kebetulan sekali kau menelepon,” aku memotong sebelum Lily sempat berkata apa-apa lagi, “aku akan meninggalkan London hari ini.”
Kudengar pekik tertahan dari Lily. Dia pasti terkejut sekali. “Kau hanya bercanda kan? Maksudku, ayolah, Mr. Regan menanyaimu terus kapan kau bisa kembali bekerja di kantor. Dan sekarang kau mengatakan padaku kau akan meninggalkan London. Itu berarti kau juga akan meninggalkan pekerjaanmu di sini! Apa yang akan kukatakan kepada Mr. Regan?”
“Bilang saja kepadanya, aku berhenti.” Kututup sambungan telepon sebelum mendengar apa jawaban Lily. Keputusanku sudah bulat, tidak ada yang bisa mencegahku. Aku merasa London bukanlah tempat yang tepat sebagai awal permulaan mencari Erick. Aku akan pergi ke sebuah desa kecil di sebelah barat Sussex, tempat dimana seharusnya aku bisa menemukan petunjuk. Tempat dimana aku akan mengumpulkan kembali ingatan-ingatanku yang hilang dan mengumpulkan informasi sebanyak-banyaknya.
Semua barang yang kubutuhkan telah kumasukkan ke dalam bagasi mobil. Aku akan pergi jauh dari London menuju Sussex hanya dengan mengandalkan mobil BMW tua tahun 80-an ini. Aku tidak tahu bagaimana aku akan mencapai desa masa kecilku, tetapi aku yakin angin akan memanduku menuju ke sana. Ke sana, ke Langley Green.
Langley Green berada dalam lingkungan kota Crawley, di sebelah barat Sussex. Cukup jauh juga untuk mencapai ke sana, tapi seperti kataku aku tidak peduli. Kuperhatikan sekali lagi peta menuju Langley Green dan bisa kurasakan bahwa aku tidak akan tersesat. Di sepanjang perjalanan, aku benar-benar merasakannya. Setiap embusan angin yang menerpa, suara gemerisik pepohonan, bahkan bunyi mesin mobil pun menjadi sebuah pertanda bagiku. Seakan-akan semuanya sudah jelas terpampang di depan mataku. Yang sekarang benar-benar kubutuhkan adalah sebuah tekad. Sebuah tekad bahwa aku memang akan mencapai rumah masa kecilku yang sekarang samar-samar kembali terekam di otakku.
Kuputuskan untuk berhenti dulu di gas station untuk mengisi bahan bakar mobil. Aku sebenarnya tidak mau membuang waktu untuk menghabiskan malam di sebuah penginapan kecil di sebelah gas station, tetapi hari memang sudah sangat larut dan aku juga butuh istirahat karena mengemudi dari sejak pagi. Ketika kutanyakan apakah masih ada kamar yang kosong, si wanita penjaga counter menggeleng ringan dan mengatakan bahwa semua kamar telah penuh.
“Banyak sekali orang-orang yang menginap untuk semalam di sini,” ujarnya dengan nada bersimpati. “Aku rasa karena sebentar lagi mendekati liburan musim panas, jadi banyak orang-orang yang berpergian jauh ke luar kota.”
“Aku rasa juga begitu,” kataku membenarkan sambil mengangkat bahu. Kuletakkan beberapa uang untuk membayar bensin dan beberapa cemilan yang kubeli.
“Kalau tidak salah masih ada satu penginapan lagi 500 meter dari sini,” si wanita penjaga counter berkata lagi. “Tapi, ah, mereka memberikan pelayanan buruk! Kamarnya sempit dan berantakan serta bau pesing! Itu bukanlah sebuah penginapan yang bagus!”
“Kenapa kau berkata seperti itu?” tanyaku sekedar ingin tahu. Wanita itu mengerutkan dahinya.
“Salah satu saudaraku pernah menginap di sana dalam perjalanan pulang dari Sussex, dan mobilnya mogok. Dia tidak menemukan satupun bengkel dan akhirnya dia berjalan menuju ke penginapan itu untuk meminjam telepon karena telepon selularnya mati sekalian untuk menginap semalam. Harga satu kamarnya memang sangat murah, tetapi harga murah itu memang sebanding dengan kamarnya yang sangat brengsek! Saudaraku bahkan hampir tidak bisa tidur karena suara tikus yang mendecit-decit sepanjang waktu. Aku heran kenapa penginapan itu masih berdiri sampai sekarang. Aku rasa....” wanita itu berhenti tiba-tiba dan merasa bahwa dia berbicara terlalu banyak.

“Sebaiknya aku pergi,” kataku dan mengucapkan terima kasih kepada wanita itu. Kuhela napas panjang dan lelah sebelum mengendarai mobilku lagi.

Don’t Bury Me In My Own Grave Bab I

Kami terkadang menghabiskan waktu dengan melihat pohon maple mengugurkan daunnya. Kami juga terkadang menghabiskan waktu dengan melihat ayah bekerja siang malam di ruang kerjanya atau melihat ibu yang terus menerus mempercantik dirinya di depan cermin. Kami juga melihat Linda, kakak perempuan kami, pergi pagi dan pulang malam. Dia sering bertengkar dengan ayah, dan kami juga berada di sana, menjadi penonton yang setia. Satu pertanyaan yang mengganjal, kapan mereka semua yang melihat kami? Kami lahir dan tumbuh besar, selalu menjadi mata ketiga, mata yang selalu melihat keadaan dan orang-orang di sekitarnya.
Aku suka berdua dengan saudara kembarku. Dia adalah penyemangat utamaku, mendorong diriku untuk terus bertahan di tengah-tengah samudra ketidakpedulian keluarga kami. Saudara kembarku sangat menyukai musik dan aku membulatkan tekad juga harus menyukai musik. Saudara kembarku pandai menyanyi dan mengarang lagu, dan aku setengah mati menyakinkan diriku bahwa aku juga harus bisa seperti itu. Saudaraku mengajariku bermain gitar dan kami sering bernyanyi bersama di beranda belakang rumah setelah bosan melihat daun-daun maple berjatuhan pada musim gugur. Kami juga bernyanyi setelah melihat ayah di ruang kerjanya, Ibu dengan muka penuh kosmetik di depan cermin dan Linda yang pulang pergi sesuka hati. Saudara kembarku mengarang lagu untuk mereka semua dan kami akan menyanyikannya bersama-sama. Itu adalah saat-saat paling menyenangkan dalam hidupku ketika aku tidak memikirkan nasib kami yang tidak diperhatikan oleh keluarga kami sendiri.
Pada suatu hari yang berangin di musim gugur tahun 1995, ketika kami berumur dua belas tahun, saudara kembarku mengarang sebuah lagu yang sangat aneh. Lagu itu sangat pendek, hanya beberapa bait seperti lagu anak-anak yang pernah diajari guru kami sewaktu kami masih duduk di bangku taman kanak-kanak. Dengan gitar pemberian paman untuk ulang tahun kami yang kedelapan, saudaraku menjadi sangat giat belajar untuk menguasai instrumen musik itu, sementara aku hanya mempelajarinya dengan setengah hati, itu pun hanya karena ingin bisa seperti dirinya. Dia mulai memetik senarnya dan suaranya mengalun indah membuatku merasa seakan berada di surga bersama seorang malaikat. Aku heran, darimana dia dapat bernyanyi seindah ini.
“One thing, I want one thing
One thing, I want something
Just one thing, I want ask no more
I have one thing, just one thing
I want you to bury me, in someone else’s grave...”
Setelah selesai, dia menoleh kepadaku dan tersenyum, “Charlotte, bagaimana pendapatmu?”
Aku membalas senyumnya sebelum berkata, “Well, Erick, apa maksudnya itu? Kenapa kau ingin dikuburkan di kuburan orang lain?”
Erick, saudara kembarku, meletakkan gitar di sampingnya dan memberikanku senyuman yang sama. “Lagu itu kupersembahkan padamu. Bukan aku yang meminta dikuburkan di kuburan orang lain, tetapi kau yang akan memintanya.”
Perkataan Erick membuatku terdiam. Aku berusaha mencerna kata-katanya tapi bagaimana bisa hal seperti itu terjadi? Semua itu hanyalah lirik dalam sebuah lagu kan? Tidak akan mungkin terjadi di alam nyata. “Kenapa kau berpikir seperti itu Erick? Kenapa aku yang meminta dikuburkan di kuburan orang lain?”
Pertanyaanku menggantung di udara untuk beberapa saat. Erick memejamkan matanya, merasakan embusan angin menerpa wajahnya. Aku bisa mendengarkan suara daun-daun maple berjatuhan yang bergesek dengan permukaan aspal di depanku. Aku juga bisa mendengar suara mesin mobil tua tetangga kami yang meraung-raung di pagi hari mendung. Aku juga tahu Erick mendengar semua itu, dan dia pun membuka matanya, memandangku sekilas sebelum dia kembali mengambil gitar dan memainkannya. Satu lagu pendek lagi yang tidak pernah kuketahui dan tak kumengerti mengalun dari mulutnya.
“When someday, when we realize
We can’t remember those faces
Forget about the dim light
Forget about someone who shared the same womb
Forget about someone that we used to know...”
Erick kembali memandangku dan dia berkata. Perkataannya bagiku terasa sangat menyedihkan. “Suatu hari kau akan melupakanku, dan aku juga akan melupakanmu. Dan pada saat itulah kau akan meminta dikuburkan di kuburan orang lain.”
“Tapi...,” aku merasa tenggorokanku tercekat.
“Dengar Charlotte,” kali ini Erick berubah serius. “Aku mendapatkan sebuah penglihatan aneh. Dan oh, aku tidak mau membicarakannya denganmu. Tapi suatu saat kita akan terpisah, kita tidak akan pernah bertemu. Kau ada dalam bahaya, aku tidak berada di sana karena aku sudah mati. Kau harus mencari jalanmu sendiri, Charlotte.”
“Bagaimana bisa kau mengatakan hal seperti itu Erick?” aku merasa air mataku meleleh, tidak pernah ada yang membuatku menangis seperti ini kecuali perkataan Erick barusan. “Itu adalah hal yang paling kejam yang pernah kau katakan padaku. Bukankah kita akan selalu bersama?” tidak adakah yang bisa menghapus air mata ini? Aku benci sekali menangis! Aku harus bisa sekuat dan setegar Erick!
Saudara kembarku menggeleng sedih. Dia tidak berusaha menghapus air mataku yang telah jatuh, dia lebih memilih untuk memeluk gitarnya. Semua hal ini hanya membuatku sakit. Langit mendung dan angin yang menerpa kuat pun hanya menambah buruk suasana. “Kau harus mengerti!” Erick memeluk gitarnya semakin erat. “Kita tidak bisa terus bersama. Dari lahir takdir telah menentukan nasib kita. Kita selama ini mengikuti perjalanan yang lurus dan terjal bersama-sama. Namun di tengah perjalanan itu, persimpangan telah menunggu untuk memisahkan jalan lurus yang telah kita lewati. Kedua jalan itu sama-sama terjalnya. Tidak ada gunanya untuk memilih bersama dalam satu jalan. Saatnya menjadi pribadi yang mandiri dan mengambil jalan sesuai dengan keinginan masing-masing. Karena pada akhirnya jalan itu membawa kita pada satu tujuan, yaitu kematian.”
Tidak ada yang bisa kukatakan. Otak dua belas tahunku tidak dapat mencerna semua ini dengan cepat. Aku ingin memutar waktu, memperbaiki semua kesalahan, tidak terus-menerus menjadi mata ketiga, keempat, atau berapa pun. Aku dan Erick akan menjadi yang diperhatikan, bukan lagi yang harus memperhatikan. Namun, itu semua hanya khayalan kosong yang membuang waktu. Apakah Erick tidak ingin terus bersamaku? Bukankah kami saudara kembar?
Forget about someone who shared the same womb
Forget about someone that we used to know
Erick, apakah kita akan benar-benar berpisah? Apa yang bisa memisahkan kita? Hidup di luar begitu sulit dan aku merasa tidak akan sanggup menjalaninya tanpamu, Erick. Aku selalu berusaha untuk jadi seperti kau, tapi kau tahu bahwa aku tidak akan pernah bisa jadi sepertimu. Aku adalah yang lemah! Seorang saudara yang hanya bisa menggantungkan hidupnya di pundak saudaranya yang lain. Aku yakin sekali jikalau tidak ada kau di sini mungkin aku sudah memutuskan untuk bunuh diri. Karena hanya engkaulah Erick, saudara kembarku, orang satu-satunya di keluarga ini yang selalu ada untukku. Selalu mau menjadi penonton bersamaku, terdiam membisu menyaksikan apapun kejadian di sekitar kita. Ingin sekali kuteriakkan semua kalimat itu kepada Erick, namun sampai saat ini semuanya masih kusimpan di dalam hati saja, walau ku harap Erick mengerti. Dia pasti tahu apa yang kurasakan.
Mata saudara kembarku menatap jauh ke depan. Tidak, dia tidak memandang ke arah pohon maple, pandangannya lebih jauh dari itu seakan-akan dia melihat masa depan kami terbentang dihadapannya. Suatu hal, apa pun itu mengagetkannya, bisa kulihat dia agak sedikit tersentak dan menggelengkan kepalanya karena tidak percaya. “Charlotte, dengarlah suara angin, dengarlah burung-burung bernyanyi di pagi hari musim semi, dengarlah rintik hujan yang jatuh membasahi bumi, dengarlah apa yang disampaikan alam kepadamu. Aku menitipkan pesan-pesanku dan kau akan mendengarnya melalui desau angin, air beriak, dan dentingan hujan, karena kita tidak akan bersama lagi. Waktu kita semakin sempit.”
Aku tahu ini tidak masuk akal! Ini hanya sebuah ilusi jahat yang diciptakan oleh pikiranku! Erick tidak mungkin berkata seperti itu. Ini bukan Erick yang kukenal, dia sudah menjadi orang lain yang berbeda sama sekali.
I want you to bury me, in someone else’s grave
Jadi begitukah? Apakah pada akhirnya saudaraku sendiri akan menjadi orang lain? Tahun-tahun berikutnya akankah aku tidak mengingatnya lagi? Aku menatap Erick, dia pun melakukan hal yang sama. Mulut kami terkatup rapat, kami tahu pikiran kami masing-masing. Dan walau aku tidak percaya, sesungguhnya aku takut. Takut kalau apa yang dikatakan Erick benar-benar terjadi. Dengan satu helaan napas, Erick meninggalkanku sendirian. Sendirian. Betapa menyakitkan sekali kata itu kedengarannya.

Senin, 24 September 2012

Rights For Vina


Rights for Vina

Pada waktu itu hujan turun dengan derasnya mengguyur komplek perumahanku. Semua warga mendekam di rumah mereka masing-masing bagaikan tikus-tikus yang bersembunyi di lubang mereka. Dan aku hanya duduk terdiam saja di dekat jendela memperhatikan jarum-jarum air dengan dahsyatnya jatuh dari langit, membuat suara berdengung aneh di telingaku. Kututup mata, lalu pikiranku melayang kepada kejadian yang sudah hampir sepuluh tahun yang lalu.
Ketukan di pintu menghancurkan lamunanku, memaksaku menoleh kepada siapa pun yang sekarang masuk ke kamarku. Tiba-tiba dadaku merasa sesak, tenggorokanku tercekat, dan mataku rasanya bisa keluar dari rongganya. Ini tidak mungkin, tetapi semuanya terasa begitu nyata!
“Kau terkejut bukan, Leira? Kau pasti bertanya-tanya kenapa aku bisa berada di sini? Aku masih punya tuntutan yang masih harus kutuntut darimu,” ujar orang yang berdiri di depanku.
Aku tidak tahu harus berbicara apa. Semua halusinasi ini benar-benar menyiksa!
“Kau pikir kau sedang berhalusinasi, Leira? Memangnya kau tidak lihat betapa nyatanya aku!” orang itu melotot marah sebelum menyeringai licik.
“Tapi kupikir...!” aku menelan ludah, merasa susah untuk mengatakan hal selanjutnya, “Kupikir kau sudah mati, Vira!”
“Namun aku hidup lagi untuk menuntut apa yang jadi hakku, Leira,” jawab Vina atau arwah Vina atau siapa pun dia.
Kebingungan akhirnya menggantikan rasa ketakutanku. Hak apa yang akan dituntut oleh Vina dariku?
“Sepertinya kau bingung, Leira. Marilah sekarang kita berjalan mundur ke sepuluh tahun yang lalu. Di saat semua ini terjadi, dan ingatanmu akan segar kembali sehingga kau bisa mengingat dengan jelas apa yang seharusnya menjadi hakku.”
Aku tidak tahu apa yang terjadi, tetapi yang kulihat sekarang adalah kami berdua, aku dan Vina, sepuluh tahun yang lalu, ketika kami masih kelas satu SMA dan baru saja selesai mengikuti MOS. Aku mengenal Vina karena kami satu grup ketika masa orientasi dan juga pernah dihukum oleh panitia MOS karena lupa membawa barang yang diminta untuk MOS hari pertama. Mulai dari sejak itulah kami berteman.
Kami sekelas dan kami pun duduk satu bangku. Kemana-mana kami selalu bersama. Aku menyukai Vina karena dia anaknya memang ramah dan pandai bergaul. Dia juga baik hati dan mau menolong siapapun. Tapi yang paling kusukai adalah dia itu tidak sombong, padahal dia adalah anak dari salah satu penyumbang terbesar untuk sekolah ini. Ayahnya memang seorang pengusaha yang sukses dan sekolah ini pun memang ditujukan kepada anak-anak kalangan atas. Aku memang tidak sekaya anak-anak yang lainnya, jadi aku sangat beruntung bisa menjadi teman baik Vina, karena aku sama sekali tidak menyukai sebagian besar anak lain yang selalu menyombong-nyombongkan kekayaan mereka seakan-akan itu benar-benar milik mereka! Padahal mereka semua masih minta kepada kedua orang tua mereka, yang menunjukkan bahwa kekayaan yang mereka sombongkan itu sepenuhnya masih milik orang tua mereka.
Ketika itu adalah hari Senin, 11 November 2002, waktu itu aku dan Vina berjalan bersama di sepanjang trotoar menuju rumahku. Rumahku memang lumayan dekat, sehingga aku hanya memerlukan waktu sekitar 15 menit untuk sampai di sekolah. Biasanya Vina yang mengajakku untuk ke rumahnya yang luar biasa besar, tetapi entah kenapa Senin ini sepulang sekolah, dia ingin sekali berkunjung ke rumahku. Memang selama kami berteman, dia hanya satu kali mengunjungi rumahku, di awal-awal kami berteman untuk mengerjakan PR Matematika, karena aku lumayan cemerlang di bidang itu. Namun setelah itu, baru kali inilah dia meminta untuk datang ke rumahku.
“Rasanya sudah bertahun-tahun aku tidak ke sana,” ujarnya sambil tersenyum, “Sepertinya kau tidak suka kalau aku datang ke rumahmu.”
“Bukan begitu,” kataku. “Hanya saja banyak masalah di rumah.”
Senyuman hilang dari wajah Vina digantikan dengan wajah yang menunjukkan rasa simpati. “Aku bukan mau ikut campur, tetapi kenapa kau tak pernah menceritakannya?”
“Itu bukan urusanmu,” jawabku, dan segera merasa menyesal mengatakan hal itu. “Maksudku, semua orang punya urusan pribadi masing-masing dan tidak enak rasanya menceritakan hal-hal pribadi tersebut.”
Vina mengangguk. Wajahnya tampak kecewa dan ia berusaha untuk menutupinya sebaik mungkin dengan senyumannya yang manis. “Baiklah, aku tidak akan bertanya-tanya lagi. Namun kalau kau merasa ingin menceritakan masalahmu, aku akan dengan sabar mendengarkannya kok.”
Aku ikut tersenyum dan berterima kasih padanya. Tentu saja aku tidak akan pernah punya keberanian untuk menceritakan masalah berat yang sedang menimpa keluargaku pada beberapa bulan ini. Ayah dan Ibuku akan bercerai, sementara kakakku masuk panti rehabilitasi karena narkoba. Itu terlalu memalukan untuk diceritakan, dan rahasia semacam itu harus kusimpan baik-baik untuk diriku sendiri.

Tidak terasa bahwa kami sekarang sudah tamat SMA. Tiga tahun yang telah kami jalani bersama rasanya baru seperti tiga hari. Roda waktu terus berputar cepat, tidak peduli apakah manusia suka atau tidak, karena kita semua harus terus berjalan menyongsong masa depan dengan jalan kita masing-masing. Tapi aku dan Vina terus bertekad bahwa kami akan selalu menjadi sahabat. Jadi kami mendaftar di universitas yang sama tapi dengan pilihan jurusan sesuai selera kami masing-masing. Aku mengambil fakultas hukum, karena aku bercita-cita jadi pengacara kondang, walau sepertinya itu agak mustahil. Aku memang orang yang selalu pesimis duluan tentang segala hal. Sementara itu Vina mengambil jurusan sastra Bahasa Inggris, yang membuatku menggeleng-geleng heran karena memang bahasa Inggrisku memang sangat pas-pasan.
Kami masih sama seperti dulu, walau sekarang beda fakultas. Aku punya teman-teman dari fakultasku sendiri, dan Vina pun juga begitu. Tapi hubungan kami masih sekuat saat kami SMA dulu. Sampai sekarang aku masih belum menceritakan kepada Vina bahwa orang tuaku sudah bercerai, dan aku yang lebih memilih untuk tinggal di rumah Paman, daripada harus memilih harus tinggal bersama ayah atau ibuku karena mereka berdua sama-sama sibuk dengan pekerjaan mereka. Dan syukurlah Vina tidak terlalu banyak menanyakan tentang keluargaku.
Pada suatu hari, musibah itu datang.
Ketika itu aku dan Vina sedang berjalan-jalan di trotoar sembari bersendau gurau tentang segala hal. Pada waktu itu hari memang telah malam dan jalanan menuju rumah Vina memang cukup sepi. Hal ini menyebabkan kami lebih leluasa untuk tertawa lepas tanpa harus mendapat tatapan aneh dari orang yang berlalu lalang. Namun ada yang aneh pada malam itu. Vina seperti memikirkan sesuatu. Aku bisa menangkap itu dari sorot matanya yang memancarkan kecemasan. Hal itu membuatku gelisah, sendau gurau kami seketika berhenti digantikan dengan kebisuan yang sangat tidak nyaman.
“Leir,” panggilnya dengan suara yang lain daripada biasa, “Aku tahu ini aneh. Tapi aku punya hak untuk tahu.”
“Tahu tentang apa?” tanyaku penasaran. Sejak kapan Vina suka beraneh-aneh begini?
Dia terdiam sebentar sebelum melanjutkan, “Kita sudah bersahabat sejak lama. Sebelum aku bertemu denganmu, aku tidak pernah punya sahabat. Mungkin aku punya beberapa teman, tetapi mereka tidak pernah ada yang sampai ke tahap sebagai sahabat yang sesungguhnya. Mereka berteman denganku hanya karena aku kaya jadi mereka bisa memanfaatkanku. Namun kau berbeda. Kau memang bukan orang kaya, tetapi kau tidak pernah memanfaatkanku. Coba pikir, kapan kau pernah pinjam uang atau minta dibelikan sesuatu olehku? Rasanya tidak pernah kan? Selain itu kau pengertian walau agak misterius karena nampaknya kau menutup-nutupi sesuatu tentang keluargamu. Aku tidak akan menanyakan hal itu karena kau tidak pernah nyaman membicarakan tentang keluargamu. Tetapi aku ingin mengatakan sesuatu kepadamu.”
Vina memandangku sebentar dan mengalihkan pandangannya ke depan, “Ini tentang diriku dan keluargaku. Aku ini sebenarnya bukanlah anak kandung orang tuaku. Aku ini anak yatim piatu yang mereka ambil dari panti asuhan saat umurku tujuh tahun dan menganggapku sebagai anak mereka. Mereka memang sayang kepadaku, tetapi entah kenapa dalam hatiku ada sesuatu yang mengatakan bahwa ini salah. Aku bukan anak kandung mereka, tetapi aku menikmati apa saja yang diberikan mereka. Itu bukan berarti aku tidak berterima kasih kepada mereka. Percayalah aku sangat menghargai dan menyanyangi mereka, tetapi aku kesepian. Mereka itu adalah keluarga tertutup dan mau tidak mau aku harus mengikuti gaya hidup mereka. Dan harus kuakui, itu sangat menjengkelkan! Aku dulu tinggal di panti asuhan, aku suka bergaul dengan anak-anak yang lain, dan aku tidak suka berdiam diri di rumah seharian. Ayah dan Ibu tiriku melarangku mempunyai banyak teman, jadi aku merasa sangat bosan sekali. Kau tahu tidak, bahwa baru kau yang kuajak ke rumahku, itupun kulakukan secara diam-diam. Mungkin kau tidak sadar, tetapi kau pasti berpikir juga kenapa setiap ke rumahku kita harus lewat pintu belakang. Karena orang tua tiriku berada di ruang depan, dan mereka mungkin tidak akan membiarkanku untuk membawa teman ke rumah. Dengan sedikit bantuan dari para pelayan, dan voila! Ayah dan Ibuku tidak akan tahu bahwa kau datang.”
Dia berhenti lagi, untuk mengatur napasnya. Memang selama dia menceritakan kisahnya, dia terlihat begitu emosional dan menggebu-ngebu. Kemudian dia melanjutkan lagi, “Aku tidak pernah tahu apa alasan mereka untuk mengurungku dari dunia luar, dan nampaknya aku tidak akan pernah tahu. Kemudian aku mulai berpikir, mungkinkah hidupku akan sesepi ini terus? Apa mungkin nanti ketika aku mati, tidak ada satupun orang yang benar-benar peduli padaku menangisi kematianku? Kita semua punya hak untuk memilih teman, sahabat, pacar, suami, atau apa saja, tapi kemanakah hakku? Kau tahu Leira, hidupku bagaikan dikurung. Di luar mungkin kau melihat bahwa aku baik-baik saja, tapi ternyata tidak begitu. Aku kehilangan hakku. Aku kehilangan hakku untuk memilih sahabat ataupun pacar, bahkan jodohkupun sudah ditentukan oleh orang tuaku! Padahal setahuku jodoh itu ada di tangan Tuhan, namun coba kau bayangkan Leira, aku akan menikah, sehabis wisuda nanti, padahal aku masih punya mimpi-mimpi yang mau kuwujudkan. Dan calon suami yang dipilihkan oleh kedua orang tuaku, malah sama sifatnya dengan orang tuaku. Dia juga pasti akan mengurungku, menjadikanku tawanannya. Aku tidak akan boleh keluar rumah, tidak boleh berhubungan dengan orang lain lagi, benar-benar calon suami yang kejam ya?” dia tertawa lirih. Tawa yang hampa, hanya sekedar ekspresi dari hatinya yang telah disakiti. Aku tidak tahu harus berbuat apa untuk menghentikan tawanya yang sudah seperti orang gila itu, jadi aku mengelus-ngelus pundaknya dengan lembut.
Dia berhenti tertawa, dan air mata mulai membasahi pipinya, tetapi dia kembali melanjutkan, “Hanya kau yang peduli dengan hidupku. Kau mungkin satu-satunya orang yang tepat yang bakal menangisiku ketika aku mati, karena air matamu murni. Bukan seperti air mata palsu keluargaku yang picik dan egois itu. Bolehkah aku menuntut sesuatu padamu Leira? Sesuatu hak, untukku. Hak bagiku, untuk yang terakhir.”
Perkataannya membuatku terkejut. Pembicaraan macam apa ini? Kataku dalam hati. Ini seperti semua pesan kematian darinya, tidak mungkin kan kalau dia...

Bayangan masa lalu tiba-tiba memudar dari hadapanku. Aku dikembalikan lagi ke dunia sekarang, di mana arwah Vina berdiri di depanku. Sekarang baru kuingat, aku telah berjanji untuk memberikan Vina hak terakhirnya. Dan janji itu sudah kulanggar. Kejadian itu sudah lama, Vina meninggal, dia bunuh diri dengan menggantung diri di kamarnya. Dia tidak tahan lagi dengan segala peraturan ketat yang mengekang dirinya. Dia tidak mau dijodohkan dengan lelaki yang malah hanya menambah jerat disekelilingnya sehingga bahkan untuk melangkah pun rasanya susah sekali. Dia sudah mengatakan bahwa hanya akulah yang benar-benar ditunggunya untuk datang pada acara pemakamannya, namun aku malah tidak datang.
Itu sebenarnya bukan sepenuhnya salahku. Aku baru saja mendapatkan berita kematiannya sehari setelah acara pemakamannya, karena pada waktu itu aku punya praktek dokter di daerah pedalaman dan komunikasi di sana sangatlah terbatas. Setelah menerima berita itu, aku langsung meninggalkan pekerjaanku dan berangkah menuju tempat di mana Vina dimakamkan. Aku tahu aku tidak bisa memenuhi haknya, aku tidak hadir di acara pemakamannya dan menangis untuknya di sana. Tetapi ketika aku melihat kuburannya, aku tahu bahwa aku benar-benar menangis. Aku menangis untukmu Vina.
“Tapi itu belum cukup,” ujar arwah Vina. “Kau tidak datang. Selama pemakaman berlangsung aku sendirian, walaupun aku sudah jadi mayat, tapi aku melihat dari atas sana, bahwa aku hanya dikelilingi oleh keluarga-keluarga yang bukan merupakan keluargaku yang sebenarnya, bahwa kau tidak ada di sana.”
“Kalau begitu, bagaimana bisa aku memperbaikinya?” tanyaku lirih dan kurasakan bahwa badanku gemetaran.
Dia tersenyum, senyum yang menakutkan. “Oh, kau bisa memperbaikinya, namun tidak sekarang. Bukan waktumu untuk memperbaikinya sekarang Leira. Jalanilah hidupmu, aku hanya datang sekedar untuk mengingatkanmu bahwa aku selalu akan menagih janji. Teruslah hidup dan ketika ajalmu mendekat, aku yang akan berperan sebagai malaikat kematianmu, dan dari situlah kau bisa memperbaiki semuanya.” Setelah mengucapkan kalimat itu, dia menghilang bagai disapu angin.
Apa ini hanya mimpi? Tidak, terlalu nyata untuk jadi mimpi. Aku terdiam dengan tubuh yang masih gemetaran sambil berpikir apa maksud dari perkataan arwah Vina barusan.
End...

Senin, 10 September 2012

Cerbung : Don't Sleep on the Bed Bab 7+Epilog


Bab 7

AKU MENUNGGU SAMPAI MALAM TIBA.
Semua sudah semakin jelas dan nggak ada lagi yang perlu disembunyikan. Aku mengkhawatirkan nasib Ibu, apa dia akan baik-baik saja? Kenapa aku punya semacam firasat bahwa ada sesuatu hal buruk yang akan menimpanya? Kenapa aku merasa bahwa ramalan nenek untuk Ibu akan segera terjadi?
Aku sendirian di kamar ini. Tak ada siapapun bahkan tak ada hantu yang berkeliaran di sini. Ternyata selama ini aku berada di jalan yang salah. Aku terlalu mempercayai hantu-hantu yang selama ini kuanggap baik padaku. Ternyata hantu itu juga bisa berbohong, benar apa kata Claudia. Jam sudah menunjukkan pukul setengah delapan lebih sedikit ketika aku mendengar ada yang membuka pintu dengan suara keras. Aku harap itu Ibu, jadi aku berdiri dari kursiku dan hendak pergi keluar, namun sebuah suara yang sudah sangat kukenal menahanku, “Tunggu dulu Bianca! Kau mau kemana?”
Dengan gerakan lambat aku berbalik dan tersenyum manis ke arah Clara. Hantu itu agak heran melihatku namun dia ikut tersenyum. “Halo Clara. Bagaimana dengan pengintaianmu terhadap lelaki misterius itu?” tanyaku dengan nada biasa supaya nggak menimbulkan curiga.
“Oh ya!” dia menepuk keningnya sendiri. “Mereka akan datang ke sini Bianca, gawat sekali! Bisa saja besok atau mungkin lusa! Mereka sepertinya benar-benar berkeinginan untuk segera membangkitkan kembali ritual kuno itu. Kau harus berhati-hati dan mana Ibumu? Mungkin sudah saatnya kau memberitahukan ini kepadanya.”
Aku membuat ekspresi terkejut yang dramatis. “Ya ampun! Jadi, apa yang harus kita lakukan?” aku rasa aku nggak berbakat akting.
Clara mengelus-ngelus dagunya sebelum berkata. Suaranya kali ini terdengar dalam dan mengandung arti lain di baliknya. “Aku mungkin bisa menahan mereka, lagian mereka kan manusia. Tapi aku nggak tahu dengan hantu mereka. Mereka pasti punya hantu yang memudahkan mereka untuk mengambil lembaran sakramen itu.”
“Tapi kau kan pernah bilang bahwa hantu yang mau menuruti permintaan manusia adalah hantu yang lemah?” sindirku teringat dengan perkataan Clara beberapa minggu lalu.
Muka Clara nggak berubah sama sekali seakan dia nggak menangkap sindiran dari perkataanku tadi. Terdengar suara kaki yang menaiki tangga. Aku menatap sebentar ke pintu dan berbalik lagi ke arah Clara. “Sepertinya mereka sekarang sudah di sini. Apa yang harus kita lakukan Clara, atau mesti kupanggil anaknya Ibu Marsita, istri kedua Alfred?” aku tersenyum penuh arti kepadanya.
Mata kanan Clara terbelalak dan akhirnya keluar dari rongganya lalu jatuh terhempas di lantai. Clara nampaknya nggak berniat sedikitpun untuk mengambilnya. Dia berkata dengan suara agak gemetar, suara yang tak pernah dia keluarkan sebelumnya, “Bagaimana kau tahu akan hal itu?”
“Jadi kau mengakuinya kan?” aku tersenyum makin lebar. “Aku sudah tahu semuanya. Ternyata bukan hanya manusia yang bisa berbohong tapi hantu pun bisa berbohong.” Aku berjalan mendekati Clara sambil menyilangkan kedua tanganku di depan dada. Entah darimana aku mendapatkan keberanian ini. Setelah aku benar-benar berada di depannya, aku memandang langsung matanya yang hanya berupa lubang kosong sekarang. “Kau membohongiku selama ini. Kau berpura-pura menjadi temanku dan menolongku memecahkan misteri ini padahal kau sudah tahu semuanya. Kau berpura-pura tentang semuanya dari awal. Claudialah yang seharusnya jadi penunggu tempat tidur ini tetapi entah darimana caranya, kau berhasil mengusirnya dan menempatkannya di ruang bawah tanah yang seharusnya menjadi tempatmu. Suara yang kita dengar itu sebenarnya adalah suaramu sendiri, kau berusaha menakut-nakutiku dengan menciptakan suara seakan-akan itu berasal dari sesuatu yang tak tampak. Dan aku juga baru ingat kalau kau bisa berbicara tanpa menggerakkan bibirmu. Kau pada waktu itu bersikeras menolak turun ke bawah karena takut kalau hantu Claudia akan mendatangimu dan mengacaukan semua rencanamu. Kaulah yang menciptakan mimpi untukku ketika aku terbaring di atas tempat tidur di ruangan itu, karena sebenarnya tempat tidur itulah yang merupakan kepunyaanmu. Apa aku benar?”
Clara menyeringai menampakkan gigi-gigi taringnya. Dengan cepat tanpa kusadari tangannya melayang dan mengenaiku sehingga aku menabrak dinding dengan sangat keras. Aku bisa merasakan sakit di hampir seluruh tubuhku. Pintu kamarku terbuka dan masuklah dua orang berjubah hitam, orang-orang yang mencuri lembaran sakramen itu. “Bagus Clara, anakku,” kata seorang dari mereka yang memakai topeng. Dia membuka topengnya dan nampaklah wajah wanita setengah baya berumur pertengahan limapuluhan. Walau dia sudah tua sekarang, tapi garis-garis kecantikan yang dulu pernah dimilikinya masih ada. Perempuan ini adalah Marsita, Ibunya Clara. “Aku pasti akan menepati janjiku padamu.”
Aku merasa pusing yang amat sangat namun aku masih sadar. Aku masih bisa mengungkap kebenaran dari misteri ini. Aku memandangi Marsita tajam dan berseru memanggilnya. “Hei kau! Dasar nenek jahat!”
Marsita menoleh dengan marah ke arahku. “Apa yang kau katakan tadi anak kurang ajar!?”
“Aku bilang kau nenek jahat! Kau membunuh suamimu sendiri, kau menjadikan anakmu sebagai tumbal sebuah ritual kuno menjijikkan, kau menghancurkan keluarga ini dan kau adalah buronan polisi! Sekarang kau kembali ke sini 23 tahun setelah kejadian ini hanya untuk membangkitkan sekte konyolmu itu! Benar-benar tidak berperikemanusiaan!” aku meludah ke arahnya. Mungkin ini nggak patut dicontoh, tapi wanita ini pantas mendapatkannya.
Marsita hanya tersenyum sinis saja mendengar ocehanku. “Kau katakan hal itu sekali lagi bocah, maka kau akan melihat ini.” Dia memberi isyarat kepada lelaki di sampingnya dan lelaki itu pergi keluar kemudian masuk lagi dengan menyeret seonggok mayat dari seseorang yang sangat kukenal. “Kau tahu siapa dia?”
Mataku terbelalak demi melihat siapa mayat di depanku ini. Mayat itu benar-benar dalam keadaan mengerikan. Kelopak matanya telah dipotong, alisnya telah dicukur habis, mulutnya menganga menampakkan lidahnya yang telah hilang, kepalanya berdarah-darah seperti dipukul dengan benda keras, di tubuhnya terdapat tiga luka tusuk, satu di perut, dua di bagian dada. Darah segar mengucur dari luka itu, darah Ibuku. “Apa yang kau lakukan!? Dasar kau wanita brengsek!” aku nggak tahu apa yang sebenarnya yang kulakukan, aku berdiri tegak dan menyerang wanita itu, tapi lelaki itu dengan sigap menghalangiku, menarik kedua tanganku ke belakang dan memukul kepalaku keras-keras. Aku menjerit kesakitan sebelum akhirnya jatuh pingsan.

Awalnya aku sama sekali nggak tahu apa yang terjadi denganku ketika aku membuka mata setelah pingsan dari pemukulan itu. Pertama yang aku lihat dengan penglihatan kabur adalah seseorang di depanku yang memakai jubah hitam. Kemudian aku mendengar suara perempuan, tapi aku sama sekali nggak ngerti dia ngomong apa. Setelah akhirnya benar-benar merasa baikan, aku dapat melihat dengan lebih jelas di mana aku berada. Aku berada di ruang bawah tanah, aku terbaring di tempat tidur dengan kedua tangan dan kaki terikat di setiap ujung tempat tidur. Aku menoleh ke arah kiriku dan melihat wanita yang kukenal. Dia sedang membaca lembaran sakramen dalam dua bahasa itu. Mungkin dia sedang membaca bagian yang berbahasa             Latin makanya aku sama sekali nggak mengerti satu kata pun yang diucapkannya. Wanita itu berhenti membaca dan memandang ke arahku dengan senyuman licik terukir di bibirnya. “Ternyata kau sudah bangun?”
“Aku benci kau, wanita brengsek!” umpatku dengan suara lemah. Entah kenapa aku merasa sama sekali nggak punya tenaga bahkan untuk berbicara. Ritual ini pasti punya sesuatu yang membuat siapa pun yang menjadi tumbalnya akan kehabisan tenaga dan tak bisa melawan.
Dia hanya tersenyum saja mendengar umpatanku dan meneruskan kembali membaca lembaran sakramen di tangannya. Berapa banyak waktu yang dibutuhkan untuk membaca lembaran sial itu? Apa dia harus membaca semuanya?
“Kau membunuh Ibuku, aku nggak akan memaafkanmu,” aku mulai berbicara lagi, tapi wanita itu terus membaca seolah-olah dia tuli. “Awalnya kau ingin menumbalkan Claudia namun sebuah surat peringatan dari sektemu memberitahumu bahwa ada perubahan rencana dan kau harus mengorbankan anak kandungmu sendiri. Maka daripada itu kau membawa anakmu pulang ke Indonesia. Artikel di koran itu, tentang istri membunuh suaminya adalah tentang kau. Aku nggak tahu kenapa polisi sampai tak bisa menangkapmu, jelas kau adalah buronan polisi tingkat tinggi.” Wanita itu sama sekali nggak peduli atau mengatakan apa pun. Aku ragu kalau dia mendengarkanku. “Setelah 23 tahun kau bersembunyi dari kejaran polisi, kau berusaha untuk membangkitkan ritual kuno ini lagi. Kau tahu bahwa hantu Clara akan mendatangimu untuk menuntut balas, namun entah apa yang kau janjikan padanya sehingga dia malah berbalik untuk menjadi sekutumu. Apakah karena dia begitu sayang dengan Ibunya atau ada sesuatu selain dari itu?” aku menatap Clara yang berdiri agak jauh di sebelah kiriku, dia pun menatapku tapi dia sudah berubah. Dia bukan lagi Clara yang kukenal yang selalu di sampingku. Kami bukan teman akrab lagi sekarang.
“Aku minta maaf Bianca,” akhirnya Clara berkata dengan nada penuh penyesalan. “Selama ini aku sengaja mendekatimu dan berpura-pura menjadi sahabatmu hanya sekedar jebakan. Ini semua adalah perintah Ibuku, dan aku nggak kuasa menolaknya. Pak Kasim atau Paman Bibir Tebal mendapat perintah dari Ibuku untuk menjual rumah ini setelah 23 tahun dibiarkan kosong. Dia sengaja menjual dengan harga murah dan Ibumu membelinya. Maka daripada itu aku datang kepadamu dan semenjak aku datang hantu Ibu Angela dan Alfred hilang begitu saja. Aku yang membuat mereka begitu, kau tahu kan maksudku? Aku takut kalau-kalau mereka menceritakan sesuatu kepadamu tentangku, jadi aku terpaksa berbuat begitu.” Dia membuang mukanya ke arah lain.
“Jadi kau menyingkirkan hantu Ibu Angela dan Alfred? Pantas sebulan lebih ini aku nggak melihat mereka lagi. Dan Paman Bibir Tebal ternyata punya andil dalam rencana kalian. Aku sudah tahu bahwa semua yang selama ini baik kepadaku ternyata hanya berbohong saja. Hantu-hantu yang pernah kau undang itu juga nggak mengatakan kebenaran, kau telah mengancam mereka karena mereka punya tingkatan lebih rendah darimu. Kenapa semua orang harus berbohong? Kenapa kalian yang mati pun harus berbohong?” aku nggak sadar tiba-tiba saja aku menitikkan air mata.
Wanita itu telah selesai membaca dan memandangku dengan tatapan tajam. “Berhenti menangis. Air matamu tidak ada artinya lagi, sekarang tidak akan ada yang bisa menyelamatkanmu. Ritualnya akan kita mulai.” Marsita memanggil lelaki yang sedari tadi diam itu. Lelaki tersebut mendorong sebuah meja dan memberhentikannya di samping Marsita. Wanita tua itu mengambil belati berhias bulu gagak yang sudah sangat kukenal. “Aku tidak punya anak yang lain, tapi aku rasa untuk ritual ini ada pengecualian.” Dia melambai-lambaikan pisau itu di depanku, “dan memang korban yang tepat itu selalu anak-anak.”
Marsita memegang gagang pisau itu dengan kedua tangannya dan bersiap hendak menusukku. Aku memejamkan mata, merasa sangat nggak bertenaga dan pasrah menerima apa yang akan terjadi. Aku nggak percaya kalau aku bakalan mati dengan cara seperti ini. Aku akan jadi hantu berupa jelek, seperti Clara si Pengkhianat. Aku bisa merasakan ajal yang semakin dekat, kemudian terdengar suara seseorang, suara yang kukenal.
Aku membuka mata dan melihat di depanku berdiri Paman Bibir Tebal dengan mulut terbuka lebar. Marsita terbelalak melihat kedatangan Paman Bibir Tebal yang tiba-tiba ini. “Kenapa kau bisa ada di sini Kasim!?”
Paman Bibir Tebal masih belum paham dengan apa yang terjadi di depannya. Dia memandang heran sesaat ke arah Marsita dan bertanya dengan suara gemetar, “Aku, aku tidak mengerti ini Nyonya, apa yang kau lakukan kepada Bianca?”
“Kau lebih baik diam saja Kasim! Aldi!” Marsita memanggil lelaki yang menjadi kaki tangannya tersebut dan dengan tangannya yang kekar dan lincah, Aldi segera meringkus Paman Bibir Tebal dan memukul perutnya kuat-kuat sehingga Paman Bibir Tebal jatuh pingsan. Aku memekik tertahan. Sekarang nggak ada lagi harapan bagiku. “Bawa lelaki itu keluar dari ruangan ini!” perintah Marsita lagi kepada kaki tangannya.
Aku melirik ke arah Clara yang nampak nggak tenang. Wajahnya menunjukkan ekspresi antara takut dan bingung, entahlah yang mana. Nampaknya Marsita alias ibu kandungnya memperhatikan gerak-gerik hantu anaknya itu dan tersenyum licik yang memuakkan. “Clara sayang, kau tidak perlu mencemaskan keadaan temanmu ini. Dia bukan temanmu dan setelah ritual ini selesai kau akan jadi manusia seutuhnya lagi dan mempunyai banyak teman. Bukankah kau sudah menyetujui perjanjiannya?”
Jadi manusia seutuhnya? Sekarang aku mengerti kenapa Clara menjadi budak Ibunya. Dengan dibangkitkannya kembali ritual ini Ibunya membujuk Clara dan menjanjikan dia bahwa dia akan menjadi hantu tingkat sepuluh dan kemudian berubah menjadi manusia seutuhnya. Dengan begitu dia bisa berkumpul bersama-sama lagi dengan Ibunya seperti manusia normal. Aku sama sekali nggak menyangka.
Marsita tersenyum licik lagi sebelum kembali terfokus padaku. Dia kembali memegang belati dengan erat dan sekali lagi mengarahkan benda itu tepat dimana jantungku berada. Nenek, dimana kau sekarang? Aku tahu bahwa mimpiku itu benar, bahwa nenek menyampaikan pesannya kepadaku kalau dia akan membantuku dan sekarang aku butuh bantuannya. Nenek, tolong aku.
Aku nggak tahu apa yang terjadi kemudian, namun ketika aku membuka mata, mataku langsung silau ketika melihat cahaya putih terang di atasku. Ada cahaya putih terang menyilaukan di atas kami semua seakan-akan itu cahaya dari surga. Marsita menjatuhkan belatinya dan Clara dengan mulut menganga menatap langsung ke cahaya itu. Cahaya apa itu sebenarnya? Apa itu adalah bantuan nenek untukku?
Tubuh Clara yang  tertimpa oleh cahaya itu perlahan-lahan mulai berubah menjadi abu. Satu-persatu dari setiap anggota tubuhnya berubah jadi abu seperti terbakar oleh cahaya putih itu. Dia berteriak frustasi melihat tubuhnya sendiri dan pada akhirnya dia sepenuhnya menjadi abu. Dia sudah mati lagi, menjadi hantu yang tak akan pernah kembali ke alam baka dan hanya akan menjadi abu yang nggak berguna. Tali yang mengikatku terlepas sendiri dan aku bisa berdiri tegak kembali.
“Clara!” pekik Marsita dan dia segera mendekati abu anaknya. Dia mengenggam abu itu dengan isak tangis yang tak tertahankan. Aku mengambil belati yang tadi dijatuhkan olehnya dan mendekati perempuan itu yang masih meratapi kematian anaknya yang menjadi abu.
“Kau sudah membunuh Ibuku,” aku bergumam pelan dibelakangnya, “Dan kau juga harus mati.” Aku mengarahkan belati itu ke arahnya namun dia dengan cepat menghindar.
“Kau tidak bisa membunuhku secepat itu, bocah!” serunya tapi aku nggak mau tahu. Aku melayangkan belati itu ke arahnya lagi dan dia menangkap pergelangan tanganku lalu merebut belati yang kupegang. Kemudian dia memelintir tanganku kebelakang sampai aku menjerit kesakitan. “Diam atau kubunuh kau!” ancamnya sembari mendekatkan belati yang dipegangnya ke leherku.
Cahaya putih terang yang tadi menyinari kami menjadi menyempit sehingga hanya sebatas cahaya yang mirip dengan cahaya lampu yang biasa dipakai di panggung-panggung. Cahaya itu membentuk sosok samar, seorang gadis remaja yang aku lihat di mimpiku yang merupakan reinkarnasi dari nenekku kini berdiri di depanku. Aku dan Marsita sama-sama takjub melihat sosok itu di depan kami. “Si, siapa kau?” tanya Marsita dengan nada gemetar. “Ke, kenapa kau bisa ada di sini?”
Sosok gadis remaja itu nggak menjawab. Dia mengulurkan tangannya dan belati yang menempel di leherku sekarang berpindah ke tangannya. Belati itu kemudian berubah menjadi abu. Marsita langsung terkejut melihat kejadian itu. Dia mundur kebelakang sambil masih menyanderaku namun akhirnya dia terpojok menabrak dinding batu di belakangnya. “Aldi!” panggilnya kepada kaki tangannya. namun setelah dipanggil beberapa kali, lelaki itu sama sekali nggak datang.
“Percuma saja,” akhirnya sosok gadis remaja itu berbicara, “aku sudah menutup lubang itu dan sekarang ruangan ini menjadi kedap suara. Dia tidak akan mendengar apapun dari atas sana.”
“Brengsek!” desis Marsita marah. “Kau tidak bisa membunuhku. Aku akan membangkitkan ritual ini kembali dan anak ini akan menjadi tumbalnya!” dia mencekik leherku dan tertawa setan, “Anak ini akan mati!”
Sosok di depan kami mengulurkan tangannya lagi dan Marsita menjerit keras. Dia melepaskanku dan memegang dadanya. Dari mulutnya keluar darah segar dan dia jatuh ke tanah sambil masih memegangi dadanya atau lebih tepatnya jantungnya. Nampaknya sosok gadis remaja itu meremas jantungnya dari dalam dan akhirnya Marsita mati dengan mata membelalak.
Aku tertegun diam melihat semua ini. Sesaat aku nggak bisa mengatakan apa-apa dan menoleh ke arah sosok gadis remaja tersebut. Dia tersenyum kepadaku dan perlahan-lahan tubuhnya kembali menjadi cahaya putih yang menyilaukan sebelum akhirnya benar-benar menghilang dari hadapanku. Dengan sisa-sisa tenaga yang ada aku berusaha bangkit dan keluar dari ruang bawah tanah ini. Sesampainya di atas, aku sama sekali nggak melihat tanda-tanda kaki tangan Marsita, si Aldi itu jadi aku terus melangkah secara pelan-pelan keluar dari kamar. Aku berusaha untuk nggak melihat mayat Ibu yang masih teronggok di depan pintu kamar walau rasanya sangat sulit untuk melakukannya.
Ketika hendak menuruni tangga, aku melihat sosok Aldi dan Paman Bibir Tebal di ruang tengah. Paman Bibir Tebal sedang pingsan dan terikat di kursi sedangkan Aldi duduk berjongkok di sebelahnya, sepertinya dia ketiduran. Aku bingung apa yang harus aku lakukan. Aku nggak mau mengambil resiko untuk turun secara diam-diam dan membebaskan Paman Bibir Tebal, tapi kalau dipikir-pikir kenapa aku mau membebaskannya? Dia kan masih punya andil dalam rencana kejam Marsita ini.
Tapi aku harus mengambil resiko itu. Jadi aku melangkah diam-diam menuruni tangga. Sesampainya di bawah aku melirik takut-takut ke arah Aldi yang memang sedang tidur dan melepaskan ikatan Paman Bibir Tebal.Aldi nampaknya orang yang ceroboh, dia sama sekali nggak mengikat Paman Bibir Tebal dengan kuat sehingga aku cukup mudah untuk membuka ikatannya. Paman Bibir Tebal masih belum sadar dan aku mulai bingung bagaimana cara membawanya. Namun kemudian aku punya ide. Aku pergi ke ruang tamu dan membuka pintu depan secara perlahan-lahan dan berlari keluar. Kalian tentu tahu apa yang akan kulakukan.
Di wilayah ini ada jadwal ronda dan itu dilaksanakan setiap malam. Pos rondanya sama sekali nggak jauh dari rumahku, jadi aku berlari ke arah pos ronda itu dan menemukan dua orang yang nampaknya baru saja menjalankan tugas mereka. Memang ronda ini dimulai dari jam sepuluh malam sampai jam empat pagi. “Tolong, tolong!” seruku kepada dua orang itu. “Ada pembunuh di rumahku dan kalian harus segera ke sana!”
“Apa? Ada apa?” seorang bapak berkepala plontos menanyaiku dengan raut keheranan. Ya tentu semua orang akan heran melihat seorang anak kecil datang lalu meminta tolong seperti aku ini.
“Tolong pak!” aku berusaha mengatur napasku yang sesak sehabis berlari. “Di rumah saya ada pembunuh dan dia sudah membunuh Ibu saya. Saya  berhasil lolos dari pembunuh itu namun saya yakin bahwa dia akan membunuh saya juga. Sekarang dia masih di rumah saya dan dia menyekap pelayan saya.”
“Kau serius, Nak?” bapak yang satu lagi bertanya. Dia membetulkan pecinya yang agak miring.
Aku mengangguk yakin. “Cepatlah Pak! Ayo ikut saya!”
“Wah, sepertinya anak ini bersungguh-sungguh,” kata si kepala botak. “Darmin kamu beritahu yang lain sementara saya mengikuti anak ini. Kalau memang ada pembunuh di rumahnya, kita perlu bala bantuan. Ayo Nak kita ke rumahmu.” Aku dan si kepala botak berlari menuju rumahku sedangkan si Darmin pergi untuk memberitahu warga yang lain.
Sesampainya di rumah, aku segera menarik bapak itu ke ruang tengah. Paman Bibir Tebal masih ada di sana dan masih pingsan, tapi si Aldi sudah nggak ada. “Pembunuh itu sudah nggak ada!” seruku kepada bapak kepala botak. “Tadi saya lihat dia berada di ruangan ini dan dia…” aku melihat bayangan seseorang bergerak cepat di lantai atas. “Itu dia!” aku menunjuk ke atas dan berlari menaiki tangga. Bapak kepala botak mengikutiku dari belakang.
Aku melihat Aldi masuk ke dalam kamarku dan aku pun mengikutinya. Namun ketika aku masuk, tangan kuat Aldi meringkusku dan dia menekankan moncong pistol ke pelipisku. Aku menjadi sandera lagi. “Berhenti!” perintahnya kepada bapak berkepala botak. “Diam di sana atau anak ini mati!” bapak berkepala botak itu mengangkat tangannya ke udara. “Sekarang kau minggir biar aku bisa membawa anak ini keluar.” Perintah Aldi kembali dituruti oleh bapak berkepala botak.
Dengan langkah perlahan sambil terus menekankan pistol ke pelipisku, Aldi pergi membawaku keluar dari kamar. Aku nggak mau menjadi sandera dua orang dalam satu hari, jadi ketika kami akan menuruni tangga aku melakukan suatu hal yang nekat. Aku mengigit dengan kuat tangan lelaki itu sampai dia menjerit kesakitan dan melepaskan dekapannya. Aku langsung berlari meninggalkannya. Aldi nggak begitu saja membiarkanku lolos, dia berlari mengejarku juga sambil terus memegang pistolnya.
Aku bisa mendengar suara orang-orang di luar, jadi aku mempercepat langkahku. Aldi masih mengejarku dari belakang, tapi aku nggak akan menyerah. Di luar, sudah banyak orang yang berkumpul. Aldi tak akan bisa lagi mencari gara-gara dengan orang sebanyak ini. Akhirnya aku selamat.
Aku selamat dan aku gagal menyelamatkan Ibuku. Ternyata memang bukan Ibu yang aku selamatkan sama seperti perkataan Clara dulu. Lalu siapa yang aku selamatkan?

Dua hari setelah kejadian itu membawa dampak psikologis yang cukup hebat bagiku. Untuk sementara waktu ini aku menginap di rumah Oma Hellen sampai bibi dan pamanku menjemputku. Aku sudah nggak punya Ibu lagi. Entah apa yang nanti akan terjadi kepadaku, apa bisa aku menjalani hidup ini tanpa sosok seorang Ibu? Apa sehabis ini aku akan tinggal di rumah paman dan bibi di Yogyakarta dan pindah sekolah lagi?
Aldi telah ditangkap. Polisi datang malam itu juga ke rumahku. Mereka menyisiri lokasi dan membawa jenazah Ibu berserta Marsita. Paman Bibir Tebal akhirnya tersadar dari pingsannya dan sekarang dia sudah nampak seperti biasanya lagi. Aku tahu bahwa Paman Bibir Tebal nggak salah apa-apa. Dia hanya menjalankan tugas dari Marsita untuk menjual rumah ini tanpa tahu sama sekali maksud dan tujuan sebenarnya dari wanita iblis itu. Aku benar-benar beruntung bisa selamat dari kejadian itu dan itupun berkat bantuan nenek. Ketika aku menceritakan semuanya tanpa ada satupun yang kututup-tutupi termasuk tentang ritual kuno, hantu Clara, dan cahaya putih menyilaukan serta sosok gadis remaja yang tiba-tiba muncul kepada polisi. Mereka terlihat bingung dengan penjelasanku dan akhirnya berkata, “Apa?” kata yang pernah kuduga sebelumnya bakalan diucapkan oleh mereka.
Acara pemakaman Ibu dilakukan sehari setelah kejadian tersebut. Sanak saudara kami nggak ada yang hadir satupun di pemakaman Ibu karena mereka semua tinggal sangat jauh dari sini dan berita ini baru saja sampai ke telinga mereka, jadi mereka nggak bisa datang ke acara pemakaman. Aku berusaha tegar ketika melihat mayat Ibu dimasukkan ke liang kubur dan para penggali mulai menguburnya. Rekan-rekan sejawat Ibu dan tetangga-tetangga kami berusaha menghiburku dan menguatkanku. Namun tetap saja terasa sakit bagiku untuk kehilangan Ibu di usia sepuluh tahun. Aku kehilangan Ayah di usia tiga tahun dan sekarang Ibu.
Aku merasa bahwa teka-teki dari misteri rumah itu masih belum sepenuhnya terjawab. Masih ada satu potong puzzle lagi yang perlu diletakkan dengan benar supaya semuanya menjadi jelas. Ibu Angela menyembunyikan Clarissa di suatu tempat dan tak ada satupun yang tahu dimana. Tak ada yang tahu juga apakah si Clarissa ini sudah meninggal ataukah masih hidup. Mengenai Clara, aku sudah memaafkannya. Dia sebenarnya hantu yang baik walau dia memang bisa jadi jahat dan ganas. Aku benar-benar nggak percaya bahwa dia memanfaatkanku selama ini hanya untuk supaya dia bisa mencapai tingkat sepuluh dan menjadi manusia seutuhnya. Sampai sekarangpun ketika aku memikirkan lagi kemungkinan itu, aku masih nggak percaya. Ternyata Claralah yang mencuri lembaran sakramen itu dari laci kamarku karena memang hanya dia yang tahu dimana aku menyimpannya. Dialah yang membuat suara gaib yang pernah kami dengar dan berpura-pura nggak tahu tentang lubang rahasia di bawah tempat tidurku. Benar kata hantu Claudia, bahwa bukan hanya manusia saja yang bisa berbohong. Jadi apakah selama ini hantu-hantu yang kutemui membeberkan kisah mereka dengan benar? Entahlah aku nggak tahu.
Hari ini aku nggak masuk sekola lagi karena masih dalam tahap penyembuhan dari trauma karena kejadian mengerikan itu. Aku sedang menyusun buku-buku pelajaranku ketika aku melihat buku catatan Claudia yang aslinya merupakan kepunyaan Marsita terbawa bersama buku-bukuku yang lain. Aku membawa buku itu dan duduk di sofa ruang tengah dimana di sana sudah ada Oma Hellen yang sedang merajut. Aku membuka buku itu dan isinya masih tetap sama. Aku membuka halaman terakhir dari buku itu dan baru menyadari ada sebuah alamat tertulis di sampul belakangnya. Alamat ini adalah alamat sebuah penginapan. Penginapan yang sudah kukenal baik karena aku pernah menginap di sana.
Sekarang aku tahu dimana Ibu Angela menyembunyikan Clarissa.

Siang itu juga dengan bantuan dari pelayan Oma Hellen, aku pergi ke penginapan di mana aku dan Ibuku pernah tinggal selama sepuluh hari sampai rumah kami selesai untuk dibenahi. Rumah dimana teman hantuku yang nggak pernah mau menyebutkan namanya tinggal. Aku masuk ke dalam dan harus berurusan dulu dengan bapak penjaga meja depan. Uh, andai aku punya kekuatan hantu yang bisa pergi kemanapun kita mau seperti menggunakan pintu ajaib Doraemon. Tapi untunglah bapak itu mengizinkanku untuk masuk ke kamar tempat aku dan Ibuku tinggal dulu. Selain itu kamar itu belum ditinggali oleh siapa-siapa. Setengah berlari aku menuju ke kamarku, merasa sudah nggak sabar lagi untuk melihat hantu temanku tersebut yang sudah kuketahui identitasnya sekarang.
Aku menemukan dia duduk di tempat tidurnya sambil bersenandung lembut. Dia langsung tersenyum melihatku. “Hei Bianca. Kau ke sini lagi? Dengan siapa kau ke sini? Rasanya kau sekarang nggak bersama hantu.”
“Memang nggak,” kataku lalu duduk di tepi ranjang. “Ada yang mau kukatakan padamu, ini menyangkut namamu yang nggak pernah kau sebut-sebut.”
Dia langsung terdiam mendengar perkataanku. “Mengenai itu…,” ujarnya malu-malu. “Aku…,”
“Nggak usah disebut aku juga sudah tahu kok,” ujarku dengan senyum lebar. “Apa kabar Clarissa, saudara kembar Claudia.”
dia sedikit tersentak ketika aku menyebutkan namanya. Namun kemudian dia tertunduk dan mukanya berubah menjadi sedih. “Maaf aku nggak menyebutkan namaku terlebih dahulu. Masalahnya kenapa aku nggak menyebutkan namaku karena kau akan pindah ke rumahku yang lama dan aku nggak kepingin kau tahu tentang masa laluku.”
“Tapi sekarang aku sudah tahu semua kok. Kau adalah anak yang pendiam dan jarang bergaul, sementara Claudia dia adalah anak periang dan dia pintar sekali melukis. Kau nggak menyukai saudaramu begitu pula ibu tirimu. Jadi ibu tirimu mempengaruhimu untuk memfitnah Claudia. Ibu tirimu meletakkan semua benda-benda ritualnya di laci meja belajar Claudia dan kau berpura-pura menemukannya dan mengadukannya kepada ayahmu. Ayahmu marah kepada Claudia dan saudaramu itu berubah dari anak yang membuat bangga keluarga menjadi anak yang membuat malu keluarga sehingga ayahmu mengurung Claudia di rumah. Dia nggak diijinkan keluar, mungkin dia frustasi, tapi yang jelas pagi itu dia meninggal secara mendadak sama seperti yang dikatakan pelayan rumah kalian itu. Lalu ibumu menuduh bahwa ibu tirimu yang membunuh Claudia padahal nggak. Yang jelas ibumu terlanjur paranoid dengan istri kedua suaminya dan kemudian membawamu kabur dari rumah. Namun kau memberikan alamat penginapan ini kepada ibu tirimu karena kau merasa suka kepadanya.” Aku menghentikan ceritaku untuk melihat ekspresi Clarissa. Dia hanya diam saja dan mendengarkanku dengan penuh perhatian. “Kau berbohong kepadaku bahwa kau meninggal di sini pada tahun 2002, padahal kau meninggal diracun oleh Ibu tirimu pada tahun 1988 tepat sebelum ibu tirimu melaksanakan ritualnya. Dia melakukan itu karena dia sama sekali nggak mau ada yang tahu apa yang dia lakukan dan kau menurutnya suda tahu terlalu banyak sehingga dia nggak mau mengambil resiko dengan membiarkanmu tetap hidup walau dia menganggapmu sebagai anaknya sendiri. Maka daripada itulah Ibu Angela pulang ke rumah malam itu untuk menuntut balas dan menyaksikan suaminya dibunuh oleh ibu tirimu. Bukankah begitu?”
Clarissa mengangguk lemah. “Ya, kau benar. Begitulah ceritanya. Maaf aku berbohong kepadamu, tapi memangnya hanya manusia saja yang bisa berbohong?” seulas senyum kini nampak di bibirnya yang pucat.
“Ya, aku tahu itu. Aku sangat tahu.” Aku pun ikut tersenyum.



Epilog

SEBULAN SETELAH KEJADIAN ITU…
Aku sekarang sudah pindah sekolah lagi. Paman dan Bibiku lah yang merawatku dan aku tinggal di Yogya bersama mereka. Aku sudah berusaha melupakan kejadian itu, namun tetap saja kematian Ibu membawa dampak yang menyakitkan buatku. Di rumah paman dan bibi aku nggak bisa lagi berbuat sesukaku seperti aku tinggal bersama Ibuku dulu. Walau mereka masih saudaraku juga, mereka punya dua anak lain yang juga masih bersekolah dan aku hanya numpang saja dengan mereka sampai aku benar-benar dewasa dan sudah mandiri.
Hesti dan Raka adalah anak paman dan bibiku. Hesti berumur 14 tahun dan Raka sudah 16 tahun. Mereka sudah remaja dan punya kegiatan mereka masing-masing. Sementara aku seorang anak kecil berumur sepuluh tahun yang nggak mereka pedulikan. Paman dan bibi sudah menasehati mereka agar mengajakku untuk melakukan aktivitas bersama walau hanya sekedar bercakap-cakap atau nonton televisi bersama. Namun Hesti dan Raka punya TV sendiri di kamar mereka dan mereka sangat jarang berbicara denganku. Mereka hanya menyapaku sambil lalu, ngomong denganku seperti, “Hari ini panas” atau “Pinjam guntingnya dong”. Yah, hanya sebatas itu saja sih. Mereka masih menganggapku orang asing di rumah mereka.
Aku mendapatkan kamarku sendiri. Nggak sebesar kamarku dulu dan letaknya berdekatan dengan kamar pembantu di belakang. Atau mungkin ini dulu memang kamar pembantu? Yang jelas pertama kali aku menginjakkan kaki di kamar itu, kamar itu kosong. Belum ada sama sekali perabotan di dalamnya. Paman kemudian mengisinya dengan perabotan-perabotan seperti lemari, meja belajar dan tempat tidur. Aku nggak punya kamar mandi sendiri seperti yang aku dapat di rumahku yang dulu.
Ngomong-ngomong soal tempat tidur baruku ini. Tempat tidur ini benar-benar baru dan sepertinya nggak ada hantu yang menempatinya. Sama seperti yang Clara bilang, kalau hantu-hantu yang menunggu tempat-tempat tidur di toko adalah hantu tingkat rendah yang pergi karena nggak mau satu tempat dengan hantu yang lebih tinggi tingkatannya darinya atau hantu-hantu yang meninggal bukan di tempat tidur, seperti hantu yang dulunya meninggal karena kecelakaan mobil. Mereka bisa memilih mau kembali ke alam baka atau mencari tempat tidur kosong yang belum dihuni. Dan tempat tidurku yang sangat sempit dan kecil (aku yakin pamanku nggak mau membuang-buang uang untuk membeli perabotan mahal untukku) sama sekali nggak ada yang menghuninya. Dengan begitu aku sama sekali nggak mempunyai teman baik dari manusia ataupun dari hantu.
Penghuni tempat tidur Raka dan Hesti adalah remaja laki-laki. Yang satu berumur 17 tahun dan yang satu lagi 19 tahun. Mereka berdua sangat sombong dan tentu saja nggak akan mau bergaul dengan anak kecil sepertiku. Aku sudah bertemu dengan mereka dan coba mengorek informasi kenapa mereka bisa meninggal, namun hasilnya nol besar. Aku jadi benar-benar benci untuk tinggal di sini, lalu kalau aku nggak tinggal di sini, aku mau dimana lagi?
Kebanyakan saudara Ibuku tinggal di luar pulau Jawa dan aku nggak bakalan yakin mereka mau menampungku. Paman adalah adik yang paling dekat dengan Ibu, jadi aku mau diasuh olehnya. Namun aku benci dengan anak-anaknya, mereka memperlakukanku kayak aku ini nggak ada. Tapi aku masih bersyukur aku masih dapat hidup sekarang dan kebutuhanku tercukupi oleh pamanku. Ya dia sudah sangat baik.
Sekolahku bukan sekolah untuk anak-anak kaya yang dulu. Anak-anak di sini memang baik-baik dan mereka mau berteman sama siapa saja, jadi aku cukup nyaman di sekolahku yang baru ini. Sekolahnya memang nggak besar dan fasilitasnya pun masih belum terlalu lengkap, namun aku nggak mempermasalahkan hal itu. Ngomong-ngomong soal sekolah yang lama, aku nggak bisa melihat acara ulang tahun sekolahku yang sempat diundur dan baru saja dirayakan minggu lalu. Aku jadi teringat dengan Clara, betapa dia sangat senang bernyanyi dalam kelompok menyanyi kami dalam drama Putri Salju dan Tujuh Kurcaci itu. Aku nggak sempat melihat bagaimana Georgia dengan bahasa Indonesia kacaunya bermain sebagai Putri Salju di atas panggung dan betapa cocoknya Tiara menjadi Ibu tiri yang jahat.
Ya, semuanya selesai sudah. Aku sudah memecahkan misteri yang melingkupi rumahku yang dulu itu walau dengan bantuan para hantu. Misteri yang hampir membawaku ke lembah kematian andai saja aku tak diselamatkan oleh nenek. Nenek sekarang sudah bereinkarnasi menjadi seorang gadis remaja yang cantik dan aku berharap aku bertemu dengannya di alam nyata.
Pagi hari minggu ini merupakan hari yang sangat membosankan di rumah paman dan bibi. Mereka semua bangun pada jam sembilan pagi sedangkan pembantu rumah ini sudah bangun dari jam lima tadi dan mulai memberes-bereskan rumah. Dia agak sedikit santai dalam menyiapkan sarapan pagi nggak seperti hari-hari biasanya. Tentu saja karena penghuni rumah ini bangun lebih siang pada hari Minggu, jadi dia menyiapkan sarapan juga agak siangan. Ketika itu jam masih menunjukkan pukul setengah delapan lebih lima belas menit dan aku sedang menonton TV di ruang keluarga ketika aku mendengar ketukan pintu dari luar. Aku berlari ke arah pintu depan dan membukanya. Yang aku lihat membuatku kaget karena wajah orang itu sepertinya kukenal.
Di depanku berdiri seorang gadis remaja, mungkin berumur 17 tahun dan dia sangat mirip dengan reinkarnasi nenekku. Dia punya senyuman yang menenangkan sama seperti nenek. Dia benar-benar sama seperti gadis yang kulihat di mimpiku dan juga sosok yang membantuku di ruang bawah tanah itu. Dan sekarang dia berdiri di depanku sambil membawa sebuah kotak cukup besar.
“Hello, saya baru pindah ke sebelah rumah ini dan Ibu saya memberikan kue ini kepada tetangga kami yang baru. Mohon kalian menerimanya,” katanya dengan suara yang persis sama dengan gadis reinkarnasi nenek. Dia menyerahkan kotak kue itu kepadaku. Dengan gugup aku mengucapkan terima kasih.
Ketika gadis remaja itu pergi, aku masih berdiri di ambang pintu sambil berpikir-pikir bahwa sebenarnya nenek nggak akan pernah meninggalkanku seperti apa bentuknya sekarang. Namun yang sampai sekarang masih mengganjal di pikiranku adalah mengenai ramalan nenek kepadaku mengenai seseorang yang akan aku selamatkan, tapi sejauh ini aku belum merasa menyelamatkan seseorang. Aku hanya mengangkat bahu dan akhirnya menutup pintu depan.
Tamat!