Senin, 10 September 2012

Cerbung : The Library Bab 2


Bab 2


May 21, 2005
Pagi harinya, Sir Law membangunkan Matthew yang terlambat bangun. Seharusnya jam segini mereka sudah bersiap-siap untuk pergi ke pasar membeli baju obralan, tetapi karena Matthew bangun jam sembilan kurang sepuluh menit, mereka terpaksa membatalkan acara mereka. Sir Law mengatakan bahwa dia akan membeli baju di pasar yang agak jauh dari rumah mereka dan dia juga mengatakan bahwa Matthew yang akan menjaga rumah selama dia pergi. Tentu saja Matthew dengan senang hati menerima tugas itu. Inilah saatnya dia bisa menjelajah rumah kuno ini! Mungkin ada baiknya dia memanggil Lucas.
Setelah selesai sarapan dengan roti lapis selai kacang, dia memanggil Lucas di sepanjang lorong lantai dua. Lucas datang secara tiba-tiba dan menjengkal kaki Matthew, sehingga anak itu terjatuh. Lucas tertawa sedangkan Matthew mendengus kesal. “Lain kali buatlah dirimu lebih berguna daripada sekedar menjahili anak lain!” ujar Matthew kesal. Ingin rasanya meninju muka Lucas, jikalau seandainya dia dapat terlihat.
“Maafkan aku Matthew. Kau tahu sendiri sudah berapa aku tidak punya teman sebaya di rumah tua ini!” ujar Lucas mencoba membela diri. Matthew mendengus mendengarnya.
“Setidaknya kau bisa sedikit bersikap baik pada teman barumu ini!” seru Matthew dan dia dapat merasakan bahwa Lucas sedang berusaha menahan tawa. “Apanya yang lucu?” katanya asal saja.
“Memangnya siapa yang ketawa?” tanya Lucas dengan nada bingung yang dibuat-buat.
Matthew mendengus untuk kesakian kalinya. Mungkin seterusnya dengan Lucas dia akan banyak mendengus. “Nah, mari kita periksa kamar-kamar rahasia itu!” ujarnya semangat.
“Kau yakin? Kenapa sih kau begitu penasaran?”
“Karena aku memang penasaran, itu saja,” jawab Matthew yang kemudian berjalan menyusuri lantai dua. Lucas mengikutinya dari belakang dan mereka berjalan dalam diam.
Setiap ada ruangan, Matthew selalu memeriksanya dengan teliti seakan-akan dia adalah seorang detektif yang sedang memeriksa tempat kejadian perkara. Lucas tidak banyak bicara walau Matthew sudah mengajaknya bicara. Dan menurut Matthew ini aneh, karena Lucas banyak bicara sebelumnya. Sejauh ini Matthew menyimpulkan bahwa ada kira-kira sepuluh ruangan di lantai dua. Lima ruangan tidur, dua kamar mandi, satu ruangan bermain, satu ruangan kerja, dan satu perpustakaan. Matthew memang bukan tipe anak yang suka membaca, tetapi perpustakaan itu benar-benar menggelitik rasa ingin tahunya.
Terkunci. Matthew mengeluh kecewa. Dimana kunci pintu perpustakaan ini? Ada baiknya menanyakan hal itu kepada Lucas. Tapi Lucas tampak aneh karena dia tidak bersuara sedari tadi. Jangan-jangan dia sudah pergi. Matthew memanggil-manggil Lucas dan berharap anak tidak kelihatan itu menjawab, tetapi yang bisa dia dengar hanya suaranya sendiri. “Nampaknya, dia memang sudah pergi, atau dia sengaja mengabaikanku,” keluh Matthew kepada dirinya sendiri. Akhirnya dia memutuskan untuk mencari kunci perpustakaan itu sendiri saja.
Ada banyak lemari yang memajang barang-barang antik di sepanjang koridor lantai dua. Setidaknya ada lima lemari lengkap dengan barang-barang peninggalan jaman dulu, yang Matthew tidak bisa memastikan umur dari barang-barang tersebut. Dengan seksama dia memeriksa semua lemari dan guci-guci antik sembari berharap dia menemukan kunci perpustakaan. Matthew bahkan sampai mencari ke lantai satu, dapur, dan ke taman belakang. Semuanya nihil, kunci itu tidak ada di mana-mana.
Sambil menggerutu jengkel, Matthew kembali ke atas, ke arah perpustakaan yang tadi ditinggalkannya. Dan betapa terkejutnya Matthew melihat pintu perpustakaan yang telah terbuka dengan sendirinya! Siapa yang membukanya? Ini akan terus jadi pertanyaan di benak anak itu sampai dia menemukan jawabannya nanti. “Mungkin Lucas,” gumamnya dan setengah berlari memasuki perpustakaan.
Setiap perpustakaan pasti menyimpan buku-buku di rak-rak yang berdebu dan kotor. Setidaknya itulah pendapat Matthew ketika melihat isi perpustakaan ini untuk pertama kali. Dan buku-buku itu seakan-akan dibuat ratusan tahun yang lalu! Ruangan ini pengap, tidak berjendela serta tidak ada pendingin ruangan. Matthew jadi menyesal masuk ke sini, tetapi sebuah suara mengejutkannya.
“Hei, ngapain kau disini!?” bentak seorang anak sebayanya yang berambut pirang. Dia memakai kaus lengan panjang berwarna biru pudar dan celana jins yang berwarna sama. Anak pirang itu menatap Matthew dengan wajah garang.
Matthew tidak tahu harus berkata apa. Kenapa anak ini ada di sini? Apa ini juga salah satu anak asuhan Sir Law? Tapi kenapa dia tidak pernah menceritakannya kepada Matthew? Dan pertanyaan paling mendasar, siapa sih dia? “Aku...,” Matthew menelan ludah ketika dilihatnya anak-anak lain yang juga sebaya dengannya tiba-tiba muncul dari rak-rak buku yang menjulang tinggi di hadapannya. Mereka semua menatap Matthew dengan tatapan penasaran.
“Siapa namamu!?” anak berambut pirang membentak lagi. Masih memasang wajah garang yang sama.
“Aku Matthew,” jawab Matthew merasa shock dengan apa yang dilihatnya. Apa yang mereka semua lakukan di dalam perpustakaan?
“Oh, Matthew anak baru yang dibawa lelaki tua itu ya?” si anak pirang mengangkat sebelah alisnya. Wajah garangnya sudah tidak ada lagi.
Matthew mengangguk. “Darimana kau tahu akan hal itu?”
Dia menyeringai jahil. “Kau juga teman si Lucas si anak tidak kelihatan itu ya?”
Sekali lagi Matthew mengangguk. “Kau kenal Lucas?”
“Siapa yang tidak kenal dia di sini? Dia satu-satunya anak yang berani keluar dari perpustakaan!”
“Apa maksudnya itu?” tanya Matthew yang semakin penasaran. Dalam hatinya dia mulai tertarik dengan segerombolan anak yang tinggal di perpustakaan ini.
“Dia bergabung dengan kami tahun 1920. Well, memang dia adalah anggota kami yang paling senior, tetapi dia melanggar peraturan perpustakaan. Dia sudah bosan membaca, dan dia merasa cukup berani dan melanggar peraturan paling dasar itu. Sekarang dia sudah terima hukumannya!” anak pirang dan yang lainnya tertawa mengejek yang tentu saja mereka tujukan kepada Lucas, walau yang bersangkutan entah dimana sekarang. Entah kenapa hal ini membuat Matthew tersinggung.
“Lalu, sebagai hukumannya dia akan menjadi anak yang tidak kelihatan selamanya?” tanya Matthew sambil melipat kedua tangannya di depan dada.
“Tentu, asalkan dia membawa satu anak ke sini sebagai gantinya. Dan itu berarti dia mengorbankan kau!” si anak pirang menunjuk Matthew dengan senyuman lebar. “Sekarang kau adalah bagian dari kami!”
Pintu perpustakaan tertutup dan Matthew bisa mendengar suara kunci yang diputar. Dia terjebak di sini! Matthew tidak tahu apakah ini hanya mimpi atau kenyataan, tapi yang jelas sekarang, bagaimana caranya dia bisa keluar dari sini. Dia tidak mungkin tinggal di sini selamanya bersama anak-anak aneh ini.
“Kau tidak akan bisa keluar dari sini, anak bodoh!” seru si pirang sembari menunjuk Matthew. “Kau sudah menjadi salah satu dari kami, dan kau pergi Dia akan membiarkanmu kabur begitu saja!?”
“Memangnya siapa yang mau tinggal bersama kalian?” Matthew berkata dengan suara parau. Dia tidak akan menangis di sini, tidak di depan anak-anak aneh ini. “Sir Law pasti akan segera datang dan dia pasti menyadari aku menghilang dan akan mencariku!”
Si anak pirang tersenyum sinis. “Itu tidak mungkin. Malah sangat tidak mungkin. Kau pikir kami semua di sini adalah anak-anak terlantar yang tidak punya siapa-siapa? Kami juga bernasib sama sepertimu. Orang tuamu, saudaramu, atau siapapun yang kenal denganmu, memang akan menyadari kau menghilang, tetapi mereka tidak akan pernah menemukanmu, walau mereka sudah mencari ke segala penjuru rumah, termasuk perpustakaan ini, karena mereka tidak bisa melihat kita. Kita sekarang berada di dunia yang berbeda dari mereka. Kau akan dinyatakan hilang secara misterius untuk selama-lamanya. Sama seperti kami semua di sini.”
Hal ini menghantam Matthew dengan begitu telaknya dan dia merasa akan pingsan saat itu juga. Dan ternyata dia memang benar-benar pingsan. 
TBC...

Sabtu, 08 September 2012

Cerbung : Don't Sleep on the Bed Bab 6


Bab 6

AKHIRNYA KETIKA AKU BERSIAP HENDAK TIDUR, CLARA MENJUMPAIKU.
Dia terlihat masih marah namun nggak semarah tadi siang. Kami diam-diaman selama beberapa menit dan akhirnya karena merasa jengah dengan keheningan ini akhirnya aku bertanya, “Darimana saja Clara?”
Clara menelengkan kepalanya, lalu berkata dengan suara yang masih mengandung nada kemarahan, “Aku melakukan sesuatu yang bagus untukmu.”
Aku menatapnya terheran-heran. “Memangnya apa yang kau lakukan untukku?”
Sekarang wajahnya menjadi cerah dan tampak puas. Hal yang biasa terjadi kalau dia mendapatkan sesuatu yang berguna. Dia duduk di tepi tempat tidur dan aku duduk bersila di karpet di depannya. Clara mulai bercerita, “Ketika pulang, aku memperhatikan seorang lelaki berjaket hitam memperhatikanmu ketika kau keluar dari gerbang sekolah. Awalnya aku nggak curiga dengannya tapi aku mencium bau bangkai dari mobilnya. Karena penasaran aku melihat isi mobilnya dan kaget melihat banyak sekali bangkai buruk gagak di dalam sebuah kotak kardus di bangku belakangnya. Selain itu masih ada beberapa gagak hidup namun sudah diberi suntikan obat tidur. Karena semakin penasaran, aku mengikuti lelaki itu pergi dengan mobilnya. Kami tiba di sebuah gudang tua, aku nggak tahu dimana, yang jelas daerah itu kumuh. Dia membawa semua burung gagak itu ke dalam gudang. Di sana sudah ada seseorang yang memakai jubah hitam dan dia bertopeng. Dia seorang wanita yang nampaknya berumur pertengahan limapuluhan karena hampir semua rambutnya sudah putih. Dia menyuruh lelaki itu menaruh semua gagak itu ke ruangan penyimpanan dan kemudian mereka mulai membicarakan tentang ritual kuno yang akan mereka bangkitkan lagi dan kau tahu apa? Ternyata lelaki inilah yang mencuri lembaran sakramen itu karena aku melihat benda itu dipegang oleh mereka. Mereka mengatakan akan segera menjalankan rencana mereka.” Clara berhenti untuk menarik napas. Matanya yang cuma sebelah itu tampak berbinar-binar senang.
Aku mendengarkan dengan perhatian penuh setiap omongan Clara. Ceritanya membuka satu lagi keping misteri dari rumah ini. Puzzle ini mulai tersusun dengan sempurna. “Terus apa lagi?”
Clara mengangkat bahu. “Entahlah, nampaknya si wanita bertopeng itu bisa merasakan kehadiranku, jadi aku cepat-cepat pergi dari gudang tua itu.”
Aku mengangguk, merasa cukup puas dengan informasi ini. Aku pun menceritakan cerita hantu Ibu Rahayu tadi dan setelah selesai bercerita aku meminta pendapat Clara seperti biasanya. “Misteri ini mulai jelas kelihatannya,” gumamnya terlihat senang akan perkembangan ini. “Kita tahu pasti bahwa ritual itu dilakukan oleh istri kedua Alfred. Bisa saja dia mengorbankan salah satu dari anak kembar itu atau mungkin anaknya sendiri. Dia membunuh Alfred karena menurut pendapatku Alfred tahu tentang ritual itu. Sedangkan si Angela nampaknya bunuh diri bukan karena frustasi anaknya Claudia meninggal, namun dia merasa selalu ditekan oleh Marsita sehingga dia mengambil jalan singkat tapi mungkin bisa juga Marsita yang menyuruhnya untuk bunuh diri. Sekarang, ada komplotan orang yang ingin membangkitkan ritual itu lagi, bisa saja orang-orang ini masih ada sangkut pautnya dengan Marsita, atau malahan…” Clara terdiam sebentar tapi kemudian sebuah senyum mengembang di bibirnya yang pecah-pecah. “Bisa saja Marsita masih hidup dan dia sekarang ingin kembali membangkitkan ritual kuno itu. Kau bilang sendiri kan sampai sekarang polisi nggak bisa melacak jejaknya?”
Aku membetulkan ucapan Clara. Sejauh ini kami punya pikiran dan pendapat yang sama. “Sekarang yang harus kita cari adalah informasi siapa yang menjadi tumbal ritual itu.”
“Mungkin kita bisa tahu dari tempat tidur di ruangan bawah tanah itu,” usul Clara.
Aku bergidik. “Aku nggak mau ke sana lagi! Di bawah situ sangat dingin seperti berada di kutub utara. Kenapa nggak kau saja ke sana?”
“Aku nggak bisa ke sana Bianca. Ada sesuatu yang lebih kuat dariku di sana dan aku nggak berani melawannya.”
“Ya, kau pernah bilang seperti itu padaku. Tapi yang jelas, memang ada semacam hawa aneh di sana dan suara yang sudah dua kali terdengar di kamarku…,”
“Dua kali?” Clara mengangkat bagian atas matanya yang seharusnya tempat alis berada. Tapi dia kan sudah nggak punya alis.
“Ya, ketika kau mengantar  tamu-tamu hantumu pulang, suara itu terdengar lagi,” jawabku. Aku membaringkan tubuhku di atas karpet dan baru menyadari betapa tipisnya karpet ini karena aku masih bisa merasakan sakit pada punggungku sama seperti ketika aku membaringkan diriku di lantai keramik. Aku menguap. “Aku ngantuk dan besok, mungkin akan ada pengumuman ulang tahun sekolah dibatalkan gara-gara kejadian meninggalnya dua pengusir hantu di sekolah.”
Clara diam saja ketika aku menyinggung soal itu. “Tidurlah di atas tempat tidur,” ujarnya seperti seorang ibu. Aku menurut dan langsung pindah ke atas tempat tidur. Clara memperhatikanku sampai akhirnya aku tertidur lelap. Samar-samar aku melihat kalau dia tersenyum atau mungkin menyeringai? Entahlah, karena apapun itu aku sangat ngantuk.

Keesokan harinya aku datang ke sekolah dengan perasaan campur aduk antara penasaran dengan apa yang akan terjadi setelah kematian dua pengusir hantu itu dan takut jikalau seandainya aku lebih dicurigai lagi karena berteman dengan hantu, atau yang lebih parahnya lagi, aku yang menyuruh hantu temanku alias Clara untuk mencakar dan mendorong dua orang tersebut. Sial! Apa yang harus kukatakan untuk pembelaan nantinya?
Baru saja aku melangkah masuk gerbang, anak-anak sudah ribut membicarakan kejadian kemarin. Bukan hanya anak-anak, tetapi juga guru-guru, satpam sekolah bahkan penjaga kantin dan masyarakat sekitar sekolah sudah ribut membicarakannya. Memang tadi pagi ada berita mengenai kematian si Supradi dan Jalil. Yang mengherankan polisi adalah adanya luka cakaran yang sangat parah di tubuh mereka seperti layaknya dicakar binatang buas. Apa benar bahwa mereka dicakar oleh hantu penunggu kelas kami, para polisi belum memberikan informasi tentang hal itu.
“Hei lihat, itu kan Bianca? Bukankah dia berada di kelas kemarin bersama dengan pengusir hantu itu padahal semua anak lain berada di luar.” Seorang anak perempuan sengaja bersuara keras-keras kepada teman-temannya ketika aku lewat. Terang sekali kalau dia bermaksud menyindirku, tapi aku pura-pura nggak mendengarnya dan terus berjalan.
Aku menjumpai Georgia yang berdiri di dekat kelas satu. Segera saja aku menyapanya. Dia terlihat tegang ketika aku mendekatinya, tapi dia langsung menguasai dirinya lagi dan balas menyapaku, “Hi Bianca.” Dia menunjuk-nunjuk ke atas dan ngomong, “We can’t go to the upstairs.” Dia membuat tanda silang dengan tangannya. “Dilarang.”
Ya aku mengerti maksudnya. Polisi masih menutup jalan ke lantai atas, jadi kami yang punya kelas di lantai atas yaitu kelas empat, lima, dan enam nggak bisa pergi ke kelas kami. Aku menghela napas, nggak tahu apa reaksi Trio Truk Gandeng yang sementara waktu ini menjadi Duo Truk Gandeng karena Si Gendut No.1 masih dirawat di rumah sakit. Apa mereka akan marah padaku? Tapi inikan bukan sepenuhnya salahku!
“Tiara will be very angry with you,” Georgia berkata lagi. Dia memandang sekeliling seperti mencari sesuatu.
“Nggak mungkin!” kataku tapi sambil mengigit bibir. “Memangnya dia punya hak untuk memarahiku?”
“She is headmaster’s daughter,” Georgia menekankan setiap kalimatnya walau yang aku tahu artinya cuma kata ‘headmaster’ yaitu kepala sekolah.
Aku menghela napas lagi. Aku lupa kalau Tiara mungkin anak pengadu dan dia akan mengadu ke ayahnya kalau aku berteman dengan hantu walau aku nggak yakin ayahnya akan percaya. Namun entahlah aku nggak peduli apa pun yang akan terjadi. Kalau memang harus pindah sekolah lagi, maka aku akan pindah. Bel berbunyi dan terdengar suara dari pengeras suara yang memerintahkan kami untuk berkumpul di lapangan. Uh, pasti untuk membicarakan tentang masalah kemarin.
Semua anak tersedot ke lapangan yang biasa kami pakai untuk upacara bendera tiap hari Senin. Aku berbaris di barisan kelasku dan mendapat tatapan beracun dari semua teman-temanku, jadi aku memilih barisan paling belakang. Setelah membutuhkan waktu beberapa menit untuk mengatur barisan, kepala sekolah kami naik ke atas podium. Dia mirip Tiara dalam hampir segala segi, mulai dari badannya yang ceking, kulitnya yang coklat mutung, sorot mata sinis sampai lidah nasionalisnya. Setiap dia menjadi pemimpin upacara, dia selalu salah mengutip suatu kata mutiara berbahasa Inggris karena dia membaca kalimat berbahasa Inggris layaknya membaca kalimat berbahasa Indonesia.
Pak kepala sekolah, Pak Surya berdehem sebelum memulai, “Selamat pagi, anak-anak!”
Kami menjawab dengan sangat nggak bersemangat.
“Saya tahu bahwa kemarin telah terjadi peristiwa tidak terduga di sekolah kita. Dua orang lelaki jatuh dari tangga dan akhirnya meninggal. Di tubuh mereka terdapat banyak luka cakaran yang parah. Dua orang laki-laki ini adalah pengusir hantu dan mereka bermaksud datang ke salah satu kelas di sekolah ini untuk mengusir hantu yang katanya menjahili murid-murid di kelas tersebut.”
Aku menatap Clara yang berdiri di sebelahku sementara Pak Surya terus berbicara. Clara hanya nyengir sambil membuat tanda ‘peace’ dan menunjukkan ekspresi ‘aku baru tahu ada kejadian seperti itu’ di wajahnya yang melepuh. Setelah acara ini selesai (yang memakan waktu hampir sejam), kelas empat, lima, dan enam akan dipindahkan ke gedung B, gedung yang baru saja diresmikan beberapa bulan lalu. Di dalam kelas baru sementara kami, aku memilih untuk duduk sendirian di belakang. Sudah cukup mereka semua mengacuhkan aku dan memandangku dengan tatapan nggak menyenangkan itu. Georgia nggak bisa berbuat apa-apa dan lebih memilih mengikuti arus. Tiara tampaknya menunjukkan wajah puas, tapi aku nggak peduli apa yang sedang dipikirkannya sekarang.
Waktu di sekolah terasa berjalan dengan sangat lambat. Bau ruangan kelas kami ini masih terasa seperti bau cat basah walau aku akui kelas sementara kami di gedung B ini lebih bagus daripada kelas kami dulu. Wali kelas kami masuk ke dalam kelas dan memberitahukan bahwa perayaan hari ulang tahun sekolah nggak akan dibatalkan namun akan diundurkan hingga bulan depan sampai semuanya jadi lebih baik. Semua anak mengeluh atas berita ini, terutama Clara yang benar-benar merasa kecewa dengan pengunduran jadwal perayaan tersebut. Padahal dia sudah bersemangat sekali untuk tampil di acara itu walau nggak akan ada satupun orang kecuali aku yang bakal melihatnya.
Setelah bel pulang sekolah berbunyi, aku segera berlari menuju gerbang dan menyadari seseorang sedang memperhatikanku ketika aku menunggu mobil jemputan Ibuku. Aku melirik ke arah kananku dan di sana ada seorang laki-laki berjaket hitam dan wajahnya agak tersembunyi di balik topi bisbol yang dia kenakan. Lelaki itu bersender di badan mobilnya. Apa ini laki-laki misterius yang dibuntuti Clara kemarin?
“Dia datang lagi,” ujar Clara mengagetkanku. “Aku yakin dia berniat nggak baik.”
“Aku rasa juga begitu,” aku menyetujui ucapan Clara. “Dia terlihat sangat mencurigakan. Apa dia lelaki yang kau buntuti kemarin?”
“Tidak salah lagi.” Clara terus memandangi lelaki itu dengan mata kanannya. “Mungkin ada baiknya aku buntuti dia lagi.”
Ide Clara terdengar bagus di telingaku. Mungkin dia bisa mendapatkan informasi lagi mengenai pencurian sakramen itu. Aku mengangguk ke arahnya dan melihat mobil Ibu datang. Masih sempat-sempatnya aku melihat lelaki itu masuk ke dalam mobil dan mengendarai mobilnya ke arah lain, padahal kupikir dia akan membuntuti mobil Ibu. Tapi setelah kupikir-pikir lagi apa gunanya dia membuntuti mobil Ibu padahal dia sudah tahu dimana rumah kami berada. Clara pun sudah menghilang untuk mengikuti lelaki misterius itu.
Sesampainya di rumah, Ibuku mengatakan kalau dia mungkin akan pulang malam. Kalau misalnya Paman Bibir Tebal datang ke rumah untuk acara minum teh sore, maka aku harus menyampaikan pesannya bahwa Ibuku nggak berada di rumah. Aku mengangguk dan masuk ke rumah tanpa lupa mengunci pintu. Aku benar-benar sendirian sekarang di rumah besar ini dan aku harap Ibu Angela datang dan aku bisa meminta penjelasan lebih, juga hantu Alfred. Aku benar-benar berharap mereka datang menemuiku.
Aku sedang mengerjakan PRku di meja belajar, ketika sesuatu yang aneh terjadi. Tempat tidurku mulai bergeser dengan sendirinya! Awalnya benda itu hanya berpindah sedikit sekali, jadi aku mengabaikannya. Namun lama-kelamaan tempat tidurku semakin bergeser dan bergeser dan akhirnya menampakkan lubang rahasia yang sudah ditutupi papan oleh Clara. Aku memperhatikan dengan mulut menganga ketika papan itu bergeser dan sebuah tangan pucat menyembul keluar dari lubang. Aku berpengangan kuat dengan gagang kursiku dan berdoa dalam hati, semoga yang keluar bukan hantu yang lebih menyeramkan dari Clara.
Sosok hantu penunggu tempat tidur di ruangan ritual itu akhirnya mulai menampakkan wujudnya. Dan anehnya, wajahnya tertutup dengan topeng, topeng yang sama yang aku lihat dalam mimpiku di ruangan bawah tanah itu. Dia berjalan dengan sedikit membungkuk pada awalnya, tetapi dia menegakkan kembali badannya dan sekarang dia mulai berjalan normal. Dia berjalan ke arahku dan aku langsung menutup mataku rapat-rapat, takut kalau-kalau dia membuka topengnya dan kemudian menunjukkan wajah yang menyeramkan.
Tetapi ternyata nggak. Setelah aku menutup mataku untuk beberapa saat dan nggak terjadi apa-apa, hanya hembusan angin dingin, angin yang sama yang membuatku kedinginan ketika berada di ruang bawah tanah beberapa hari lalu, yang sedari tadi terus menerpa wajahku. Sedikit demi sedikit aku membuka mataku dan melihat bahwa hantu itu sama sekali nggak melepas topengnya. Dia hanya tegak di depanku tanpa berkata apa-apa. Aku bingung dan akhirnya memutuskan untuk bertanya, namun dua jempol hantu itu menekan dengan keras kedua mataku dan bisa kurasakan rasa perih yang menyakitkan di kedua mataku.
Kemudian sesuatu terjadi. Rasanya aku seperti menekan tombol previous di remote DVD, dan gambar-gambar mulai berjalan mundur di dalam otakku. Gambar-gambar itu mulai terangkai satu demi satu membentuk suatu kejadian, kejadian yang merupakan titik awal misteri di rumah ini. Maka di sanalah aku melihat semuanya. Aku melihat istri kedua Alfred, Marsita, untuk pertama kalinya. Di usianya yang ke-30, dia masih nampak cantik. Dia menikah dengan Alfred, pindah ke rumahnya dan berkenalan dengan Ibu Angela dan anak kembar mereka Claudia dan Clarissa. Entah kenapa rupa anak kembar itu mengingatkanku akan wajah seseorang, lebih tepatnya sesosok hantu.
Gambar beralih lagi, kali ini sikap nggak sukanya Claudia kepada Marsita terlihat sangat jelas. Ibu Angela nggak terlalu banyak berkomentar atas istri kedua suaminya, namun Clarissa nampaknya bisa menerima Marsita dengan baik. “Mereka sulit untuk dibedakan,” kata Marsita kepada Alfred. “Ya, aku dan istriku pun terkadang tidak bisa membedakan mereka.”
Claudia tetap nggak menyukai Marsita dan pada suatu hari dia tanpa sengaja melihat Marsita membaca lembaran sakramen itu dan dia langsung melaporkannya pada Alfred. Terjadi sedikit pertengkaran pada waktu itu dan Marsita pergi ke kamarnya dan di sana dia bertemu dengan Clarissa. “Kau tidak seperti saudara kembarmu.” Marsita tersenyum ke arahnya dan Clarissa membalas. “Aku tidak menyukai saudara kembarku. Dia lebih dikenal orang daripada aku,” adu Clarissa waktu itu. “Kalau begitu mari kita buat jebakan untuknya,” usul Marsita.
Rencana itu sebenarnya sederhana. Buku catatan Marsita yang juga merupakan buku yang sama yang kutemukan di kardus, dia menyuruh Clarissa menulis nama Claudia berikut tanggal kelahirannya di buku tersebut. Clarissa punya gaya tulisan yang hampir sama seperti saudara kembarnya sehingga sulit dibedakan. Clarissa menulis apa saja yang diperintahkan Marsita ke dalam buku itu, menggambar apa yang mesti dia gambar (gambar burung gagak yang tergantung, orang yang diletakkan di atas pentagram dan lain-lain). Kemudian Marsita menaruh lembaran sakramennya di laci meja belajar Claudia beserta buku catatan dan belati dengan hiasan bulu burung gagak itu. Malam itu Marsita mengadu kepada Alfred bahwa lembaran sakramen yang dia baca beberapa hari lalu adalah punya Claudia dan anak itu berusaha untuk memfitnahnya. Dia juga mengatakan bahwa Clarissa menemukan benda-benda aneh di laci Claudia dan meminta Alfred memeriksanya. Alangkah terkejut Alfred melihat benda-benda aneh itu dan menyangka yang bukan-bukan bahwa otak anaknya sudah dipengaruhi, padahal semua benda itu adalah kepunyaan Marsita. Ibu Angela yang tahu betul sifat anaknya berteriak marah dan malah menuduh Marsita berbohong. Tapi Alfred terlanjur marah dan menghukum Claudia.
Rencana Marsita bukan hanya sampai di situ. Untuk menjadi pengikut ritual kuno yang selama ini dijalaninya, dia harus mempersembahkan korban. Dan dia sudah tahu siapa yang akan dijadikannya korban, Claudia. Dari awal dia memang sudah membenci anak itu dan menjadikannya korban ritual sepertinya menyenangkan. Namun sebuah surat dari pemimpin kelompok itu mengagetkannya. Surat lusuh yang aku temukan juga di dalam kardus itu berisi suatu hal tentang perubahan rencana. Namun naasnya, Claudia meninggal sebelum ritual itu dilaksanakan. Pagi itu dia meninggal dengan tenang sama seperti yang diceritakan oleh Paman Bibir Tebal. Tapi karena Ibu Angela yang terlanjur menaruh curiga kepada Marsita memfitnahnya bahwa anaknya telah diracun oleh perempuan itu, namun hasil dari pemeriksaan tak ditemukan adanya fakta bahwa Claudia diracun. Dia meninggal karena memang sudah waktunya dia meninggal.
Marsita akhirnya memboyong anak kandungnya yang selama ini tinggal di Singapura ke rumahnya. Dan Ibu Angela yang masih menaruh curiga dan membenci Marsita, membawa kabur anak kembarnya yang satu lagi, Clarissa, setelah tahu bahwa selama ini Marsita telah terlalu banyak mempengaruhi pikiran anaknya itu dan Ibu Angela tak suka dengan kedekatan yang terjadi di antara Marsita dan Clarissa. Hal itu sama sekali tak diketahui Alfred yang pada waktu itu sedang berada di luar kota. Kesempatan yang sangat baik ini dimanfaatkan oleh Marsita untuk memulai ritual di ruang bawah tanah yang sebenarnya dulu merupakan gudang juga, namun disulap Marsita menjadi ruang ritual. Jalan menuju ke ruangan bawah tanah itu ada dua, yang satu melalui gudang tua di belakang rumah yang mana di salah satu lantainya sudah terdapat sebuah panel pintu yang dapat menghubungkan jalan menuju ke ruang ritual, dan yang satu lagi adalah lewat jalan di bawah tempat tidur Claudia.
Ritual yang kulihat sekarang agak berbeda dengan ritual yang pernah kulihat dari mimpi yang kudapat di ruang bawah tanah itu. Marsita yang waktu itu memakai jubah dan topeng datang mendekat ke arah anaknya yang berkata memohon, “Ibu, Ibu, kenapa kau melakukan ini?” Marsita sebenarnya nggak tega anaknya dijadikan korban ritual, tetapi dia tak punya pilihan lain. Aku melihatnya sekarang, dengan sangat jelas proses ritual itu. Belati dengan hiasan bulu gagak itu ditusukkan ke dada anak itu, namun yang berbeda sekarang adalah ada dua belati yang ditancapkan ke dada anak itu, bukan hanya satu seperti yang kulihat di mimpiku. Setelah itu Marsita membuka topeng anaknya dan mencungkil bola mata kirinya, mencukur habis alisnya dan membuat luka di sepanjang tubuh anak itu. Darah yang keluar ditampung dalam sebuah wadah dan satu orang lagi yang berada di dekat Marsita, menciduk darah yang berada di wadah dengan gelas layaknya itu air biasa dan memberikannya kepada Marsita. Wanita itu tampak mengernyit menerimanya tapi diminumnya juga dalam sekali teguk.
Orang yang tadi memberi gelas kepada Marsita mengambil sebuah gelas yang lain, kali ini terbuat dari plastik dan aku bisa melihat asap mengepul dari gelas itu, dan orang itu menyiramkan air di dalam gelas ke muka si anak yang sudah tak ditutupi topeng lagi. Air itu air mendidih. “Nah, selesailah sudah ritual kita untuk kali ini,” si orang yang menyiram muka anak itu berkata dengan nada puas. “Memang harus ada yang dikorbankan demi kedamaian dunia.” Semua orang yang berada di situ bersorak girang.
Marsita keluar dari ruang ritual itu dan melihat mobil Alfred parkir di halaman. Dia langsung membuka jubah dan topengnya lalu menenteng jubahnya yang dia gunakan untuk menyembunyikan belati dan pergi menghampiri Alfred di luar. Alfred menanyakan tentang Ibu Angela namun Marsita hanya tersenyum saja dan mengatakan bahwa istri pertamanya belum pulang. Alfred terlihat sedih dan kemudian dia berbalik menuju ke arah tangga. Di saat itulah Marsita menusuknya dari belakang. Alfred langsung roboh ke lantai, namun dia masih sempat menengok ke arah Marsita yang tampak begitu dingin di matanya. Alfred bertanya dan memohon kepada istri keduanya untuk tidak membunuhnya, namun Marsita tak mendengarnya dan menusuk Alfred berkali-kali hingga lelaki itu menemui ajalnya.
Sialnya, Ibu Angela ternyata sudah pulang ke rumah dan dia melihat Marsita membunuh suaminya. Ibu Angela marah dan menyerang Marsita, tetapi Marsita lebih kuat. Dia mendorong dengan keras Ibu Angela hingga kepalanya membentur dinding dan dia pun langsung roboh ke lantai dengan darah bercucuran dari kepalanya. Tidak sampai di situ Marsita segera memukul kepala Ibu Angela dengan guci keramik dan kabur dari rumah setelah membunuh suami istri itu.
Gambar-gambar di dalam kepalaku itu kembali berhamburan menjadi keping-kepingan puzzle yang tersusun pada tempatnya, namun ada satu keping puzzle yang hilang. Dimanakah Ibu Angela membawa kabur Clarissa? Setelah itu aku kembali dibawa ke dunia nyata. Di sana masih berdiri hantu bertopeng itu. Aku memandanginya dan menelan ludah sebelum bertanya, “Clau, Claudia?”
Hantu itu terlihat mengangguk dan membuka topengnya. Nampaklah wajah yang benar-benar sangat familiar bagiku. “Apakah hanya manusia saja yang bisa berbohong Bianca? Apa kau pikir semua hantu yang kau temui berkata jujur?” setelah dia menanyai dua hal itu dia berbalik pergi dan kembali berjalan membungkuk ke arah lubang menuju ruang bawah tanah tersebut. Papan pun kembali menutup dan tempat tidur pun kembali ke tempatnya. Keadaan sama seperti semula namun ini merupakan langkah awal dari teka-teki ini. Misteri ini sudah mencapai titik terang dan sekarang aku tahu apa yang sebenarnya dimaksudkan nenek di mimpiku itu.
TBC...

Cerbung : Don't Sleep on the Bed Bab 5



Bab 5


AKU BERMIMPI YANG SANGAT ANEH.
Mimpiku ini berlatar sebuah padang rumput yang luas. Aku menyusuri padang rumput tersebut hingga aku melihat sebuah pohon besar sekali. Tergantung ayunan di salah satu dahannya yang kokoh dan menjorok ke tebing. Di ayunan itu duduk seorang gadis remaja berambut coklat panjang. Dia membelakangiku dan terus mendorong ayunannya. Karena penasaran aku mendekati gadis itu. Ketika aku sudah di dekatnya, gadis itu berhenti mengayun dan memandang ke arahku. Dia sangat cantik dan entah kenapa perasaan hangat menyelimutiku tatkala dia tersenyum kepadaku. Perasaan yang sama ketika nenekku juga menampilkan senyumnya. Rasa-rasanya gadis itu adalah versi muda dari nenekku.
“Aku di sini dan aku bukan musuhmu,” ujarnya dengan suara lembut yang menenangkan.
“Lalu apa yang kau lakukan di sini?” tanyaku dengan kebingungan yang jelas tersirat di wajahku.
“Untuk menerangkan beberapa hal,” jawabnya. Dia turun dari ayunan dan memegang kedua tanganku. “Kau akan melihatnya.”
Suara deburan ombak yang menabrak karang membuatku nggak terlalu menangkap kalimat terakhirnya, jadi aku memutuskan bertanya, “Apa maksudmu?”
Dia tersenyum. “Musuhmu ada di sekitarmu dan apa yang kau cari sudah kau dapatkan. Kau hanya harus menyadarinya.” Dia melepaskan pengangan tangannya dan berjalan menjauh kemudian menghilang bagai hantu.
“Tunggu dulu!” teriakku tapi sia-sia. Dia sudah menghilang.
Aku terbangun karena mimpi itu pada jam dua dinihari. Setelah aku merasa tenang, aku mulai memikirkan perkataan gadis itu. Dia memang benar-benar seperti versi muda nenekku. Aku bisa merasakannya dari gaya bicara dan senyumnya yang menenangkan, persis sama dengan almarhumah nenekku. Apa dia adalah hantu nenekku yang bereinkarnasi menjadi gadis remaja? Kalau nggak salah Clara pernah bilang bahwa hantu tingkat sepuluh bisa mengubah diri mereka menjadi manusia seutuhnya dan mereka pun bisa mati tapi akan bereinkarnasi menjadi manusia lainnya. Kalau begitu, gadis remaja itu memang benar nenekku! Dia sengaja datang ke mimpiku untuk memberi petunjuk walau masih samar-samar.
Musuhmu ada di sekitarmu dan apa yang kau cari sudah kau temukan. Kau hanya harus menyadarinya.
Aku bisa merasakan suara gadis itu bergema di seluruh ruangan kamar. Apa artinya? Kenapa nenek nggak memberitahuku? Musuhku ada di sekitarku apa itu artinya orang-orang yang dekat atau yang kukenal sebenarnya adalah musuhku? Dan apa yang kucari sudah kutemukan, kau hanya harus menyadarinya. Apa itu berarti sebenarnya aku sudah tahu siapa hantu Claudia itu namun aku nggak menyadarinya?
Aku memanggil Clara walau aku tahu dia bakalan nggak senang karena aku memanggilnya jam segini. Sosoknya pun muncul dihadapanku. “Nggak biasanya kau memanggilku jam segini? Kau pikir aku jin yang bisa kau panggil sesuka hatimu?”
Perkataan Clara nggak kuperdulikan. Aku langsung menceritakan mengenai mimpiku itu dan meminta pendapatnya. Tanpa kusadari aku mulai merasa bergantung pada pendapat Clara.
Dia terdiam sebentar untuk berpikir. “Mimpi yang aneh tapi mungkin yang kau katakan itu benar. Nenekmu ini ingin memberitahumu tapi dalam sebuah rangkaian kalimat peribahasa namun kita memang bisa menebaknya walau masih hanya sekedar tebakan.”
“Lalu apa menurutmu?” tanyaku dengan semangat yang kembali muncul lagi. Kantuk pun sudah hilang karena semangat yang sedang menyala-nyala ini.
“Kalau memang musuhmu ada di sekitarmu maka yang kucurigai adalah Ibu Angela dan suaminya Alfred.”
Tebakan Clara itu cukup mengejutkanku. Aku tahu memang Clara nggak menyukai mereka, tapi nggak ada alasan apapun bagi mereka untuk menjadi musuh. Alfred mungkin bisa dicurigai, tapi Ibu Angela? Dia hantu yang baik dan dia sendiri menyuruhku untuk membakar lembaran sakramen itu. Kalau dia musuh, nggak mungkin dia menyuruhku melakukan itu. “Aku nggak berpikir bahwa mereka musuh yang kita cari,” ujarku lamat-lamat, Clara menggerutu mendengarnya.
“Kau terlalu percaya dengan mereka. Oke, mungkin si Angela bukan musuh itu, tapi Alfred? Kita berdua sepakat bahwa dia itu aneh.” Clara duduk bersila di atas tempat tidur dan berkata lagi, “Lagian apa yang kau cari sudah kau temukan, namun yang kau cari adalah petunjuk mengenai keberadaan hantu Claudia dan sampai sejauh ini kau nggak menemukan apa-apa.”
Aku menggaruk pipiku yang digigit nyamuk. “Memang benar sih kalau dipikir-pikir. Semua hal yang kita kumpulkan belum memberikan petunjuk apa pun.”
Kami terdiam selama beberapa menit dan kantuk kembali menyerangku. Aku melihat ke arah jam dinding dan terperangah bahwa sekarang sudah hampir jam tiga pagi. Hebat! Aku nggak pernah terbangun sampai jam segitu. Kantuk semakin tak tertahankan dan aku bermaksud untuk mengatakan pada Clara bahwa aku mau tidur lagi namun sebuah suara tangisan memilukan menyentakkan kami berdua. Suara itu terdengar berkata lirih di antara isak tangisnya. Aku nggak terlalu menangkap apa katanya namun Clara mendengarnya dengan jelas.
“Suara itu berbunyi, ‘Ibu, Ibu, kenapa kau melakukan ini?’. Dengarkan baik-baik, dia memanggil-manggil lagi.” Clara dan aku terdiam sementara Clara mendengar dengan jelas suara itu, aku harus menajamkan telingaku untuk mendengar lebih jelas suara memilukan itu. Awalnya memang masih isak tangis yang kudengar, kemudian aku mendengar suaranya, suara anak perempuan yang merintih dan bertanya, “Ibu, Ibu, kenapa kau melakukan ini?”. Perkataan Clara benar.
Suara itu kemudian berhenti. Kami menunggu selama beberapa menit untuk mendengarkan apakah suara itu akan terulang lagi, tapi ternyata hasilnya nihil. Aku memandang Clara, Clara memandangku. Aku bertanya padanya dan aku bisa merasakan tenggorokanku tercekat. “Suara apa itu?”
Clara nggak tahu harus berkata apa jadi dia hanya menjawab, “Suara gaib. Suara hantu.”
“Aku juga tahu bahwa itu suara gaib.” Aku menelan ludah, “Masa kau nggak tahu itu suara apa? Kau kan juga hantu.”
“Harus kuakui,” dia menghentikan kalimatnya dan matanya yang cuma sebelah itu copot dengan sendirinya. Namun Clara nggak berusaha untuk memperbaikinya. “Dari suaranya saja membuat hantu tingkat tujuh sepertiku merinding.”
Aku sebenarnya ingin menyindir Clara namun aku malah menyetujui ucapannya. Suara apa pun itu yang jelas dia pasti suara dari sesosok hantu yang sangat kuat.

Paginya Ibuku melihat betapa sayunya mataku seperti orang kurang tidur dan dia langsung bertanya layaknya seorang polisi yang mengiterogasi tahanannya. “Pasti kau semalam begadang. Untuk apa dan mengapa?”
Aku hanya melambaikan tanganku dan menutup mulutku yang menguap. Sama sekali nggak ada gunanya apabila aku mengutarakan alasanku begadang semalam. Setelah aku dan Clara mendengar suara gaib itu, aku nggak bisa melanjutkan tidur lagi. Aku takut apabila aku tidur bakalan ada sesuatu yang akan mendatangiku atau suara gaib itu akan hadir di mimpiku. Jadi aku mengajak Clara untuk bermain monopoli. Rasanya lucu melihat sesosok hantu seperti Clara bermain monopoli. Dia nggak pernah main apa itu namanya monopoli dan dia terlihat bersemangat sekali memainkannya. Kalau Ibuku melihat apa yang kulakukan tadi malam, dia pasti pingsan melihat kartu-kartu dan uang-uang dan rumah-rumah bergerak sendiri.
“Kau belum jawab pertanyaan Ibu,” kata Ibu yang kelihatan sekali menyembunyikan kejengkelannya kepadaku yang nggak menjawab. “Jangan bilang kalau kau nonton televisi di ruang tengah.”
“Nggak,” bantahku. “Ibu pasti tahu kalau aku nonton televisi. Aku kan kalau nonton televisi selalu dengan volume yang besar.”
Namun jawabanku nggak begitu menyakinkannya jadi dia bertanya lagi, “Lalu apa yang membuatmu kayak orang kurang tidur gitu?”
Aku berusaha memikirkan alasan yang masuk akal untuk dikarang kepada Ibu. “Hm, semalam aku bermimpi bertemu dengan nenek. Di mimpiku dia terlihat sangat muda seperti gadis remaja. Dia mengajakku berjalan-jalan dan dia menceritakan kisah-kisahnya yang hebat sama seperti ketika nenek masih hidup. Aku terbangun dan selalu teringat dengan mimpi itu yang membuatku terjaga sampai pagi.” Walaupun hampir semua yang kukatakan itu salah, namun bagian aku bertemu dengan nenek itu kan benar.
Mendengar penjelasanku, Ibuku nggak berkata apa-apa. Aku tahu pembicaraan tentang nenek adalah pembicaraan yang dia hindari. Walau pun Ibuku agak marah karena ramalan nenek itu, namun semenjak nenek meninggal, Ibuku berusaha untuk nggak membicarakan apa pun tentang nenek lagi yang mungkin bisa membangkitkan kenangannya akan Ibunya sendiri. Kalau aku beritahu kalau nenek adalah hantu, apa ya reaksi Ibuku? Tertawa mungkin? Atau marah?
Ibuku mengantarku ke sekolah. Di sepanjang perjalanan kami lebih banyak diam. Seharusnya aku memikirkan alasan yang lebih bagus lagi dan nggak menyinggung-nyinggung soal almarhumah nenek. Untung aku nggak menyinggung-nyinggung soal kakek. Entah bagaimana perasaan Ibuku kalau aku membicarakan mereka. Sesampainya di sekolah, aku segera masuk ke kelas namun langkahku terhenti di depan pintu karena di dekat bangkuku sudah ada Trio Truk Gandeng. Anak-anak di kelas sudah mereka usir, jadi hanya tinggal kami berempat yang berada di dalam.
Si Gendut No.1 memperhatikan keseluruh isi kelas dengan matanya yang besar dan akhirnya tatapannya tertuju kepadaku. Dia langsung berkata dengan marah, “Kenapa si Tikus Got ini masuk ke sini!?”
“Memangnya kenapa?” tanyaku polos. “Ini kan kelasku. Seharusnya kan aku yang bertanya seperti itu.”
Aku kira Trio Truk Gandeng akan marah mendengar perkataanku, tapi nyatanya nggak. Mereka nggak peduli akan kehadiranku dan malah mengoceh di antara mereka sendiri. Si Gendut No.1 berkata dengan tajam, “Aku bisa merasakannya.” Dia memandang langit-langit, “Ada sesuatu hal gaib yang berada di kelas ini.”
Aku nggak mengerti apa yang mereka bicarakan. Aku bahkan nggak tahu bahwa Trio Truk Gandeng punya minat dengan hal-hal supranatural. Hal yang nampaknya merupakan pemikiran terakhir yang bisa kau pikirkan tentang mereka. Sepertinya berita bahwa kelas kami ada penunggunya sudah tersebar ke seluruh sekolah dan Trio Truk Gandeng termasuk anak-anak yang percaya bahwa hantu telah menjahili anak-anak di sini. Aku melirik ke arah Clara yang seperti ingin tertawa tapi berusaha untuk menahannya. Aku menghela napas dan bermaksud mengatakan bahwa nggak ada hantu di sini tapi Si Gendut No.1 berbicara duluan.
“Dia di sana.” Si Gendut No.1 menunjuk ke arah papan tulis. “Dia berdiri di depan papan tulis dan sedang memandangi kita.” Kedua temannya melihat ke arah yang ditunjuk teman mereka dan takjub seolah-olah mereka benar-benar melihat hantu.
Clara sama sekali nggak bisa menahan tawanya. Dia tertawa terbahak-bahak sedangkan aku berusaha untuk menahan tawaku. Mereka benar-benar nggak masuk akal. Sudah jelas-jelas hantu penghuni kelas ini alias Clara berada di belakangku bukan di depan papan tulis. Aku yakin Si Gendut No.1 hanya ingin mempertontonkan kehebatannya di depan teman-temannya, tapi usaha itu gagal.
Tanpa sengaja Si Gendut No.2 melihatku yang sedang berusaha menahan tawa dan dia melotot kepadaku. “Kenapa kau tertawa Tikus Got?”
“Nggak ada kok,” ujarku sambil mengulum bibir. “Hanya aku rasa kalian nggak masuk akal.”
Sekarang Si Gendut No.1 melihatku sambil berkacak pinggang. “Memangnya kau tahu apa? Kau tahu nggak sih bahwa aku ini punya seorang paman pengusir hantu?” ujarnya dengan bangga. Padahal hal seperti itu nggak ada gunanya untuk dibanggain.
Pengusir hantu? Jangan-jangan pamannya si Supradi itu. Aku memutuskan bertanya, “Nama pamanmu Supradi ya?”
Si Gendut No.1 terlihat bingung. Dia memandang ke kedua temannya yang sama herannya seperti dia. Kemudian dia kembali memandangku dengan tatapan penuh tanya. “Darimana kau tahu nama pamanku Supradi?”
“Aku juga tahu nama asistennya Jalil dan mereka berdua tiba-tiba nongol di depan pintu muka rumahku beberapa hari lalu. Mereka mengatakan di rumahku ini ada penunggunya dan seenaknya masuk ke dalam rumahku.” Aku berhenti sebentar untuk melihat reaksi Trio Truk Gandeng. Mereka tampak penasaran sekaligus serius mendengarkan ceritaku. “Mungkin memang ada hantu di rumahku, namun yang jelas pamanmu itu menyampah di rumah dan Ibuku langsung marah dan mengusir mereka.” Aku mengakhiri ceritaku dengan tatapan penuh arti. Masih jelas teringat bagaimana marahnya Ibuku hanya karena dua pengusir hantu itu menyampah di ruang tengah.
Suara bel membuat Trio Truk Gandeng yang terbengong segera kembali sadar. Anak-anak yang sebenarnya sedari tadi mengintip dari jendela mulai masuk ke dalam kelas. Trio Truk Gandeng yang masih berwajah antara nggak percaya sekaligus bingung meninggalkan kelas kami. Aku nggak menyangka reaksi mereka bakalan begitu. Rupanya mereka terlalu percaya dengan paman Si Gendut No.1 yang bernama Supradi itu. Clara masih tertawa-tawa senang karena peristiwa tadi sampai-sampai dia nggak menyadari bahwa suara tawanya dapat didengar oleh seluruh murid. Aku langsung melotot ke arah Clara dan dia baru sadar bahwa dia nggak menyembunyikan suara tawanya yang menyeramkan itu. Mendengar suara gaib yang entah darimana, membuat semua murid di kelasku berlari keluar sambil berteriak, “Suara hantu! Suara hantu!” guru yang baru masuk pun bingung melihat anak-anak keluar kelas sambil berlari-lari.
Aku menepuk kepalaku sendiri. Masalah ada hantu di kelas kami pasti akan bertambah besar dan makin banyak anak-anak yang akan membicarakan masalah ini dan makin banyak pula anak-anak yang percaya. Clara menutup mulutnya namun dia sama sekali nggak merasa bersalah. Dia malah menyalahkan Trio Truk Gandeng yang membuat komedi dadakan di kelas tadi. Aku hanya menghela napas jengkel.
Dan oh ya satu lagi. Pasti akan ada lagi anak yang mengira bahwa aku berteman dengan hantu. Soalnya hanya aku sendiri yang nggak kabur ketika mendengar suara tawa gaib itu.

Gara-gara murid-murid dari kelas kami nggak mau menempati kelas dan nggak ada kelas kosong lain untuk belajar, maka murid-murid di kelas kami dipulangkan lebih cepat. Aku meminjam HP Georgia untuk menelepon Ibu, soalnya aku nggak punya HP, padahal anak seusiaku sudah banyak yang punya dan membawa HP ke sekolah. Bahkan Tiara memamerkan HP mahal dan keluaran terbarunya di depan kelas beberapa hari yang lalu. Ibuku nggak menjawab teleponku.
Setelah beberapa kali mencoba aku baru sadar bahwa Ibuku nggak mau mengangkat nomor yang nggak dikenalnya, jadi aku memutuskan untuk mengirimnya SMS kemudian mengembalikan HP kepada Georgia. Aku menunggu jemputan Ibu di depan gerbang sekolah bersama Clara. Aku tahu menunggu adalah hal yang paling membosankan bagi Clara begitu pula denganku, begitu pula dengan semua orang, tapi Claralah yang paling benci kalau disuruh menunggu. Untuk menghilangkan kebosanan, dia yang untungnya hantu, berbuat jahil kepada anak perempuan di sebelahku dengan meniup-niup tengkuknya. Anak itu kegelian sendiri dan Clara terkikik-kikik. Aku membiarkannya saja.
Dua puluh menit berlalu dan nampaklah mobil hitam Ibu yang berhenti di depanku. Aku masuk ke mobil dan duduk di bangku depan sedangkan Clara menembus pintu mobil dan duduk di belakang dan langsung selonjoran di bangku. aku menoleh ke belakang dengan jengkel dan sialnya Ibuku memperhatikan gerak-gerikku.
“Ada siapa sih di belakang?” tanyanya sambil mengendarai mobil. “Rasanya kau sekarang semakin aneh. Mungkin kita bisa ke tempat praktek Dr. Gabriel lagi.”
“Nggak mau!” tolakku cepat. Sudah bosan aku melihat Dr. Gabriel dan segala pembicaraannya yang nggak penting. “Kan aku sudah pernah bilang kepada Ibu!”
“Masalah tentang kau anak indigo yang tidak masuk akal itu? Ibu tidak pernah percaya dengan hal begituan!”
“Ya, tentu saja karena Ibu nggak pernah melihatnya sendiri!” aku cemberut sambil menyilangkan tangan di depan dada. Clara duduk tegak dan mencondongkan tubuhnya ke arahku sambil berbisik, “Aku bisa membuat diriku kelihatan di depan Ibumu, kalau kau mau.”
Aku sebenarnya juga punya pemikiran seperti itu. Kalau Clara menampakkan wujudnya, maka Ibuku nggak bisa membantah atau berkata yang sama lagi. Tapi rasanya kurang tepat apabila Clara menampakkan wujudnya sekarang. Mungkin nanti apabila aku berhasil memecahkan misteri yang melingkupi rumah kami. Itu pun kalau berhasil dan ramalan nenek tentang Ibuku meleset. Kalau aku gagal dan ramalan nenek tentang Ibu benar…., aku merinding.
Kami akhirnya sampai di rumah. Ibu memberikan kunci rumah kepadaku karena dia akan kembali ke kantornya. Asyik! Aku punya banyak waktu luang di rumah sendirian. Mungkin aku bisa berjalan keliling di sekitar sini dan menanyakan kepada tetangga-tetangga tentang rumah kami ini. Setelah aku masuk di kamar, Clara mulai mengajakku berbicara serius. Aku ingin tahu hal apa yang akan dia bicarakan sampai seserius ini.
“Mengenai suara gaib semalam…,” mulainya dengan nada misterius, “aku sudah mendeteksinya.”
“Kapan kau mendeteksinya?” tanyaku cepat. Perasaan dari tadi Clara mengikutiku terus, jadi kalau dia melakukan sesuatu pasti aku tahu.
Clara mengangkat tangannya menandakan aku untuk diam. Dia berbicara lagi, “Aku hantu dan hantu bisa mendeteksi keberadaan hantu lain asalkan hantu itu mengirim tanda-tanda yang jelas. Masalahnya kebanyakan hantu yang tingkatannya sudah di atas enam, enggan menampakkan wujudnya atau bahkan memberi tanda-tanda bahwa dia sebenarnya ada di sini atau yang lebih parahnya dia sudah lama berada di sini, tepat di depan hidungmu namun kau nggak menyadarinya. Yah, seperti yang pernah aku lakukan padamu.”
Memang Clara pernah menyembunyikan dirinya dariku dengan amat baik sehingga aku nggak tahu bahwa dia ada di sini atau mungkin di depanku saat itu. “Jadi menurutmu suara gaib semalam berasal dari hantu yang sebenarnya sudah lama berada di sini namun dapat menyembunyikan sosoknya bahkan hantu pun sendiri nggak bisa mendeteksinya dengan sangat baik dan baru sekarang dia mengirim tanda berupa suara itu untuk memberitahu bahwa dia ada di sini, di dekat kita.”
Clara mengangguk dan terlihat senang dengan pengertianku. “Tepat sekali. Dan setelah dia mengirimkan tanda, aku perlu beberapa jam untuk bisa mendeteksi keberadaannya dan jawabannya kudapatkan ketika kita dalam perjalanan pulang. Kata-kata nenekmu tepat, apa yang kau cari ada di sekitarmu dan memang dia ada di sekitar kamar ini, lebih tepatnya…” Clara menggerakkan telunjuknya ke arah tempat tidurku dan seketika itu juga tempat tidurku menggeser sendiri. “Dan disitulah dia!”
Aku melihatnya. Ada sebuah lubang di bawah tempat tidurku yang nggak pernah kusadari sebelumnya. Aku pun teringat bahwa kamarku adalah satu-satunya kamar yang nggak banyak mengalami perubahan ketika pendekorasian ulang dan tempat tidurku adalah salah satu benda yang nggak diubah tempatnya sehingga nggak ada yang tahu tentang lubang itu. Aku memandang ke arah Clara yang tersenyum lebar. Kami berdua mendekati lubang itu dan melongok ke dalam. Ada tangga di dalamnya.
“Kayaknya ini jalan rahasia seperti yang sering ada di film-film,” ujarku sambil terus memandang ke dalam lubang. “Aku penasaran lubang ini menuju ke mana.”
“Kalau begitu kenapa kau nggak masuk?” Clara bergerak menjauhi lubang. Aku bingung dengan kelakuannya. Dia sepertinya enggan untuk masuk ke dalam lubang tersebut.
“Kau menyuruhku untuk masuk ke dalam sana sendirian?”
Dia mengangkat bahu dan menjauh dua langkah lagi. “Bianca, seperti yang pernah kubilang. Hantu dengan tingkat lebih rendah nggak akan mau berhadapan dengan hantu dengan tingkat lebih tinggi darinya. Aku bisa merasakan bahwa hantu apapun itu yang menghuni lubang itu pasti hantu tingkat tinggi, mungkin delapan atau sembilan. Dilihat dari cara dia yang sangat pandai menyembunyikan diri selama ini sampai-sampai aku sendiri pun nggak tahu, itu sudah jadi bukti bahwa dia lebih kuat dariku.”
Sebenarnya aku ingin mengejek Clara dengan mengatakannya penakut tapi kalau memang peraturan dalam dunia perhantuan begitu, ya aku nggak mau memaksanya. “Tapi kalau ada apa-apa denganku di bawah sana bagaimana?”
“Ya, aku akan berdoa dari sini,” kata Clara yang nggak membuat tenang sama sekali.
“Ya, berdoalah semoga aku masih tetap akan hidup setelah keluar dari lubang ini.” Aku kembali menatap lubang itu dan menelan ludah. Aku merasakan ada bola kasti yang nyangkut di tenggorokkanku dan aku juga merasa ada sesuatu yang memanggil-manggilku dari lubang tersebut. Aku nggak boleh takut, nggak akan terjadi apa-apa denganku. Kalau pun terjadi sesuatu setidaknya aku sudah berusaha jadi anak yang baik. Dengan langkah pertama yang sangat ragu aku memasuki lubang.
Tangga menuju ke bawah melingkar-lingkar dan semakin dalam aku masuk semakin pengap dan gelap suasananya. Angin dingin berhembus entah darimana dan aku bisa merasakan aku kedinginan sekaligus ketakutan. Ternyata ada sebuah ruangan di bawah tempat tidurku, ruangan berlantai tanah dan berdinding batu. Ruangan ini cukup gelap dan aku memicingkan mataku untuk melihat. Sepertinya aku melihat sosok samar-samar di ujung sana, namun karena kurangnya cahaya aku nggak tahu apakah yang kulihat itu. Aku melangkah lebih jauh dan tiba-tiba ruangan jadi terang karena adanya api obor yang entah kenapa bisa menyala sendiri. Sekarang aku bisa melihat dengan lebih jelas. Ruangan ini berbentuk setengah lingkaran dan ada sebuah tempat tidur kecil di tengah-tengahnya. Tempat tidur itu seperti tempat tidur yang biasanya dipakai di rumah sakit-rumah sakit dan diapit oleh dua meja kecil. Aku mendekati benda-benda itu dan baru sadar bahwa seprai tempat tidur itu bernoda darah. Dua meja yang mengapit tempat tidur itu berisikan peralatan-peralatan seperti peralatan dokter bedah. Semuanya sudah berkarat dan berdebu, nampaknya sudah nggak dipakai lagi selama belasan atau puluhan tahun.
Aku tahu bahwa tempat tidur ini pasti ada penunggunya dan hantu itu ada di sini namun nggak mau memperlihatkan wujudnya. Jangan-jangan wujudnya lebih menyeramkan daripada Clara? Atau hantu itu menunggu saat yang tepat untuk menyerangku secara tiba-tiba? Aku berdiri tegak bagai patung selama sesaat dan nggak merasakan apa-apa. tentu aku ingin cepat-cepat keluar dari sini, tapi aku harus mendapatkan sesuatu. Sesuatu yang berharga sebagai petunjuk dari semua misteri ini. mungkin dengan berbaring di tempat tidur ini, aku bisa mendapatkan suatu petunjuk. Siapa tahu pemilik sebelumnya dari tempat tidur ini mau memberikanku sekilas tentang kenangannya ketika dia masih hidup.
Walau lumayan jijik dengan noda darah yang telah mengering itu, aku tetap membaringkan diriku di atas tempat tidur. Ukurannya pas dengan tinggi tubuhku, pasti ini tempat tidur buat anak seusiaku atau setinggi diriku. Satu dua menit dilalui dengan diam dan kemudian sesuatu terjadi. Perutku serasa dihantam dan otakku rasanya mau pecah ketika sesuatu yang bertubi-tubi memasuki pikiranku. Aku pun pingsan di atas tempat tidur itu.
Sesuatu yang masuk itu, melesak dan memenuhi otakku. Satu-persatu kenangan seseorang menyerbu masuk dan terangkai menjadi sebuah gambaran suatu kejadian yang jelas. Aku berdiri di sini, di tempat yang sama namun ruangan setengah lingkaran ini dipenuhi dengan orang-orang dengan jubah dan tudung warna hitam. Mereka semua melihat ke arah tangga, menantikan sesuatu turun dari sana dan memang benar ada sesuatu yang turun. Selusin orang secara teratur menuruni tangga dan orang terakhir memegang seorang anak perempuan yang memakai topeng.
Semua orang di sana memberikan jalan kepada selusin orang itu. Di tengah-tengah ada sebuah tempat tidur yang sama yang diapit dua meja, cuma bedanya sekarang di sekeliling tempat tidur itu dilukis dengan cat warna merah sebuah lingkaran dengan tulisan yang nggak kumengerti, sepertinya tulisan kuno. Anak perempuan itu dibaringkan di atas tempat tidur. Tangan dan kakinya diikat dengan tepi tempat tidur. Dia yang baru sadar dari pingsannya, segera meronta-ronta namun usahanya itu sia-sia. Seorang dari orang-orang berjubah hitam ini mendekati anak itu dan menyuntikkan sesuatu, sepertinya itu obat penenang. Anak yang meronta-ronta tersebut segera tenang dan sebelum kesadarannya habis, dia berucap dengan nada memilukan, “Ibu, Ibu, kenapa kau melakukan ini?” aku terkejut mendengarnya karena ucapannya sama dengan suara gaib yang aku dan Clara dengar semalam.
Orang berjubah itu mengeluarkan sebuah belati dari balik jubahnya. Belati yang gagangnya dihiasi bulu burung gagak. Aku jadi teringat dengan belati yang kutemukan di peti di gudang. Bentuknya persis sama dengan yang dipegang wanita itu. Kemudian semua orang yang berada di sana memegang sebuah lembaran yang nggak asing lagi bagiku. Lembaran sakramen itu. Seorang lagi mendekati tempat tidur dan membacakan lembaran sakramen yang dipegangnya kuat-kuat. Dia mengucapkannya dalam Bahasa Latin kurasa karena lembaran sakramen itu memang menggunakan dua bahasa, Inggris dan Latin.
Semua orang di ruangan ini kemudian membacakan lembaran mereka kuat-kuat. Aku menyaksikan semua ini dengan keheranan dan nggak bisa berkata apa-apa. aku nggak bisa melihat wajah mereka, karena mereka semua memakai topeng yang sama dengan yang dipakai anak perempuan yang terbaring itu. Setelah mereka selesai membaca, orang yang memegang belati mengangkat belatinya tinggi dan kemudian menusukkan benda itu tepat ke jantung anak itu. Aku langsung menutup mata, tak sanggup melihat kejadian itu.
Kemudian dia mengambil peralatan-peralatan yang ada di meja. Dia mengambil pisau kecil dan membelah perut anak itu lalu mengambil ginjalnya. Organ tubuh itu dia taruh di baki. Dia melanjutkan lagi kegiatan menjijikkan dan sadisnya itu. Dia mengambil kedua bola mata anak itu, mencukur rambutnya sampai botak dan memotong jari-jarinya. Perbuatannya benar-benar membuatku ingin muntah.
Aku langsung terbangun dan mendapati bahwa aku tak sadarkan diri di atas tempat tidur. Aku berada di ruangan yang sama dengan yang ada di dalam mimpiku. Anak perempuan yang kulihat dalam mimpi itu, apakah dia adalah korban ritual kuno? Lalu apakah dia Claudia? Aku nggak tahu. Semua hal ini malah membuatku jadi bertambah pusing. Aku turun dari tempat tidur dan mendengar teriakan Clara dari atas yang menanyakan apakah aku baik-baik saja. Dengan sekali pandangan ke arah tempat tidur rumah sakit itu, aku melangkah menaiki tangga. Cahaya obor di ruangan itu padam seketika.
Tiba di atas, aku langsung disambut dengan tampang Clara yang bingung dan bertanya-tanya. Dia bersyukur bahwa aku masih hidup namun juga khawatir dengan mukaku yang terlihat murung dan nggak bersemangat. Aku menceritakan semua yang aku dapat di bawah tanpa diminta Clara terlebih dahulu. Dia mendengarkan dengan sangat serius ceritaku. “Jadi begitulah,” aku mengakhiri ceritaku dengan satu tarikan napas.
Dia nggak langsung berkomentar. Dia berdiri dan berjalan mondar-mandir dengan gelisah. “Ini bakalan gawat!” gumamnya berkali-kali. Lalu dia berhenti dan menjentikkan jarinya. “Aku seharusnya dari dulu tahu bahwa memang ada sesuatu yang nggak beres di rumah ini. Ritual kuno itu terbukti benar dan ruangannya berada tepat di bawah kita selama ini. Tepat di bawah kamarku!”
“Aneh rasanya kau bilang begitu. Bahkan ketika kau masih hidup kau pun nggak tahu?”
Clara menggelengkan kepalanya dan kembali berjalan mondar-mandir. “Aku nggak pernah  tahu, maka daripada itulah aku bingung. Oh ya, tadi apa kau bisa mendengar suaraku dari atas?”
“Ya, aku bisa mendengarnya dengan jelas,” jawabku apa adanya.
“Kalau begitu kita adakan eksperimen. Ayo kita cari sebuah penutup untuk lubang ini. Nanti kau akan kembali masuk ke dalam sana dan berbicaralah sekeras yang kau bisa.”
Aku nggak mengerti eksperimen apa yang dia bicarakan, tapi kami akhirnya juga mencari penutup untuk lubang itu. Ada sebuah papan tebal berbentuk persegi di belakang gudang dan kami membawanya ke kamarku. “Sekarang apa yang akan kita lakukan?” aku menepuk-nepuk papan itu. “Seingatku aku nggak pernah tahu ada benda beginian di belakang gudang.”
“Masuklah ke dalam lubang sekali lagi, nanti aku akan menutup lubang dengan papan ini kemudian berteriak memanggilmu dari luar. Lalu kau lakukan hal yang sama di dalam lubang ini.” Dia setengah mendorongku ke dalam lubang, membuatku melotot ke arahnya.
Sebenarnya aku sangat malas untuk kembali lagi ke lubang ini. Aku berada di ruangan itu lagi, tapi sekali ini api obor sama sekali nggak menyala kayak tadi. Tempat ini gelap dan dingin dan aku bersumpah akan menyalahkan Clara kalau terjadi apa-apa.
“Aku akan menutup lubangnya dan mulai berteriak,” kata Clara dari atas dan dia memindahkan papan tebal itu tepat di tengah lubang. Suasana menjadi bertambah gelap di dalam sini.
Nggak terdengar apa-apa dari atas. Aku menggosok telapak tanganku lalu mendekap tubuhku sendiri. Udara di sini semakin dingin. Rasanya seperti aku baru saja dimasukkan ke dalam freezer. Papan yang menutupi lubang tergeser dan wajah Clara nongol. “Apa kau mendengar suaraku tadi?”
“Aku sama sekali nggak mendengar apa-apa,” teriakku dari bawah. “Apa eksperimen ini sudah selesai? Aku kedinginan di bawah sini.” Sekarang aku baru tahu kenapa orang-orang dalam mimpiku memakai jubah panjang. Mereka berlindung dibalik jubah itu untuk mencari kehangatan dari dingin yang mengelilingi ruangan ini.
“Belum,” jawab Clara, “aku akan menutup lubang ini lagi, dan kau sekarang yang berteriak. Apa kau mengerti?”
“Ya, ya, ya!” dan lubang itu kembali ditutup Clara. Aku berteriak sekuat tenaga dan nggak ada respon apapun dari Clara. Yang bisa kudengar hanyalah suaraku yang bergema di ruangan ini. Sesaat kemudian tutup lubang kembali digeser Clara. “Apa kau mendengar teriakanku tadi?”
Dengan wajah senang dia menjawab, “Nggak sama sekali. Keluarlah! Aku tahu sesuatu.”
Tapi disuruh dua kali, aku segera keluar dari lubang es itu. Clara kembali menutup lubang itu dengan papan. “Sekarang aku baru tahu kenapa selama masih hidup aku nggak tahu menahu mengenai lubang ini.”
Aku duduk di kursi meja belajarku. “Karena apa?”
“Selain karena lubang itu berada di bawah tempat tidurku, lubang itu sudah dilapisi ubin khusus. Ubin yang terlihat biasa saja, tapi merupakan jalan masuk ke dalam lubang itu. Ruangan di bawah itu kedap suara, sehingga orang nggak akan mendengar apa-apa dari bawah sana. Namun ketika ubin itu dibuka, ruangan itu menjadi nggak kedap suara lagi. Maka daripada itulah aku mengadakan eksperimen kecil itu dan ternyata dugaanku benar.” Dia terlihat senang dan bangga sekali karena teorinya ternyata benar.
“Tapi ketika kita menemukannya nggak ada sama sekali ubin atau penutup apapun. Lubang itu dibiarkan menganga begitu saja,” kataku cepat. Rasanya aneh apabila lubang rahasia seperti itu dibiarkan terbuka begitu saja.
“Hm, berarti ada orang yang pernah masuk ke sana sebelum kau. Ya, mungkin pencuri itu menyamar sebagai salah satu pekerja yang disewa untuk menata ulang rumah ini. Dia menemukan lubang ini dan menghancurkan ubin yang menutupinya kemudian membiarkan lubang itu terbuka.”
“Untuk apa dia membiarkan lubang itu terbuka? Maksudku apa untungnya buat dia?”
Clara menggeleng dan tampangnya berubah menjadi kecewa. “Sayangnya aku nggak tahu. Aku bahkan baru menyadarinya sekarang. Ketika rumah ini ditata ulang, aku nggak ada di sini. Aku nggak suka bila ada penataan rumah, jadi aku memutuskan untuk keluar. Coba pada waktu itu aku berada di dalam rumah, mungkin aku bisa tahu lebih cepat mengenai lubang ini.” Dia meninju tangannya sendiri.
Perkataan Clara mungkin ada benarnya. Lubang itu dibiarkan terbuka supaya si pencuri nggak perlu bersusah-susah lagi untuk masuk ke sana suatu hari nanti. Orang ini benar-benar ingin membangkitkan kembali ritual kuno itu. Aku bergidik membayangkan apa yang kulihat ketika aku terbaring tak sadarkan diri di bawah sana. Ritual itu benar-benar sadis dan menjijikkan! Aku nggak akan pernah mau menjadi korban dari ritual itu. Siapa pun orang ini, aku akan membuka kedoknya dan mengirimnya ke penjara! Aku nggak tahu bagaimana aku akan melakukan itu, tapi aku yakin, pasti ada jalan.

Aku mendapati diriku berhadapan dengan Trio Truk Gandeng, eh, mereka sekarang hanya berdua, Si Gendut No.1 nggak ada. Kami masih berada di depan gerbang sekolah dan kedua anak besar di depanku itu bermata merah dan sembab sepertinya mereka habis menangis. Selama semenit yang terasa sangat lama bagi kami, akhirnya aku bertanya, “Kenapa kalian? Mana pemimpin kalian itu?” tentu saja aku bertanya dengan nada acuh yang kubuat-buat.
Mendengar pertanyaanku, mereka malah menangis lagi. Beberapa murid yang lewat nggak bisa menyembunyikan keheranan mereka, namun karena hampir rata-rata murid di sekolah ini takut dengan Trio Truk Gandeng yang pagi ini menjadi Duo, mereka hanya memandang sebentar sebelum berjalan ke kelas masing-masing.
“Kalian kenapa sih?” tanyaku sekali lagi. Kali ini aku merasa lumayan kasihan dengan mereka walau dalam hati masih curiga kalau ini semacam jebakan.
Si Gendut No.3 mengambil sapu tangannya dan mengusap air mata di pipinya sebelum menjawab, “Sekarang Melanie ada di rumah sakit. Kondisinya sangat kritis, dia koma.”
Aku membelalakkan mataku mendengar perkataannya. Si Gendut No.1 dalam keadaan koma? Apa yang terjadi padanya? Baru kemarin aku lihat dia berdukun-dukun ria dengan kedua temannya di kelasku dan sekarang dia koma? “Me, memangnya apa yang terjadi padanya?”
Pertanyaanku nggak segera dijawab, karena dua orang itu kembali menangis lagi. Satpam sekolah kami, Pak Soleh, hanya menatap dua anak itu tanpa berbuat apa-apa. Akhirnya Si Gendut No.2 menjawab, “Kemarin sepulang sekolah Melanie ketabrak sepeda.”
“Hanya ketabrak sepeda langsung koma?” tanpa aku sadar aku berkata keras-keras membuat beberapa anak berhenti untuk memandangku. Aku langsung tutup mulut. Sungguh perkataan Si Gendut No.2 kedengaran nggak masuk akal. Masa Melanie bisa langsung koma hanya karena ditabrak sepeda?
“Iya,” lanjut Si Gendut No.3. “Namun sehabis tertabrak sepeda dia ketabrak dengan truk yang lagi melintas.”
Sekarang baru aku tahu kenapa dia bisa koma. Kenapa nggak bilang dari awal saja sih kalau dia ketabrak truk? Walaupun aku nggak suka sama Si Gendut No.1 dan komplotannya, aku turut bersedih untuk mereka. Namun mereka berdua menggeleng secara serempak. “Kami nggak butuh rasa belas kasihanmu,” ujar Si Gendut No.2 dengan terang-terangan.
“Nanti akan ada sumbangan berjalan dari kelas ke kelas untuk membantu Melanie. Kami memaksamu untuk memberikan sumbangan sebanyak yang kau punya di kantongmu, Tikus Got!” Si Gendut No.3 membesarkan suaranya yang sudah terdengar parau.
Lihat, perkataan mereka sungguh menjengkelkan! Setelah salah satu dari mereka sekarat, mereka masih sempat-sempatnya untuk memerasku. Aku nggak menjawab apa-apa dan segera berlalu dari hadapan mereka. Di sepanjang perjalanan ke kelas, Clara nggak bisa menyembunyikan kekesalannya begitu pula aku. Clara bilang mereka nggak bisa mengambil hikmah dari kejadian yang menimpa teman mereka, aku pun juga berpendapat begitu. Sesampainya di dekat kelasku, aku melihat teman-temanku berdiri di luar kelas. Merasa heran, aku menghampiri Georgia sementara aku merasa semua tatapan anak-anak tertuju kepadaku. Aku mengacuhkan mereka dan bertanya kepada Georgia, “Apa yang terjadi?”
Georgia  terlihat bingung sesaat sebelum menjawab, mungkin untuk merangkai kata-kata Bahasa Indonesia yang tepat atau mungkin dia bingung melihatku yang nggak tahu apa-apa sama sekali. “Kau nggak tahu?” tanyanya lambat-lambat. “Kejadian kemarin itu.”
Aku teringat dengan kejadian kemarin. Tawa Clara yang menggelegar di kelas dan didengar oleh semua murid sehingga mereka semua ketakutan. Dan sekarang mereka benar-benar yakin bahwa memang ada hantu di kelas. Juga tatapan teman-teman sekelasku yang tertuju kepadaku adalah tatapan curiga karena aku satu-satunya yang nggak lari ketakutan mendengar suara gaib itu. Sekarang mereka semua akan bertambah keyakinannya bahwa aku berteman dengan hantu.
Tiara maju ke depan dan menatapku dengan pandangan menyelidik yang jelas. “Biangca.” Dia menekankan namaku yang sudah salah dia sebutkan. Kenapa dia selalu salah menyebut namaku sih? “Rasa-rasanya cuma kau sendiri yang nggak merasa takut dengan adanya hantu di kelas kita.”
“Memangnya kalian benar-benar yakin ada hantu di kelas kita?” tanyaku walau itu pertanyaan sia-sia. Semua anak sudah percaya bahwa di kelas ada hantu alias Clara.
Tiara mengangkat alisnya dan memasang wajah serius dan bibir yang dikerucutkan. Cara yang aneh untuk mengeskpresikan tampang serius. “Memangnya kau nggak dengar tawa gaib yang tiba-tiba muncul di kelas kita? Dan anak-anak yang selalu merasa dijahili dengan sesuatu yang tak tampak? Itu semua sudah jadi bukti ada hantu di kelas.”
“Maksudku guru-guru bilang kita terlalu berlebihan dalam berimajinasi. Itu semua pasti karena kita kebanyakan nonton film horor,” kataku mencoba mengelak dari tatapannya. Memang guru-guru pernah bilang begitu, tapi semakin guru nggak mempercayai anak-anak ini, semakin mereka mempercayai bahwa kelas kami ada hantunya.
“Itu karena mereka nggak merasakannya sendiri. Tapi kita semua yang ada di kelas ini sudah sepakat bahwa kelas ini ada hantunya. Kalau kau benar-benar nggak bersekongkol dengan hantu itu, maka kau pasti sepakat juga dengan kami.”
Ketua kelas kami, Andi, maju mendekati kami dan berdehem. “Kami sudah sepakat bahwa kami akan menyewa jasa pengusir hantu pamannya Kak Melanie. Dan yang belum menyepakati ide itu hanya tinggal kau seorang.”
Rasanya lucu kalau Andi memanggil Si Gendut No.1 alias Melanie dengan panggilan ‘Kak’. Bagaimana pun dia lebih tua dari semua murid di sekolah ini. Aku yakin dia hanya menggunakan kata panggilan itu sebagai sikap sopan saja. Si Supradi jelas nggak akan bisa mengusir Clara, karena dia sudah pernah mencobanya di rumahku dan nggak berhasil. Aku melirik ke arah Clara, dia sudah nggak sanggup lagi menahan  tawanya. Aku menghela napas dan berkata, “Baiklah aku juga sepakat.”
Andi mengangguk dan bel tanda masuk berbunyi namun kami semua nggak ada yang beranjak untuk masuk ke kelas. Semuanya saling pandang satu sama lain seperti menunggu seseorang untuk mengambil langkah duluan memasuki kelas. Sebenarnya sih aku mau saja masuk, tapi itu malah akan membuat mereka yang sudah curiga kepadaku menjadi bertambah curiga. Wali kelas kami datang dan langsung memarahi kami karena masih saja belum masuk ke dalam. Memang wali kelas kami adalah wali kelas paling galak di antara wali kelas lainnya.
“Pasti kalian masih takut dengan hantu yang kalian karang sendiri itu ya!?” bentak wali kelas kami sambil berkacak pinggang. “Ayo semuanya masuk!” perintahnya dan tanpa perlu disuruh dua kali kami semua masuk ke dalam kelas.
Aku memberi isyarat kepada Clara agar diam dan nggak menjahili atau berbuat yang aneh-aneh selama kegiatan sekolah berlangsung. Dia jelas nggak mau menuruti perkataanku tapi dia cukup tenang dan hanya menjahili Tiara dengan terus menerus menjatuhkan pensilnya. Raut muka Tiara benar-benar kesal melihat dari tadi pensilnya jatuh melulu padahal dia sangat yakin sekali sudah menaruh benda itu di dalam tasnya. Ternyata Clara memang bersikap keras kepala sama sepertiku.

Rencana kami berdua sehabis pulang sekolah adalah menanyakan informasi mengenai rumahku. Ada beberapa tetangga yang sudah tinggal puluhan tahun di wilayah ini dan aku sudah mendata atau lebih tepatnya Clara yang mendata mereka semua. Rata-rata usia mereka empat puluh tahun ke atas sekarang dan hanya tinggal berdua saja bersama dengan suami atau istri mereka karena kebanyakan anak-anak mereka sudah menikah dan pindah ke tempat lain. Orang pertama yang kami kunjungi adalah Pak Abdullah, umur 56 tahun, pekerjaan pensiunan pegawai negeri. Pak Abdullah tinggal berdua bersama istrinya, Ibu Aminah dan hidup dengan ditunjang gaji pensiunan pegawai yang sedikit tapi cukup untuk memenuhi kebutuhan mereka.
Pertama kali bertemu dengan pasangan suami istri ini, aku langsung mendapat kesan bahwa baik Pak Abdullah dan istrinya ketika masih muda sama-sama merupakan idola. Walau umur Pak Abdullah sudah 56 tahun, namun sisa-sisa ketampanannya masih tampak dari balik wajahnya yang sudah keriput dan rambutnya sudah memutih. Demikian juga Ibu Aminah yang berbeda usia tiga tahun dari suaminya. Dia berjilbab panjang dan nampaknya tipikal wanita desa yang rajin dan cekatan serta sopan. Mereka menyambut kedatangan aku dan Clara dengan senang hati. Mereka bahkan mengajakku untuk makan siang di rumah mereka, namun aku menolaknya dengan halus.
Setelah basa-basi mengenai kehidupan mereka, aku segera menuju ke pokok pembicaraan mengenai masa lalu rumahku. Mereka terlihat mengingat-ngingat dulu selama beberapa menit sampai Pak Abdullah berkata, “Ah ya, saya baru ingat. Pada tahun 1988 saya berumur 33 tahun waktu itu dan istri saya baru saja melahirkan anak bungsu kami. Jadi aku nggak terlalu tahu mengenai kematian salah seorang penghuni rumah itu karena saya harus menemani istri saya di rumah sakit. Namun saya mendengar dari tetangga bahwa yang meninggal itu bernama Claudia atau Clarissa? Saya nggak begitu ingat.”
“Claudia yang meninggal pada waktu itu,” jelas istrinya. “Katanya dia mati mendadak di atas tempat tidurnya.”
Aku membenarkan perkataan Ibu Aminah dan bertanya lagi, “Lalu apa kalian kenal Clara?”
“Clara?” Pak Abdullah malah balik nanya, “Aku nggak tahu. Yang jelas pada waktu itu lelaki penghuni rumah itu, siapa namanya, oh ya Alfred. Nah, si Alfred ini punya dua istri.”
Keterangan bahwa si Alfred punya dua istri menarik perhatianku. Aku nggak tahu bahwa ternyata selain Ibu Angela, Alfred punya istri lain. Jadi aku menanyakan lebih banyak tentang istri kedua Alfred ini.
Butuh waktu yang lumayan lama bagi kedua orang tua itu untuk mengingat. “Entahlah,” kata Pak Abdullah setelah keheningan panjang yang terasa bagaikan setahun. “Aku sama sekali nggak ingat lagi, Nak. Kami sudah tua, ingatan kami nggak setajam dulu lagi. Jangankan mengingat peristiwa 23 tahun silam, peristiwa yang baru terjadi sehari yang lalu saja kami sudah lupa.” Perkataan ini diakhiri dengan tawa riang dari Pak Abdullah.
“Tapi aku rasa kalian nggak setua itu,” ujarku sungguh-sungguh. Aku juga punya kenalan berumur sama seperti mereka, tapi dia masih punya ingatan yang tajam dan fisik yang masih sehat.
“Oh, semua orang punya kapasitas otak masing-masing, Nak,” Pak Abdullah mengeretukkan giginya. “Aku dulu adalah pecandu alkohol dan baru berhenti sepuluh tahun yang lalu. Saraf-saraf otakku telah banyak yang rusak karena benda terkutuk itu. Untungnya aku nggak dibuat mati olehnya. Dan istriku ini dulunya susah tidur jadi dia kecanduan obat penenang. Sekarang pun dia masih memakannya sekali sekali.”
Aku mengangguk dan merasa nggak ada lagi yang bisa dikorek dari dua orang ini. Jadi aku memutuskan untuk pamit dan mengunjungi rumah selanjutnya. Rumah Oma Hellen. Dia keturunan Belanda dan umurnya sudah 75 tahun. Dia tinggal sendirian bersama dengan seorang pelayan yang masih muda bernama Debby. Walaupun sudah berusia lanjut, dia masih sanggup untuk merawat tanaman-tanaman di pekarangan rumahnya yang asri dan indah. Ketika aku berdiri di depan pintu pagarnya, aku bisa melihat wanita tua itu sedang bersantai di depan beranda rumahnya sembari menjahit sebuah sweter.
Dia menyilahkan aku masuk dan pelayannya yang masih muda bernama Debby itu sudah membawa dua cangkir teh ke ruang tamu. Aku kurang suka dengan teh tapi aku berterima kasih untuk itu. Seperti yang dilakukan Clara di rumah Pak Abdullah, dia berkeliaran di sekitar rumah dan memasuki sebuah kamar dekat tangga. Aku memperkenalkan diriku dan langsung mengutarakan maksud kedatanganku ke rumah Oma Hellen. Dia mengangguk-ngangguk sambil tersenyum lalu meminum tehnya.
“Rumah itu,” mulainya setelah meletakkan cangkir teh di atas meja, “memang menyimpan banyak misteri. Alfred dan istrinya Angela merupakan pribadi yang tertutup dan mereka jarang bergaul dengan warga sekitar sini. Mengenai Alfred punya istri lagi, aku tidak begitu tahu karena aku pun juga jarang bergaul dengan warga sekitar sini. Tapi memang nampaknya fakta itu benar karena aku pernah melihat si Alfred berjalan-jalan dengan seorang wanita lain yang jelas bukan Angela.”
“Lalu apa yang Oma tahu tentang anak mereka? Apakah istri kedua Alfred ini punya anak atau nggak?” tanyaku dan melirik-lirik ke arah Clara yang melayang menaiki tangga.
Oma Hellen meminum tehnya lagi dan Debby membawakan teh yang baru. “Hm, coba Oma ingat-ingat dulu. Rasanya istri keduanya ini punya anak, anak perempuan seumuran dengan anak Alfred dan Angela. Siapa nama anak mereka? Claudia? Atau Clarissa?” dahi Oma Hellen semakin kelihatan berkerut.
“Claudia, nama anak mereka Claudia,” ujarku dan menyadari bahwa aku sama sekali belum meminum tehku. Dengan terpaksa aku minum sedikit teh yang sudah mulai dingin itu.
“Ya, ya, nama anak mereka Claudia. Tapi aku sama sekali nggak ingat nama anak dari istri kedua Alfred.” Oma Hellen meminum teh keduanya. “Maaf, aku tidak bisa memberikanmu banyak informasi.”
“Nggak apa-apa Oma Hellen.” Aku memandangi jam dinding, sudah hampir pukul tiga sore. Masih ada satu orang lagi yang harus ditanyai dan aku harus pulang duluan sebelum Ibu. “Kalau begitu saya permisi dulu.”
Aku dan Clara mengunjungi orang terakhir dalam daftar kami. Rumahnya cukup jauh dari rumah Oma Hellen membuat kakiku letih setengah mati ketika sampai di depan pagar rumahnya. Clara sih enak, dia hantu dan hantu nggak bisa merasakan capek. Lagian dia berjalan dengan cara melayang di udara. Seorang wanita membukakan pintu pagar buatku. Wanita ini bermuka pucat dan kerutan di bawah matanya terlihat cukup jelas, padahal mungkin umurnya baru awal 30-an. Aku mengatakan padanya bahwa aku ingin menemui Kakek Dahlan Wijaya dan wanita itu langsung mengernyit heran namun tanpa berkata apa-apa dia mempersilahkanku masuk dan menggiringku menaiki tangga ke lantai atas.
“Kakek Dahlan sedang sakit,” jelas wanita itu tanpa diminta. Dia membuka pintu kamar dan kami berdua masuk ke dalam.
Kakek Dahlan berada di atas tempat tidurnya yang besar. Dia terbatuk-batuk ketika melihat kami datang. Dia benar-benar terlihat sangat tua padahal kata Ibuku umurnya sekitar 60 tahun, tapi di sini dia kayak kakek-kakek umur 80 tahun. Clara pergi ke arah kamar mandi, mungkin dia mencari hantu penghuni tempat tidur Kakek Dahlan yang bersembunyi darinya.
“Kakek, anak ini ingin bertemu dengan Kakek,” ujar wanita yang mengantarku tadi dengan lembut.
Aku tersenyum ke arah Kakek Dahlan dan dia mengernyitkan dahinya ketika melihatku. Wanita itu nggak beranjak dari tempatnya sejak tadi dan terus memperhatikanku dengan tatapan curiga. Aku duduk di tepi tempat tidur kakek dan secara sopan memperkenalkan diriku. Kemudian setelah perkenalan yang nggak dibalas sepatah katapun oleh kakek, aku akhirnya berkata, “Kedatanganku ke sini untuk menanyakan tentang kejadian yang terjadi di rumahku, rumah dimana dulunya ditempati oleh pasangan suami-istri Pak Alfred dan Ibu Angela.”
Sesaat kulihat mata kakek membelalak terkejut sebelum akhirnya dia terbatuk-batuk. Wanita yang sedari tadi diam segera beranjak ke sisi kakek dan memberinya air putih. Aku bisa menarik kesimpulan bahwa wanita ini pelayan Kakek Dahlan atau mungkin anaknya. Kakek itu memandangiku lagi selama beberapa detik dan dia memberi isyarat dengan telunjuknya kepada wanita itu. Si wanita mendekat dan Kakek Dahlan membisikkan sesuatu padanya. Aku nggak tahu apa yang membuat wanita itu terlihat kaget dan menunjukkan raut nggak percaya di wajahnya.
Dan tanpa berkata apa-apa, dia berdiri tegak dan mengisyaratkanku untuk mengikutinya. Kami berdua pergi keluar kamar dan wanita yang belum kuketahui namanya itu menutup pintu kamar dan memandangku sambil menyilangkan tangannya di depan dada. “Aku tidak menyangka bahwa kau ke sini, seorang anak kecil mungkin baru delapan tahun, menanyai tentang masa lalu rumah yang kau tempati itu.”
“Umurku sepuluh tahun!” sanggahku. “Memangnya kenapa tante, tante…,” aku lupa bahwa aku belum tahu namanya.
“Namaku Anni,” ujarnya dingin. “Tapi kakek memberitahukanku ini, bahwa Alfred dan istrinya Angela, punya anak kembar, kakek nggak begitu ingat nama mereka. Dan salah satu dari anak kembar itu meninggal dan satu lagi entah berada di mana dia sekarang, sedangkan istri kedua Alfred, dia punya anak namun anaknya sedang berada bersama paman dan bibinya. Ya kakek cuma tahu itu saja. Dia hanya terkejut melihat kau menanyakan hal yang sekarang sudah tidak dibicarakan lagi.”
Informasi ini cukup berguna. “Kau bilang mereka punya anak kembar, Apa yang satunya namanya Claudia?”
 “Mungkin,” ujarnya kurang yakin. “Yang satu lagi Clarissa barang kali. Tapi kakek benar-benar tidak ingat.”
“Maaf apabila pertanyaan ini membuatmu jengkel, tapi tante ini siapanya Kakek Dahlan?”
“Aku anaknya yang paling bungsu. Pada waktu salah satu kembar itu meninggal aku masih kecil. Namun aku masih ingat dengan cukup jelas ada polisi waktu itu yang datang ke wilayah kami yang nyaman. Ibu Angela berteriak-teriak bahwa anaknya dibunuh dan anaknya yang satu lagi dibawa kabur. Namun semua orang mengatakan bahwa anaknya meninggal secara damai dan mengenai anaknya yang satu lagi, memang anak itu menghilang, tidak ada satupun yang tahu. Aku tidak tahu apa kata polisi mengenai anak mereka yang hilang itu.” Wanita itu terlihat merenung. Namun kemudian memasang tampang dingin lagi. “Mungkin setelah ini kau bisa pulang sekarang. Sudah jam empat dan Ibumu pasti mencarimu.”
Walau masih ingin menggali informasi lagi, aku membetulkan ucapannya dalam hati. Saat aku menuruni tangga kulihat Clara berdiri di depan pintu keluar. Wajahnya terlihat puas sekali. Aku menanyakan hal apa yang membuatnya puas di sepanjang perjalanan pulang, tapi dia nggak mau menjawabnya dan malah mengajukan suatu hal yang membuatku nggak terlalu senang. “Aku sudah bertemu dengan hantu-hantu di ketiga rumah itu. Rumah Pak Abdullah, aku menjumpai tiga, di rumah Oma Hellen aku menjumpai dua dan di rumah Kakek Dahlan aku hanya menjumpai satu padahal kakek itu punya rumah besar dengan banyak kamar, tapi nggak ada satupun hantu yang pernah mendapati tempat tidur di kamar-kamar itu.”
“Bagaimana dengan tempat tidur Tante Anni?” tanyaku. Bila satu tempat tidur nggak ada sama sekali penunggunya, maka tempat tidur itu nggak pernah ditiduri dan belum jadi tempat baru bagi hantu yang nggak punya tempat tidur untuk dihuni. “Lalu kenapa kau ingin mengundang mereka?”
“Dia tidur di sofa kata hantu rumah itu. Wanita aneh.”
Sesampainya di rumah, aku melihat Ibu yang baru turun dari mobilnya. Aku mendekatinya dan Ibu terlihat heran mengapa aku berada di luar karena aku memang jarang terlihat berada di luar oleh Ibu pada jam segini. Aku berbohong bahwa aku keluar karena merasa bosan di rumah dan akhirnya memutuskan untuk berjalan-jalan. Ibuku nggak menanyakan hal itu lebih lanjut. Baru saja kami masuk ke dalam rumah, telepon berdering. Ibuku pergi untuk mengangkatnya dan aku pergi ke kamarku.
Di kamar, Clara menjelaskan dengan lebih terperinci kenapa dia mengundang hantu-hantu dari ketiga tempat itu. “Hantu-hantu itu telah ada ketika peristiwa itu terjadi. Mungkin mereka mengetahui juga sesuatu tentang misteri rumah ini.”
Aku mengangguk paham. “Benar juga. Aku nggak berpikir ke situ. Tapi apa aku harus menyediakan makanan dan minuman untuk mereka? Menyan atau darah ayam hitam mungkin?” aku nggak bermaksud menyindir dengan perkataan terakhir itu, tapi Clara kayaknya merasa tersindir.
“Uh!” Clara menggembungkan pipinya, membuat dia terlihat menggelikan. Kau pasti berpikiran yang sama denganku kalau kau melihatnya secara langsung. Maksudku dengan mata yang hanya sebelah, tanpa alis, muka melepuh dan bibir yang pecah-pecah. Tiba-tiba aku teringat dengan mimpi yang kudapat di ruangan di bawah tempat tidurku. Seorang berjubah dan bertopeng mencungkil bola mata seorang anak yang dijadikan korban ritual. Aku benar-benar penasaran siapa anak itu, tapi aku yakin aku akan tahu nanti. “Kami nggak makan dan minum yang begituan!” ujar Clara. Dari suaranya dia terdengar sangat terhina sekali dengan perkataanku tadi.
“Ya maaf deh. Habisnya kupikir asap kemenyan yang sering dipakai dukun-dukun itu untuk kalian para hantu,” kataku berusaha membela diri.
Clara menggeleng cepat. “Nggak, itu salah. Kami hantu, kami nggak makan atau minum. Kau hanya tinggal menyediakan tempat saja dan ingat pertemuan ini dimulai tepat tengah malam. Sebenarnya aku menolak,  tapi mereka maunya jam segitu, jadi aku dengan terpaksa mengikuti kemauan mereka.”
“Apa pertemuan ini akan lama?”
“Nggak. Rata-rata dari mereka masih hantu tingkat lima walau ada juga yang tingkat enam. Mereka yang masih tingkat lima nggak bisa pergi jauh lama-lama jadi kami sepakat bahwa pertemuan ini mungkin hanya akan memakan waktu sejam atau dua jam saja.”
Aku mengangguk dan teringat kalau aku belum makan dan mandi. Terdengar suara teriakan dari Ibuku yang menanyakan apa aku sudah makan. Jadi aku turun ke bawah bersama Clara. Walau hantu nggak makan atau minum, Clara sering menemaniku makan. Pokoknya sekarang dia menemaniku ke mana saja kecuali ke kamar mandi. Sepertinya kami sudah jadi teman akrab sekarang. Ya, teman akrab.

Guncangan pelan di bahuku membuatku terbangun dari tidur. Aku membuka mataku dan melihat senyum lebar Clara. “Sudah waktunya. Mereka sebentar lagi datang,” ujarnya.
Aku menguap lebar dan mengucek-ngucek mata. “Oh, sudah tengah malam?”
Clara mengangguk senang. “Oh, aku rasa mereka sudah sampai.”
Perkataan Clara memang benar. Sesosok hantu menembus pintu kamarku diikuti dengan sosok lainnya. Mataku nggak berkedip dan kantukku lenyap seketika tatkala aku melihat banyak hantu disekitarku. Ada dua hantu anak-anak, tiga hantu orang dewasa, dan satu hantu nenek-nenek. Ditambah Clara jumlah hantu di kamarku menjadi tujuh. Belum pernah aku melihat begitu banyak hantu dalam satu ruangan seperti sekarang. Mereka semua menatapku yang terbengong-bengong melihat kedatangan mereka. Clara memperkenalkan satu persatu hantu-hantu tersebut. Untuk lebih mempermudah penjelasan kalian aku membuat daftar dari hantu-hantu tersebut.
Daftar Hantu Undangan Clara
1.      Kevin. Hantu anak umur delapan tahun dan berwajah sinis serta sombong, mengingatkanku dengan Tiara versi cowok. Cuma bedanya Kevin punya wajah yang tampan. Sayang dia masih begitu muda untuk meninggal. Dia berasal dari rumah Oma Hellen, mungkin saja dia cucunya Oma Hellen. Dia meninggal pada tahun 1987, persis setahun sebelum Claudia meninggal. Dia meninggal dengan damai di atas tempat tidurnya, makanya penampilannya nggak menyeramkan.
2.      Kemala. Hantu anak-anak yang berusia lima tahun. Tragis, dia dibunuh dengan cara disekap dengan kain oleh Ibunya yang ternyata sakit jiwa. Dia meninggal pada tahun 1983, lima tahun sebelum Claudia. Dia berasal dari rumah Pak Abdullah yang baru kuketahui punya saudara gila hingga tega membunuh anaknya sendiri.
3.      Septiadi atau Septian. Hantu berumur 23 tahun. Dulunya bekerja di bagian marketing di sebuah perusahaan tapi meninggal karena tertabrak mobil pada tahun 1986, dua tahun sebelum Claudia. Karena nggak mau kembali ke alam baka, dia kembali ke tempat tidurnya sendiri dan dia merupakan hantu dari rumah Oma Hellen. Septian bilang dia masih punya ikatan saudara dengan Oma dan tinggal sebentar di rumahnya. Karena korban kecelakaan, dia punya banyak luka dan darah kering terlihat menghiasi sebagian wajah dan beberapa anggota tubuh lainnya.
4.      Kristi Evita. Hantu perempuan berumur 27 tahun dan bekerja di bank. Meninggal pada tahun 1985 sebagai korban pembunuhan dan juga perkosaan oleh sekelompok preman. Dia nggak punya tempat untuk dihuni dan nggak mau kembali ke alam baka, jadi dia menunggui salah satu tempat tidur di salah satu kamar yang nggak pernah terpakai di rumah Pak Abdullah. Masih terlihat pisau yang menancap di dadanya dan juga goresan memanjang di tangan dan kakinya. Dan dia juga nggak berhenti-hentinya menangis.
5.      Marcus Syahwan. Hantu laki-laki berperawakan gendut tapi sikapnya seperti seorang pejabat berumur 35 tahun. Dia dulunya adalah seorang pengusaha muda yang sukses. Dia meninggal pada tahun 1986 karena makanan yang diantar ke kamarnya ternyata telah diberi racun mematikan. Dia terbilang baru di rumah Pak Abdullah karena di tempat tidurnya di rumahnya sendiri telah ditempati hantu lain yang jauh lebih kuat darinya sehingga dia terpaksa pindah dan pilihannya jatuh ke salah satu kamar tidur di rumah Pak Abdullah yang ternyata masih memiliki tempat tidur yang nggak berpenghuni (dari sini aku mulai berpikir berapa kamar kosong dan tempat tidur yang nggak pernah terpakai di tempat Pak Abdullah).
6.      Nenek Mira. Dia merupakan Ibu dari Kakek Dahlan. Ibu Kakek Dahlan meninggal pada tahun 1984 di usia 68 tahun dengan tenang di tempat tidur yang sekarang dipakai Kakek Dahlan yang sedang sakit dan hantu Ibunya ternyata selalu menemaninya. Nenek Mira benar-benar hantu yang baik dan sopan khas hantu nenek-nenek lainnya. Dan dari semua hantu yang diundang Clara, cuma Nenek Mira yang aku sukai.
“Oke, semuanya sudah berkumpul.” Clara memberi isyarat kepada kami semua untuk memulai acara. Dia berdehem dan berkata, “Kalian semua sudah mati sebelum terjadi peristiwa di rumah ini. Bisa kalian ceritakan apa saja yang kalian ketahui mengenai rumah ini kepada Bianca?” Clara layaknya sudah seperti presenter di TV.
“Aku nggak suka dia!” suara cempreng Kevin terdengar. Dia memandangku sinis dari bawah sampai atas. “Untuk apa kita harus memberikan dia informasi?”
“Agar kita secepatnya dapat memecahkan misteri ini Kevin,” ujar Clara dengan penekanan pada nama Kevin. Kevin hanya menjulurkan lidahnya ke arah Clara.
“Aku melihatnya langsung!” kali ini si kecil Kemala yang berbicara. “Aku lihat ada polisi datang dan ada seorang anak perempuan, oh bukan dua anak perempuan!”
Jelas Kemala masih terlalu kecil untuk ditanyai hal-hal seperti ini. Aku bingung kenapa Clara mengundangnya ke sini, tapi aku tersenyum saja mendengar perkataannya. Kevin pun nampaknya mengibarkan bendera perang kepadaku, jadi aku juga nggak akan menanyainya. Aku memandang Septiadi. Hantu pemuda 23 tahun itu memandangku dengan matanya yang sayu. Darah kering yang masih membasahi wajahnya membuatku agak sedikit ngeri juga. “Apa yang Kak Septian ketahui tentang rumah ini?”
“Nggak banyak,” jawabnya datar. “Aku sudah mati ketika peristiwa itu terjadi. Ibu Angela dan suaminya Alfred memang punya anak kembar, Claudia dan yang satu lagi….” Dia terlihat bingung untuk sesaat, “Entahlah, aku nggak tahu, Clarissa barang kali. Dan yang meninggal itu Claudia, tapi entah kenapa aku rasa bukan dia yang meninggal dengan tenang pada waktu itu.”
“Oh ya?” aku mulai tertarik berbicara padanya. “Teruskan.”
“Claudia dan kembarannya itu sangat mirip sehingga agak susah dibedakan. Tapi hanya perasaanku saja tapi aku yakin bahwa yang meninggal itu bukan Claudia dan yang hilang itu bukan kembarannya. Bisa jadi yang meninggal itu kembarannya Claudia sedangkan yang hilang itu Claudia.”
“Aku sudah bertemu dengan hantu Ibu Angela dan dia sangat yakin bahwa yang meninggal itu Claudia bukan kembarannya,” kataku dan Kak Septiadi langsung bingung.
“Mungkin,” sela Marcus, “Ibu Angela dipaksa untuk mengakui bahwa yang meninggal itu adalah Claudia.”
Aku menoleh ke arah Marcus. “Siapa yang memaksanya? Dan untuk apa?”
“Ini hanya pendapatku saja tapi Ibu Angela takut pada suaminya, Alfred. Buktinya dia tidak marah sama sekali ketika Alfred beristri lagi. Sejak dulu ada rumor bahwa Alfred nggak menyukai anaknya Claudia, karena anak itu kerjanya cuma bisa bikin onar dan malu keluarga.”
“Itu tidak mungkin,” sergahku. “Kata pembantu rumah yang dulunya bekerja kepada mereka, Claudia adalah anak yang pintar melukis dan sering dapat juara melukis. Nggak mungkin si Alfred ini nggak menyukainya!” tentu saja semua orang tua ingin anaknya berprestasi dan apabila memang si Alfred nggak suka pada anak yang berprestasi, pastilah dia sudah kurang waras.
“Tapi seingatku yang pintar melukis itu kembarannya. Aku lupa namanya, seingatku dia memang jarang keluar dan bergaul dengan penduduk sekitar.” Septiadi, Kristi dan Nenek Mira mengangguk membenarkan.
Aku menanyai mereka yang lainnya lagi, tapi tetap saja nggak terlalu banyak membantu. Setelah hampir dua jam mereka di sini, mereka pun pamit pulang. Sebenarnya aku ingin menanyai mereka tentang ritual yang dilakukan oleh seseorang di rumah ini, tapi sepertinya aku tetap harus menyembunyikan hal itu dulu sampai semuanya menjadi lebih jelas. Aku kembali beranjak untuk tidur pada jam dua lewat lima belas ketika sebuah suara isakan memilukan dan kata-kata ‘Ibu, Ibu kenapa kau melakukan ini?’ kembali terdengar untuk kedua kalinya dari ruang bawah di kamarku. Clara pergi mengantar tamu-tamunya ke tempat mereka masing-masing dan aku sendirian di kamar ini bersama suara dari hantu korban ritual. Aku menyembunyikan diriku di dalam selimut dan merasakan seluruh tubuhku bergetar karena ketakutan. Suara itu kemudian lama-lama semakin pelan dan kemudian lenyap, sama seperti yang pernah terjadi.
Suasana kamar kembali menjadi senyap.

Pagi harinya aku merasakan bahuku kembali diguncang-guncang. Ketika aku membuka mata dengan susah payah, aku melihat Ibu yang tengah berkacak pinggang menjulang di hadapanku. “Bangun, Bianca!” ujarnya sambil menarik selimutku. “Ini sudah jam setengah tujuh lho, entar terlambat ke sekolah lagi!”
Mendengar kata jam setengah tujuh, mataku langsung melek. “Wah, aku terlambat!” pekikku dan segera berlari ke arah kamar mandi. Sial! Kalau aku nggak tiba di sekolah setengah jam lagi, maka aku nggak akan diperbolehkan masuk. Padahal hari ini ada ulangan!
Aku menyelesaikan mandi, berganti pakaian,dan sarapan dalam waktu dua belas menit. Rekor baruku sudah tercipta. Aku menyuruh Ibu untuk lebih cepat karena lima menit lagi pagar sekolah akan ditutup. Ibuku memarahiku di sepanjang perjalanan ke sekolah yang untungnya nggak memakan banyak waktu. Dia menyalahkanku atas hal ini karena aku yang terlambat bangun dan mengira bahwa aku mungkin punya penyakit sulit tidur atau insomnia yang langsung aku sanggah. Sampai kapanpun aku nggak akan pernah mau punya penyakit kayak gitu. Aku sampai di sekolah tepat pada saat satpam kami hendak menutup pagar. Aku langsung menyelinap masuk dan berlari ke kelas.
Hal itu terjadi beberapa jam yang lalu dan sekarang aku sedang berada di taman sekolah dekat dengan lapangan olahraga. Aku sedang berusaha menyusun kesimpulan dari semua informasi yang kudapat baik dari manusia maupun dari hantu. Kupandangi lagi buku catatanku dan meneliti setiap cerita dari mereka semua. Rata-rata mereka semua memberikan informasi yang sama seperti bahwa Alfred dan Ibu Angela punya anak kembar dan Alfred menikah lagi. Tidak ada yang menyebut-nyebut tentang ritual. Pasti ritual itu benar-benar disembunyikan dengan sangat baik dari perhatian orang-orang. Namun setelah lebih kuteliti lagi aku menemukan sebuah fakta yang menarik.
Dari semua orang dan hantu yang kutanyai. Mereka menyebut nama Clarissa di samping nama Claudia. Beberapa dari mereka berpendapat bahwa saudara kembar Claudia bernama Clarissa tapi dengan nada yang nggak yakin. Aku jadi bingung beberapa saat sampai keterangan dari Pak Marcus menarik minatku. Dia bilang bahwa kembaran Claudia itu orangnya sangat tertutup dan jarang bergaul dengan warga. Mungkin itulah penyebab kenapa Clarissa dilupakan orang. Kau tentu melupakan sesuatu yang nggak terlalu kau kenal dalam hidupmu kan? Maka dari situ kutarik kesimpulan bahwa saudara kembar Claudia itu bernama Clarissa.
Mungkin Paman Bibir Tebal tahu mengenai ini. Dia kan sudah berada di rumah itu selama enam bulan sebelum kematian Claudia terjadi. Dia pasti menyembunyikan sesuatu dan aku akan memaksanya untuk ngomong yang sejujurnya.
Sehabis jam pelajaran terakhir dan guru kami sudah keluar kelas, Andi maju ke depan dan mulai berdehem, tanda dia akan ngomong panjang dan serius. “Sesuai dengan rencana kita. Kita akan mendatangkan pengusir hantu untuk mengusir hantu jail yang menganggu kita. Sekarang, sudah waktu pulang sekolah. Pengusir hantu itu akan datang sebentar lagi.”
Aku lupa dengan rencana kelas kami untuk mengusir Clara dari sini. Namun yang mereka datangkan adalah seorang pengusir hantu yang sama sekali nggak bermutu. Clara yang sedari tadi di sampingku, hanya bisa tertawa terkikik-kikik melihat anak-anak begitu bersemangat untuk mengusirnya dengan menggunakan jasa pengusir hantu lemah yang konyol. Suara ribut-ribut anak-anak segera hilang ketika dua orang yang sudah kukenal memasuki ruangan kelas bagai selebriti memasuki red carpet. Si Supradi dan asistennya Jalil.
“Saya bisa merasakan,” kata si Supradi tanpa basa-basi dan matanya jelalatan melihat sekeliling ruangan kelas. “Anak-anak lebih baik kalian keluar. Hantu yang menghantui kelas ini sangat kuat.”
Teman-temanku nggak perlu disuruh dua kali untuk keluar dan pintu  kelas langsung ditutup dengan Jalil . Semuanya keluar, kecuali aku yang masih terpaku di tempat dudukku dengan senyum kecil yang menghiasi wajahku. Si Supradi langsung melotot begitu melihatku ada di sini dan entah kenapa dia marah. “Anak kecil yang sama lagi!” dia berkacak pinggang, “Ibumu benar-benar tidak waras! Dia marah hanya karena kami menyampah di dalam rumah.”
“Ibuku nggak gila!” aku berdiri dan ikut-ikutan berkacak pinggang. “Justru kalian yang gila! Siapa pun pasti akan marah kalau melihat ada orang asing yang menyampah di rumah mereka!”
Perkataanku malah membuat si Supradi bertambah marah. Dia menggeram dan mukanya menunjukkan ekspresi kalau dia mau menerkamku. “Dasar anak kurang ajar! Kau tahu kalau bukan kami yang menyampah! Hantu di rumahmu itu yang melakukannya dan aku berjanji kalau dia ada di sini maka aku akan mengirimnya ke alam baka!”
“Ah, nggak mungkin bisa!” aku tertawa kecil, merasa bahwa anak-anak yang berkumpul di luar pada melihat kami dari jendela dengan tampang bingung campur takut. Bingung dengan aku yang berani menantang pengusir hantu tersebut dan takut dengan kemarahan si pengusir hantu yang mukanya udah memerah seperti setan.
Clara menampakkan dirinya dengan cara merangkak di langit-langit. Darah yang keluar dari luka akibat tusukan dua pisau itu menetes satu demi satu di depan wajah si Supradi, membuat dia menoleh ke atas. Matanya serasa akan keluar dari rongganya ketika melihat Clara menempel di langit-langit. Clara menyeringai menampakkan gigi-gigi taringnya yang berwarna hitam kemudian dia meludah di kepala Supradi.
Ludah Tiara menjadi api kecil yang membakar sebagian rambut Supradi dan dia langsung panik setengah mati. Jalil segera membantunya dengan menyiram sebotol air mineral ke kepalanya. Clara dan aku sama-sama tertawa puas, benar-benar asyik mengerjai pengusir hantu ini. Clara melempar bola mata kanannya dengan keras dan berhasil menimpuk kening si Jalil. Jalil yang pendiam, mengambil benda yang menimpuknya dan langsung terkejut karena benda itu adalah bola mata. Si Supradi yang sudah basah, segera duduk bersila dan mulutnya komat-kamit membaca mantra. Tangannya dia satukan di depan dada. Clara nggak membiarkan meditasi si Supradi berjalan dengan tenang. Dia segera melompat dan megeluarkan  taringnya yang panjang kemudian mencakar badan Supradi. Kontan Supradi kaget dan dia berjalan mundur bersama Jalil ke arah pintu. Anak-anak yang sedari tadi mengintip dari jendela, terkejut melihat dua pengusir hantu yang nampaknya ketakutan.
Clara menyerang lagi. Kali ini dia melompat dengan cepat dari satu sudut kelas ke sudut yang lain. Itu semua dilakukan dengan sangat cepat, membuat dua pengusir hantu itu bingung dan pusing. Aku mulai tegang. Apa yang akan dilakukan Clara? Clara berhenti tepat di depan mereka dan menyemburkan cairan berwarna kuning pucat ke arah dua orang itu. Aku tahu cairan itu. Itu cairan yang bisa membuat kulit manusia melepuh. Bersyukurlah karena dua pengusir hantu itu memakai baju panjang, tapi tetap saja membuat mereka berteriak kepanasan. Namun itu semua juga belum cukup buat Clara. Dia mencakar kedua orang itu dengan ganas. Baju mereka koyak-koyak, darah mereka mulai keluar dari badan dan juga muka mereka.
Anak-anak yang melihat dari luar berteriak ketakutan dan beberapa anak perempuan menutup mata nggak sanggup melihat adegan pencakaran gaib di depan mata mereka sendiri. Jujur, aku juga takut. Clara benar-benar jahat dan sadis! Seharusnya dia nggak melakukan sampai sejauh itu, itu sudah keterlaluan! Aku ingin menghentikannya, tapi, aku menggigit bibir. Aku nggak bisa menghentikan Clara! Clara nggak mau disuruh berhenti apabila dia sedang melakukan hal yang dia sukai.
Si Supradi dan asistennya segera berlari keluar kelas dengan banyak cakaran di tubuh mereka. Mereka benar-benar nggak berdaya dan beberapa anak yang berusaha mengejar mereka langsung terpekik kaget ketika melihat mereka jatuh dari tangga. Andi, yang juga ikut mengejar mereka langsung turun dari tangga dan menghampiri kedua orang itu. Ternyata dua pengusir hantu itu telah meninggal. Tubuh Supradi menimpa tubuh asistennya, Jalil. Mereka pasti saking tergesanya nggak menyadari bahwa kelas kami berada di lantai dua dan mereka nggak melihat adanya tangga dan akhirnya jatuh.
Aku mendengar tentang meninggalnya dua orang itu dan aku langsung melotot ke arah Clara yang hanya menutup mulutnya. “Lihat akibat perbuatanmu!” Aku benar-benar marah kepadanya dan juga kepada diriku sendiri karena nggak berani menghentikan perbuatannya tadi. “Sekarang mereka berdua meninggal!”
“Tapi bukan aku yang mendorong mereka dari tangga!” bela Clara. “Mereka jatuh sendiri!”
“Ya, tapi kau kan yang mencakar mereka. Mereka sebenarnya sudah sekarat dan tanpa sadar mereka jatuh dari tangga!” aku menunjuk-nunjuk Clara dengan marah. Untung saja semua anak sedang tersedot ke arah tangga tepatnya ke arah dua pengusir hantu yang meninggal itu. Aku masih dapat mendengar suara orang-orang yang panik dan ribut di luar sana.
Clara hanya diam saja tapi kembali bersuara dengan keras sekali sampai menggetarkan seisi kelas, “Aku benci mereka! Mereka sangat sok sekali seakan-akan mereka pengusir hantu yang paling hebat, tapi ternyata mereka nggak bisa apa-apa! Menyebalkan sekali orang seperti itu!” 
Aku diam saja mendengar pernyataan Clara. Bukan nggak bisa membantah perkataannya, hanya takut akan kemungkinan bahwa dia juga nggak akan segan-segan menyakitiku. Aku masih teringat dengan perkataan Ibu Angela mengenai Clara. Itu membuatku bergidik.
Clara membuang muka dari hadapanku dan akhirnya menghilang meninggalkanku yang masih terpaku di tempat.

Rasanya sudah lama sekali aku nggak bertemu dengan Ibu Angela. Mungkin benar kata Clara kalau dia dan suaminya adalah hantu nomaden, suka berpindah-pindah tempat. Clara nggak ada di sampingku, aku bahkan nggak bisa merasakan hawa kehadirannya yang biasanya bisa kurasakan dengan mudah. Sepertinya dia nggak ada di rumah ini, mungkin dia pergi ke suatu tempat. Dia masih marah kepadaku dan aku nggak yakin berapa lama dia seperti itu. Aku merasa jadi kesepian karena biasanya pada jam segini aku berbincang-bincang dengan Clara mengenai masalah hantu dan rencana kami.
Aku nggak tahu apa yang akan terjadi di sekolah besok. Yang jelas berita kematian dua pengusir hantu itu akan jadi bahan pembicaraan semua warga sekolah dan masuk ke surat kabar. Karena bosan, aku membuka laci-laci meja belajarku dan menemukan sesuatu yang sempat kulupakan. Sebuah artikel koran bertanggal 29 September 1988 tentang seorang istri yang menderita penyakit kejiwaan membunuh suaminya sendiri. Tahunnya sama dengan kematian Claudia, tapi sampai sekarang aku belum tahu bulan dan tanggal tepatnya Claudia meninggal. Mungkin Paman Bibir Tebal tahu. Aku akan menanyakannya pada saat acara minum teh sore. Ibu pasti bertanya-tanya kenapa aku ikut minum teh bersama karena biasanya aku selalu menolak kalau diajak untuk minum teh sore. Aku nggak terlalu suka teh, tapi kalau acara itu diganti jadi acara minum milkshake sore, mungkin aku akan dengan senang hati mengikutinya.
Sayangnya acara minum teh itu sudah ada sejak nenekku masih kecil dan aku kurang yakin apa sudah ada milkshake pada jaman dia masih kecil.
Paman Bibir Tebal selalu datang untuk minum teh sore bersama Ibu walau sore itu hujan lumayan lebat. Dia datang bersama anak bungsunya, Adi, atau harus kupanggil Kak Adi untuk menjaga kesopanan. Aku berkata kepada Ibu bahwa aku juga akan ikut acara minum teh dan Ibuku seperti terkena serangan jantung mendengarnya. Ya ampun, Ibuku itu memang terlalu berlebihan. “Aku hanya menyiapkan tiga teh dan karena kau mau ikut, aku harus menyiapkannya juga untukmu. Seharusnya kau bilang lebih awal, Bianca.” Ibuku mengambil gelas lain dari dalam lemari dapur. “Panas atau dingin?”
“Biasanya kalian minum teh panas atau dingin?”
“Kami yang sudah tua ini lebih suka teh panas, apalagi di waktu hujan lebat ini.” Aneh rasanya Ibuku mengakui kalau dia sudah tua dan perkataannya yang pertama tadi benar-benar nggak penting untuk dibicarakan. Kalau seandainya aku membatalkan niatku untuk minum teh bareng, apa Ibu akan kesal karena tehku sudah terlanjur dibuat?
“Baiklah kalau begitu aku minta teh panas,” kataku dan berjalan menuju ruang tamu. Sudah ada Paman Bibir Tebal dan Kak Adi. Ini untuk kedua kalinya aku bertemu Kak Adi dan wajahnya tetap datar dan menyebalkan. Paman Bibir Tebal tersenyum kepadaku. “Nggak biasanya aku melihatmu sore-sore begini.”
Aku mengambil posisi duduk di kursi di sebelah Kak Adi. “Ya, aku akan ikut acara minum teh sore.”
“Tumben sekali.” Paman Bibir Tebal memandangku heran. “Kata Ibumu kau nggak suka dengan tradisi ini.”
“Seingatku Kak Adi juga baru pertama ini ikut acara minum teh sore,” cibirku. Kak Adi hanya diam saja. Tampangnya yang sok nggak berdosa itu benar-benar nggak enak untuk dipandang. “Lagian apa paman nggak punya kerjaan sehingga tiap hari harus ikut tradisi turun temurun keluarga Ibuku ini? Mana istri paman? Kenapa dia nggak marah paman pergi ke sini untuk minum teh dengan Ibu dan dia nggak paman ajak?” aku menanyainya dengan sindiran yang sangat jelas.
Muka Paman Bibir Tebal memerah karena malu. Ibu datang membawa nampan berisi empat cangkir teh dan mengedarkannya ke kami. Dia sendiri duduk menghadap Paman Bibir Tebal dan Kak Adi. Aku ingin tahu apa yang dibicarakan Ibu dengan Paman Bibir Tebal kalau sedang minum teh sore.
“Hari ini hujan cukup lebat dan Anda masih bisa datang. Saya sangat menghargainya,” kata Ibuku memulai pembicaraan. Dia tersenyum manis sekali.
Muka Paman Bibir Tebal memerah dan aku tahu dia terpesona dengan senyum Ibuku. “Nggak apa-apa Bu.  Ini sudah jadi semacam tradisi yang entah kenapa saya menyukai tradisi ini.” Paman Bibir Tebal juga tersenyum pahit sekali.
Apa-apaan ini? Nggak mungkin kan Paman Bibir Tebal menyukai Ibuku? Jarak umur mereka bagiku terlalu jauh! Ibuku berumur 33 tahun, sedangkan Paman Bibir Tebal 49 tahun! Jelas aku nggak akan sudi dia menjadi ayah tiriku! Selain itu mukanya nggak bisa disejajarkan dengan aktor-aktor semacam Leonardo di Caprio ataupun Orlando Bloom atau Christian Sugiono. Bahkan disejajarkan dengan Sule pun, dia sama sekali nggak pantas. Belum lagi pertimbangan bahwa Adi akan menjadi kakak tiriku. Bayangkan pemuda dingin dan cuek itu? Aku sama sekali nggak mau! Dan aku juga yakin Ibuku nggak akan mau disukai olehnya. Ha! Cinta Paman Bibir Tebal bertepuk sebelah tangan!
“Tadi ada dua orang yang meninggal di sekolah Bianca.” Ibuku memulai ceritanya. Aku memang menceritakan hal itu kepadanya. “Mereka adalah pengusir hantu dan berniat untuk mengusir hantu di kelas Bianca. Namun mereka keluar dari kelas dengan muka dan tubuh penuh cakaran dan akhirnya jatuh dari tangga.”
Paman Bibir Tebal menunjukkan muka prihatin, sementara Kak Adi masih tetap nggak berekspresi. “Kasihan sekali. Memangnya benar ada hantu di kelasmu Bianca?” dia sekarang menoleh ke arahku.
Aku mengangkat bahu dan menjawab sekenanya, “Kata teman-temanku ada hantu. Tapi aku nggak pernah dijahili oleh hantu.”
“Saya tidak percaya dengan hantu, Pak Kasim. Bagaimana dengan Anda?” Ibuku mengipasi tehnya yang masih panas. Aku pun baru teringat bahwa nama Paman Bibir Tebal adalah Kasim. Baiklah, aku akan mengingat nama itu.
“Dibilang percaya mungkin juga, tapi selama saya hidup saya nggak pernah melihat hantu secara langsung.” Paman Bibir Tebal atau Pak Kasim berhenti untuk meminum tehnya. Kemudian dia melanjutkan, “Namun saya yakin mereka berada di antara kita.”
Ibuku mengangguk dan berpaling ke arahku. “Kenapa kau nggak minum tehmu?”
“Tehnya masih panas,” jawabku santai. Memang benar kok tehnya masih panas.
“Bianca, teh itu tidak akan terasa enak lagi kalau sudah dingin,” Ibuku mengingatkan.
“Tapi tehnya masih panas, Bu. Aku nggak mau mengorbankan lidahku.” Aku menjulurkan lidah ke arah Ibu dan Ibu langsung melotot.
“Hah, Bianca anak yang lucu ya?” Paman Bibir Tebal tertawa kecil. Aku berpaling kepadanya dan ingin memprotes apa yang dikatakannya, tetapi Ibuku keburu memotong.
“Dia bukannya lucu, dia anak yang nggak sopan dan sedikit kurang ajar juga keras kepala. Saya rasa itu pasti keturunan ayahnya.” Ibuku sendiri juga keras kepala, tapi dia nggak mau mengakuinya.
Percakapan ini berlanjut dengan pembicaraan tentang politik. Aku nggak tahu Paman Bibir Tebal tahu banyak tentang politik karena wajahnya sama sekali nggak menunjukkan apapun tentang itu. Aku malah berpikir bahwa Paman Bibir Tebal hanya lulusan SMP makanya dia bekerja sebagai pelayan dan sekarang penjaga rumah ini. Kak Adi nggak berbicara dari tadi dan hanya memandangi Ibu dan Paman Bibir Tebal mengobrol.
Ada jeda sesaat ketika Ibu dan Paman Bibir Tebal minum teh mereka yang ketiga sore itu. Jeda ini adalah kesempatanku untuk menanyai kapan persisnya Claudia meninggal. “Paman Kasim,” mulaiku yang akhirnya dapat juga memakai namanya dalam percakapan, “Begini, aku ingin tahu lebih banyak tentang kematian Claudia. Kapan tepatnya dia meninggal?”
“Bianca!” seru Ibuku. “Kenapa kau menanyakan itu?”
Wajah Paman Bibir Tebal terlihat kaget mendengar pertanyaanku, tapi dengan tenang dia menjawab, “Kalau kau benar ingin tahu. Nona Claudia meninggal tanggal 25 September 1988. Memangnya kenapa?”
“Nggak ada apa-apa,” kataku berbohong. Aku meminum tehku yang memang sudah dingin dan memikirkan perkataan Paman Bibir Tebal. Tanggal di koran adalah 29 September 1988 sedangkan Claudia meninggal tanggal 25 September 1988. Kira-kira apa hubungan dari kedua hal ini? Aku mencoba menghubungkannya tapi rasanya nggak ada hubungannya sama sekali. Mungkin memang nggak ada hubungannya, tapi kenapa artikel koran itu disimpan di kardus barang bukti?
Semua ini jadi semakin sulit.

Malam harinya aku duduk-duduk di teras di belakang rumah yang terdapat sebuah pohon besar yang sangat familiar bagiku karena aku melihatnya setiap hari dari jendela di dekat tempat tidurku dan setiap bangun aku melongok dari jendela untuk melihat adakah tanda-tanda Ibu Angela akan datang.
Clara nampaknya masih ngambek jadi dia nggak ada di sampingku, membuatku bertambah bosan. Nggak ada sama sekali yang bisa kuajak ngobrol di sini. Ibu selalu menyuruhku untuk bergaul dengan anak-anak di wilayah ini namun aku sama sekali nggak tertarik. Sepertinya aku lebih baik bersosialisasi dengan hantu daripada dengan manusia nyata. Entah berapa lama aku terdiam ketika sesosok hantu muncul di depanku. Aku hampir terjungkang kebelakang melihat hantu itu yang tiba-tiba muncul dan rasanya samar-samar aku kenal wajahnya walau sebagian wajah itu telah rusak dan berdarah-darah.
“Akhirnya aku bisa juga menemuimu,” ujar hantu wanita tersebut. “Hantu yang selalu mendampingimu itu sedang tidak ada jadi aku bebas untuk bicara denganmu.”
“Siapa ya?” aku menunjuk sambil mengangkat sebelah alisku dan dia terlihat sangat kesal dengan kelakuanku.
“Masa kau tidak kenal? Aku Ibu Rahayu yang mati karena kecelakaan,” jawabnya sambil menggeram.
Sekarang baru aku ingat siapa dia. Ibu Rahayu, si gelandangan dan orang gila yang suka berkeliaran di wilayah ini ketika masih hidup. “Ibu kan yang berteriak-teriak di depan rumahku? Apa yang Ibu maksud dengan kutukan pada waktu itu?”
“Rumahmu ini mengandung kutukan. Istri kedua Alfred, pemilik terdahulu dari rumah ini adalah tukang sihir! Dia sangat jahat dan sampai sekarang dia masih hidup dan polisi tidak tahu dia berada di mana.” Ibu Rahayu mendengus dan berbicara lagi, “Selain itu dia juga gila. Dia tega membunuh Alfred, suaminya sendiri.”
Aku terbelalak saking terkejutnya mendengar informasi yang sangat baru dari Ibu Rahayu. Ternyata dia tahu lebih banyak mengenai pemilik terdahulu rumah ini. “Darimana Ibu tahu mengenai hal itu?”
Dia sekarang menampakkan wajah puas karena akhirnya aku sudi untuk mendengarkannya. “Tentu saja aku tahu. Istri kedua Alfred, Marsita, adalah saudaraku. Bisa dibilang dia adalah kakak tertuaku. Kakakku menikah muda dengan suaminya yang terdahulu yaitu pada usia 18 tahun dan pernikahan itu dirahasiakan dari keluarga karena kakakku hamil di luar nikah. Jadi kakakku menyusun rencana bahwa dia akan menikah di Singapura tanpa sepengetahuan ayah dan ibu dan hanya aku saja yang tahu rencana itu. Ayah dan ibuku hanya tahu bahwa kakakku melanjutkan kuliah di Singapura. Dua tahun kemudian, kakakku kembali ke Indonesia dan memberitahuku bahwa dia dan suaminya sudah bercerai dan dia juga sudah punya anak perempuan yang sekarang dirawat oleh paman dan bibi di sana. Dia tidak mungkin membawa anaknya ke Indonesia karena orang tua kami pasti akan tahu. Dia juga sudah menyuruh paman dan bibi untuk tidak memberitahukan perihal anaknya kepada siapa pun. Setelah dia berada di Indonesia selama seminggu, dia kembali pulang ke Singapura.” Hantu Ibu Rahayu menghentikan ceritanya, dia mengeluarkan suara tangisan yang aneh dan kemudian kembali melanjutkan ceritanya, “Aku nggak bertemu lagi dengan kakakku selama sepuluh tahun setelah itu, namun pada akhirnya dia pulang bertepatan dengan tahun baru. Namun dia jadi aneh. Dia mulai berbicara mengenai ritual kuno dan lembaran sakramen yang kami semua tidak mengerti. Terkadang dia mengurung diri di kamar sambil membaca sesuatu dalam bahasa asing, Inggris dan Latin menurutku, dan matanya selalu kosong. Aku tidak tahu bagaimana caranya dia bisa bertemu Alfred, yang jelas Alfred menyukainya dan mengajaknya menikah. Waktu itu usia kakakku sudah mencapai 30 tahun sedangkan Alfred 39 tahun. Pada waktu itu Juni tahun 1987, mereka menikah. Ternyata aku baru tahu bahwa Alfred sudah punya istri namanya Angela dan mereka pun sudah dikaruniai anak kembar, Claudia dan Clarisa. Tapi si Angela ini kayaknya pasrah saja melihat suaminya menikah lagi begitu pula anak-anaknya walau aku merasa ada kebencian tersendiri di mata Claudia. Dan akhirnya Alfred mengajak kakakku tinggal bersama dia dan istri pertamanya serta anak-anaknya dalam satu rumah.”
Cerita ini sangat menarik. Aku rasa ini sangat membantu dalam menghadapi teka-teki misteri rumah ini. Jadi sejauh ini kakak Ibu Rahayu, Marsita jadi aneh setelah sepuluh tahun nggak pulang ke Indonesia. Mungkin dia adalah dalang dari adanya pelaksanaan ritual kuno di rumahku. Pasti lembaran sakramen yang dicuri orang itu merupakan miliknya. “Terus apa yang terjadi?” tanyaku nggak sabar mendengar kisah berikutnya.
Ibu Rahayu duduk di sebelahku dan mulai bercerita lagi, “Kakakku menceritakan kepada Alfred bahwa dia sudah pernah menikah dan punya anak perempuan berumur 12 tahun yang tinggal di Singapura. Seperti yang dia lakukan padaku, dia tidak mau memberitahukan nama anaknya, entah kenapa. Kehidupan mereka sangat baik pada awalnya. Kakakku dan Angela bisa berhubungan dengan baik begitu pula dengan Clarissa, tetapi Claudia tetap nggak menyukai kakakku. Walau semenjak menikah dengan Alfred, kakakku jauh dariku, dia masih sempat untuk menelponku atau mengirim surat, namun awal tahun 1988, aku kehilangan kontak dengannya. Aku pernah menulis surat kepadanya bahwa ayah dan ibu meninggal karena kecelakaan kereta api ketika hendak berangkat ke Madiun, namun surat itu nggak pernah dibalas sedangkan kakakku tidak mengirimkan alamat rumah barunya kepadaku. Aku menikah dengan mantan suamiku bulan September dan ketika aku membaca surat kabar langganan mantan suamiku, aku melihat di salah satu artikel mengenai seorang istri yang membunuh suaminya dan di situ terpampang nama dan foto kakakku. Menurut koran itu kakakku masih dalam pengejaran polisi dan sampai sekarang belum ditemukan keberadaannya. Aku sama sekali nggak tahu harus mencari dimana kakakku itu, entah dia masih hidup atau sudah mati.” Dia mengakhiri kisahnya dengan tangisan keras yang memekakkan gendang telingaku.
“Jadi, bagaimana dengan anaknya yang berada di Singapura? Apa sekarang dia masih berada di sana?”
Dia berusaha untuk menahan tangisnya sebelum menjawab, “Aku pernah menghubungi paman dan bibiku di Singapura dan mereka mengatakan bahwa kakakku sudah membawanya ke Indonesia awal September 1988. Ketika aku menanyai siapa nama anaknya, mereka nggak mau menyebutkannya karena mereka dipaksa kakakku untuk nggak memberitahukan identitas anaknya kepada siapapun.” Setelah mengatakan itu dia menangis keras-keras lagi.
Aku diam sambil memandangi hantu Ibu Rahayu. Wanita yang malang, aku jadi merasa sangat jahat karena mengejeknya gila dan nggak punya otak serta pscyho. Dia datang ke sini dan memberikan aku informasi berharga ini. Sekarang misteri ini semakin jelas. Memang benar bahwa Clarissa adalah kembaran Claudia dan istri kedua Alfred punya anak perempuan berumur 12 tahun, walau belum diketahui namanya. Dan juga ritual kuno itu dilakukan oleh kakak Ibu Rahayu. Pasti wanita itu juga yang membuat ruang rahasia di bawah kamarku. Mungkin dia melakukan ritual itu bersama anggota sekte lainnya pada saat semua orang di rumah lagi pergi, atau mungkin dia punya jalan lain ke ruangan itu?
Tiba-tiba aku teringat dengan mimpi yang kudapat di ruang bawah tanah itu. Sekumpulan orang memakai jubah hitam dan topeng. Kemudian seorang anak perempuan yang juga dipasangi topeng bersama dengan selusin orang berjubah hitam dan bertopeng datang. Anak itu dibaringkan di tempat tidur di ruangan itu dan seorang dari selusin orang itu maju dan menusuk anak itu. Mengambil mata dan organ tubuh lainnya dari anak itu. Pada waktu itu aku melihat semuanya itu dari jarak jauh dan anak itu dikerubungi oleh orang-orang sehingga aku nggak berhasil melihat wajah anak itu ketika topengnya dilepas.
Kalau aku berbaring di tempat tidur di ruang bawah tanah itu lagi, akankah aku mendapat mimpi yang sama yang mungkin bisa memperjelas semuanya. Apakah orang berjubah dan bertopeng yang menusuk anak itu adalah kakak Ibu Rahayu? Dan apakah anak yang dijadikan tumbal itu adalah Claudia, Clarissa, atau malah mungkin anaknya sendiri?
Satu lagi teka-teki yang harus dipecahkan.
TBC...